Ratusan Ogoh-ogoh Diarak

Beberapa di antara Ogoh-ogoh yang diarak di jalan protokol Kota Mataram, Rabu, 6 Maret 2019 pada perayaan hari raya Nyepi bagi umat Hindu di Mataram. (Suara NTB/mhj)

Mataram (Suara NTB) – Menjelang hari raya Nyepi tahun baru caka 1941/2019 Masehi yang jatuh pada Kamis, 7 Maret 2019, lebih dari seratus ogoh-ogoh mengikuti parade di sepanjang Jalan Pejanggik. Ogoh-ogoh itu diarak berkeliling dalam  pawai di Kota Mataram.

Pembukaan parade ogoh-ogoh berlangsung meriah. Kepadatan mulai nampak di kawasan Cakranegara mulai pukul 07.00 Wita. Pantauan Suara NTB, suasana semakin ramai menjelang pukul 11.00 Wita. Tidak hanya diramaikan dengan aneka ogoh-ogoh yang siap untuk berparade, namun kawasan tersebut juga diramaikan para pedagang dan pengunjung.

Ketua Panitia Ogoh-ogoh dan Pecaruan, Anak Agung Made Jelantik Agung mengatakan, ada 123 ogoh-ogoh dari  Kota Mataram. Sebanyak 10 ogoh-ogoh dari Lobar dan Lombok Tengah 2 ogoh-ogoh. “Ini yang tercatat di panitia tapi kalau melihat situasi dan kondisi seperti ini bisa lebih,” ujar  Anak Agung, Rabu (6/3).

Selain dari jumlah ogoh-ogoh yang banyak, Anak Agung mengatakan ogoh-ogoh ini dalam pandangan agama Hindu dan sastra itu sebagai sebuah perlambang daripada bhutakala yang juga perlambang kejahatan manusia.

Baca juga:  Mudik Lebaran, Basarnas Siagakan Personel

“Kalau kita lihat secara fisik ogoh-ogoh ini kan tampaknya seram.  Jadi manusia itu harus mengabaikan cermin daripada ogoh-ogoh ini,” katanya.

Setelah parade ogoh-ogoh yang star di depan Kantor Kelurahan, Cakranegara Barat akan dilanjutkan dengan upacara pecaruan dipusatkan di Taman Mayura, Kota Mataram. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan sebelum pelaksanaan Nyepi dimulai.

“Bertujuan untuk perlambangan memberikan sebuah persembahan agar bhutakala tidak mengganggu masyarakat dalam pelaksanaan hari raya ini,” jelas Anak Agung.

Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh membuka parade tersebut mengungkapkan toleransi dan keharmonisan antarumat beragama di Kota Mataram selama ini terjaga dengan baik. Di nilai Kota Mataram yang merupakan komposisi penduduk sangat heterogen, baik dari agama dan suku.

“Inilah semangat yang harus kita pelihara, kita jaga terus karena umat Hindu dan umat yang ada di Kota Mataram ini bagian dari masyarakat yang memberikan konstribusi yang besar,” ujar Ahyar Abduh.

Dia mengajak masyarakat Kota Mataram yang tidak melaksanakan Nyepi untuk memberikan dukungan dan menjaga kondusivitas Kota Mataram serta menjaga semangat kebersamaan agar pelaksanaan Nyepi bisa berjalan lancar.

Baca juga:  Ramadhan Ajarkan Empati Sosial, Gubernur Santunani 1.015 Pasukan Kuning

Lanjut Ahyar, berpesan khusus umat Hindu di Kota Mataram agar melaksanakan Catur Brata yang terdiri atas amati geni (tidak menghidupkan sumber cahaya), amati karya (tidak beraktivitas atau bekerja), amati lelungan (tidak berpergian keluar rumah) dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan) dengan khidmat.

“Api tidak boleh menyala, terutama api yang ada dalam diri kita harus bisa padam. Amati lelanguan, tidak ada hiburan supaya khidmat, tidak ada liburan atau keluar. Tapi juga jangan main Hape,” tuturnya.

Hadir dalam pembukaan parade tersebut, selain Walikota, antara lain Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi NTB, Ketua PHDI Kota Mataram, Ketua Krama Pura NTB, Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu Provinsi NTB, Danrem 162/WB, Wakapolda NTB, Kapolres Kota Mataram, Ketua Panitia ogoh-ogoh dan Pecaruan serta OPD Kota Mataram. (mhj)