Tradisi Lebaran Topat di Lobar, Perpaduan Adat, Budaya dan Religi

Bupati dan istri bersama Wabup saat nyekar di makam Bartulayar sebagai salah satu ritial inti lebaran topat

Giri Menang (Suara NTB) – Lebaran topat (ketupat red) menjadi tradisi turun-temurun masyakarat Lombok umumnya dan Lombok Barat khususnya sejak dahulu kala. Perayaan Lebaran Topat ini merupakan perpaduan tradisi masyarakat sasak di hari ketujuh pada Bulan Syawal 1440 Hijriyah dengan budaya lokal serta religi. Lebaran yang oleh masyarakat Suku Sasak disebut juga dengan Lebaran Nine (Perempuan, red) ini biasanya dijadikan penutup setelah menunaikan ibadah puasa sunnah Syawal.

Dihari lebaran ketupat ini, masyakarat suku sasak mengunjungi banyak tempat yang dianggap mempunyai nilai-nilai sakral. Terutama mengunjungi makam-makam yang dianggap keramat, masyarakat Muslim Suku Sasak menggelar do’a dan ruwah (ruwatan) yang sering kali disebabkan oleh kaul (janji, red) demi menghormati leluhur atau cikal bakal dakwah Islam di Pulau Lombok. Di makam yang dianggap keramat itu, biasanya perayaan Lebaran Topat digandeng dengan prosesi ngurisang (potong rambut bayi, red) atau bahkan syukuran sunatan untuk anak-anak mereka.

Saat ini, prosesi budaya tersebut sudah bergeser tidak hanya menjadi prosesi ritual kebudayaan, namun menjadi event plesiran keluarga pasca puasa di bulan Ramadhan dan puasa Syawal. Di Lobar sendiri lebaran topat dipusatkan di pantai duduk Senggigi. Prosesi sakral ini diawali dengan prosesi ziarah makam oleh Bupati Lobar H Fauzan Khalid didampingi istri bersama Wabup Lobar Hj Sumiatun dan camat Batulayar, para pemangku adat, tokoh agama.

Di makam Batulayar, Bupati bersama Wabup melaksanakan nyekar.  Ziarah kubur ini juga masuk dalam acara inti perayaan lebaran ketupat. Didampingi sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama Bupati menggelar doa di makam tersebut. Menurut Bupati, ziarah kubur merupakan proses standar yang harus masuk dalam perayaan Lebaran Topat. Selain itu, ada proses dulang pesaji yang berisi makanan ketupat yang dimakan oleh para tamu. Setelah prosesi nyekar, Bupati dan wabup menuju lokasi acara perayaan lebaran topat menggunakan cidomo yang sudah dihias. Sekitar beberapa menit perjalanan menggunakan cidomo bersama Wabup,  rombongan bupati pun tiba di lokasi acara dan disambut oleh tokoh adat diiringi tarian rudat dan dikalungkan sorban. Di lokasi acara, Bupati dan wabup telah ditunggu oleh para tamu undangan.

Sebelum prosesi puncak lebaran topat, diawali dengan tarian Praja topat Agung disuguhkan oleh para penari. Setelah Penampilan seni Tari ini dilanjutkan dengan penjemputan peraje topat Agung yang dipimpin oleh pemucuk diiringi oleh terune dedare yang membawa ceret, pisau pemotong ketupat dan piranti lainnya sebagai simbol dimulainya even Lebaran Topat.  Selanjutnya pemotongan ketupat dilakukan oleh bupati dan menyerahkan potongan ketupat ke mantan bupati Lobar. Lalu dilanjutkan pemotongan ketupat oleh wabup dan menyerahkan potongan ketupat ke Plt sekda NTB. Pemotongan ketupat dilanjutkan dengan buka tambolaq pesaji,  prosesi ini menjadi tanda berakhirnya rangkaian tradisi lebaran topat.

Menurut Pemerhati Budaya, Sahnan kegiatan even lebaran ketupat yang diadakan Pemda Lobar dinamakan Lebaran Adat, karena lebaran ini sudah dianggap Kiai Sasak. Lebaran ini diadatkan dan masuk dalam unsur religi warga Lombok. Lebaran ini jelasnya menjadi tradisi, di dalamnya terkandung berbagai makna. Misalnya, tradisi lebaran ini dipentaskan dalam bentuk seni trali. Trali disini artinya tradisi dan religi, dimana tradisi ini adalah kesenian bernuansa lokal sedangkan religi bernuansa agama.

Kadis Pariwisata Lobar,  Ispan Junaidi  M.Ed mengatakan berbagai prosesi lebaran topat ini menggambarkan budaya dan religi. Diawali dengan prosesi naik codomo dari kantor camat Batulayar menuju makam Batukayar untuk melaksanakan ziarah makam. Ziarah makam ini sebuah prosesi sakral budaya yang diwarisi turun temurun. Dimana budaya bercodomo ini sudah jarang dilakukan oleh anak cucu. Seperti halnya budaya begau (membajak tanah) yang dulu menggunakan alat tradisional kini sudah ditinggalkan dan memanen padi dengan rangkap (alat tradsional). “Jika ini tidak dipertahankan dan dilestarikan maka akan punah,”jelas dia.

Lalu prosesi “begibung” menyantap hidangan dulang pesaji sebagai salah satu spirit membangun kebersamaan dan “sopoq angen” seluruh kekuatan etnis dan entitas membangun Lobar. Diharapkan spirit ini bukan saja sebagai tuntunan hidup namun juga tontotan budaya. Sehingga dua fungsi dari lebaran topat ini, sebagai tuntutan membangun karakter dan sebagai tontonan yang unik dilihat oleh para wisatawan. Lebaran topat ini kata dia menggambarkan Lobar sebagai miniature masyarakat yang toleran, tergambar dari adanya pure dibagian sebelah barat Senggigi, sebelah timur ada makam Batulayar. (her)