Ruang Pasar Hotel Belum Terbuka, Kesenian Gamelan Butuh Difasilitasi

Penabuh gamelan di KLU sudah uzur. Pelaku seni ini butuh regenerasi dan diharap diberikan kesempatan tampil di setiap event, sehingga menumbuhkan minat generasi muda untuk ikut melestarikannya. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Kesenian tradisional berupa gamelan dan tari masih dilestarikan oleh sebagian masyarakat Kabupaten Lombok Utara (KLU). Hanya saja, kesenian ini masih belum banyak diminta oleh pasar khususnya pasar wisata (perhotelan).

Kondisi itu menarik atensi pelaku seni gamelan asal Dusun Prawira, Gamelan Joget Gandrung. Ketua Gamelan, Raden Kertajaya Wangsa, Rabu, 11 September 2019 malam lalu, mengakui permintaan hotel terhadap kesenian tradisional masih relatif sedikit. Ia membayangkan, apabila setiap hotel memberi ruang kepada pelaku seni untuk tampil, maka kesenian diperkirakan akan terakomodir.

“Dampak (tampil) sangat besar sekali, akan menarik minat generasi muda untuk berlatih gandrung,” kata Kertajaya, usai tampil di Hotel Wilson.
Menurut dia, pola regenerasi di masing-masing kelompok gamelan berbeda. Ada yang fokus melestarikan dengan menciptakan regenerasi. Tetapi kondisi itu bisa saja tidak ditemukan di kelompok lain karena kurangnya minat dan kesadaran anak muda setempat.

Di Gamelan Gandrung Prawira, pihaknya sudah melibatkan anak-anak muda dari usia SMP dan SMA. Setiap Sabtu malam, anak-anak dilatih. Pada malam libur sekolah dan ada kontrak dengan hotel, mereka dilibatkan.
“Kami tampil tergantung permintaan hotel. Malam Minggu besok kami diminta oleh Sira Beach, pernah juga di Oberoi dan Lombok Lodge,” sambungnya.

Namun diyakini Kertajaya, tidak semua gamelan punya akses yang sama untuk disewa oleh perhotelan. Kontrak kepada pelaku seni sangat bergantung pada relasi.
Kertajaya sendiri menginginkan, agar seluruh gamelan di KLU ini dihimpun dalam satu wadah Asosiasi Gamelan. Asosiasi inilah yang nantinya menghubungkan anggota kelompok seni dengan hotel.

“Harapan ke depan, supaya di KLU ini ada wadah asosiasi kesenian gamelan. Asosiasi itu punya wadah yang membawa aspirasi dan menghubungkan ke pasar hotel, karena belum semua punya kesempatan yang sama untuk tampil,” paparnya.

Gamelan Gandrung Prawira diyakini Kertajaya adalah gamelan tertua di Lombok Utara. Usia gamelan diperkirakan lebih dari 100 tahun. Sebelum ia lahir, gamelan sudah ada dan diwariskan secara turun temurun.

Baginya, menciptakan regenerasi dan kelestarian kesenian tradisional harus diimbangi dengan aspek ekonomi para penabuh gamelan. “Secara umum, anak muda kita harap bisa bangkit dengan kesadaran sendiri, asalkan kesempatan tampil ada, dan mendukung ekonomi keluarga. Apalagi tiap malam Minggu bisa tampil di KLU, maka akan menarik minat anak muda,” tandasnya. (ari)