Diwarnai Listrik Padam, Maulid Adat Gumantar Tetap Semarak

Meski listrik tidak menyurutkan semangat warga membawakan Tarian Elok Balang pada Maulid Adat di Desa Gumantar Kecamatan Kayangan KLU, Selasa (12/11) malam.  (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Maulid Adat Gumantar dilaksanakan setiap tanggal 15 Rabiul Awwal Hijriyah (kalender Islam). Tahun ini, pelaksanaan itu bertepatan dengan tanggal 13 November 2019.

Maulid Adat di Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan bersamaan hari pelaksanaannya dengan Maulid Adat di Masjid Kuno, Bayan. Pelaksanaan keduanya, sedikit belakangan dengan Maulid Adat Wet Sesait, yang melaksanakan acara pada 12 Rabiul Awwal.

Umumnya Maulid Adat, prosesi yang dilaksanakan warga bersifat seremonial. Acara ini mengandung banyak filosofi. Salah satu dan yang paling utama adalah silaturahmi. Pada momentum Maulid Adat ini, hampir semua keluarga besar masyarakat adat berkumpul. Mereka menunaikan nazar.

Sebelum acara puncak, sanak saudara masyarakat adat dari berbagai wilayah di KLU berkumpul dengan keluarganya di Gumantar.

Di Desa Gumantar, pelaksanaan maulid dipusatkan di dua lokasi. Yaitu, Desa Beleq dan Dusun Gumantar. Pada malam hari, masyarakat adat Dusun Gumantar menggelar Tari Elok Balang. Sedangkan acara puncak pagi harinya, dipusatkan di Desa Beleq.

“Maulid adat dilaksanakan pada tanggal 15 Rabiul Awwal (purnama) sama dengan Bayan. Sesait sedikit lebih maju karena dilaksanakan pada 12 Rabiul Awwal,” ungkap tokoh adat setempat, Narsudin.

Anggota DPRD KLU ini mengatakan, penanggalan maulid adat tidak lepas dari kondisi zaman dahulu. Di mana sesepuh adat saat itu menentukan tanggal 1 Rabiul Awwal secara kasat mata. Awal bulan hijriyah terlihat pada hari ketiga diukur dari bulan sabit yang bisa dilihat. Penanggalan tidak menggunakan teknologi sebagaimana rukyat yang dilakukan pada masa kini. Namun demikian, perbedaan tanggal maulid adat antar wet adat tidak menjadi perdebatan antar masyarakat adat.

Pantauan pada Selasa, 12 November 2019 malam, Dusun Gumantar banyak dikunjungi warga. Maulid adat ini memiliki daya tarik wisata, karena memiliki keunikan. Salah satunya, Tari Elok Balang. Tarian yang mendapat juara pada Pekan Apresiasi Budaya (PAB) Kabupaten ini dilaksanakan oleh masyarakat adat. Dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, bersama-sama melakukan Tari Elok Balang.

Halaman Kampu Adat Gumantar dipenuhi oleh warga penari adat. Mereka mengelilingi gamelan Gong Gerantung dengan berjejer membentuk beberapa barisan. Penari laki-laki umumnya di barisan depan, ada pula barisan laki-laki yang dipisah secara khusus.

“Tarian ini sendiri sebenarnya dilaksanakan bersamaan dengan pentas peresean. Hanya saja, karena listrik pada malam itu, maka peresean ditiadakan,” sambung Narsudin.

Kondisi listrik padam ini sendiri cukup membuat kecewa pengunjung. Mereka tidak bisa menyaksikan tarian secara jelas kecuali dengan bantuan lampu LED Handphone.

“Sayang sekali, seandainya listrik menyala kita bisa melihat kumpulan orang lebih banyak melakukan gerakan tarian yang sama,” ucap pengunjung, Idham.

Sebagai catatan, sampai waktu menunjukkan pukul 23.00 WITA, Tarian Elok Balang masih berlangsung. Sedangkan listrik di KLU malam itu, baru menyala pukul 00.30 WITA. Sebelum listrik menyala, sebagian pengunjung sudah menarik diri dari lokasi acara.

Bagi Narsudin, maulid adat mengandung makna kekeluargaan. Ketika ada gawe adat seperti maulid adat, semua pengunjung yang datang diperlakukan sebagai anggota keluarga. Hal ini tidak lepas dari antusiasme masyarakat adat yang menjadikan maulid adat sebagai peringatan menyambut hari lahirnya Nabi Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman, penuntun umat.

“Menyambut maulid adat, persiapan awal dilakukan dengan mengumpulkan bahan baku sembako masing-masing beras 1 kg dan uang Rp 20 ribu. Seserahan itu kemudian dikumpulkan dan dipergunakan untuk menyambut tamu pada hari puncak,” tandasnya. (ari)