Lembah Pusu, Pantai Pelosok dengan Ombak Kelas Dunia

Bima (Suara NTB) – Wilayah Selatan Kabupaten Bima punya gugus pantai yang eksotik. Pasir putih meliuk mengikuti garis pantai dan dibatasi perbukitan hijau.  Pemandangan indah itu ada di Lembah Pusu, Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima.

Lembah Pusu terletak di Desa Pusu, sebuah perkampungan terpencil yang diapit pegunungan dan perbukitan. Daerah dataran terhubung langsung ke pantai yang menjorok Samudera Hindia.

Pantai ini memang terdengar masing sangat asing, apalagi di sejajarkan dengan sejumlah objek wisata tetangga, seperti Teluk Waworada, Pantai Lariti dan Pantai Pink di Sape.

Namun soal panorama, pendapat sebagian pengunjung bersaing dengan sederet nama pantai yang sudah tenar lainnya, seperti Tanjung Aan  atau Mandalika Lombok Tengah.

Bulir pasir benar benar putih di sepanjang garis pantai sejauh sekitar 10 kilometer,  dibatasi perbukitan hijau dengan hutan yang masih asri. Bukit seolah menjadi sekat untuk garis pantai lainnya  yang juga berpasir putih.

Sementara di lepas pantai, ombak bergulung dengan ketinggian dua sampai tiga meter. Sangat ideal untuk memacu adrenaline olahraga selancar atau surfing.

Menurut tokoh pemuda Desa Pusu, Iskandar, pantai itu belum digarap maksimal untuk jadi destinasi wisata. Namun pamornya sebenarnya sudah sampai ke telinga wisatawan asing.

Baca juga:  Tetapkan 99 Desa, Tahun Ini Pemprov Awali dengan 20 Desa Wisata

“Kalau masuk pertengahan April, biasanya ombaknya bagus untuk surfing. Wisatawan dari Pantai Lakei Dompu biasanya banyak ke sini pakai Speed boat,” kata Iskandar.

Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Mataram yang mengajar di SMP di Desa Pusu ini mengaku sedang berpikir dengan para pemuda setempat untuk membentuk kelompok sadar wisata. Ia merasa berkepentingan untuk mengelola keindahan pantai itu untuk jadi objek wisata andalan di Kabupaten Bima.

“Apalagi ombaknya kelas dunia, karena sudah mulai banyak bule datang tanpa kita ketahui, karena mereka datang lewat laut,” sebutnya.

Jika ombaknya kelas dunia, garis pantainya menurut Iskandar tidak kalah eksotik untuk tujuan wisata. Meski berhadapan dengan Samudera, namun keberadaan karang di lepas pantai menjadi pemecah arus sehingga ombak yang sampai ke tepi pantai lebih tenang.

 Wisatawan asing diketahuinya sudah melirik lahan lahan di sana untuk dimiliki dan direncanakan untuk membangun villa dan hotel. “Di daerah dataran dekat pantai, sampai ke bukit bukit, sudah ada bule  yang datang survey,” ungkapnya.

Baca juga:  Tetapkan 99 Desa, Tahun Ini Pemprov Awali dengan 20 Desa Wisata

Hanya saja, diakui pantai belum terawat dengan baik, masih tertutupi ampas rumput laut yang digerus ombak ke pantai. Jika sudah dikelola menjadi objek wisata, ia meyakini akan menopang kesejahteraan masyarakat setempat yang masih menggantungkan mata pencaharian dari sektor perikanan dan pertanian.

Kepala Desa Pusu, Abdul Hamid juga mengakui keindahan pantai itu sudah banyak dilirik wisatawan. Terbukti, lahan lahan di sana sudah dilirik wisatawan asing. Namun ia meyakinkan kepada warga, agar tidak menjual lahannya, kecuali disewakan kepada pelaku wisata atau pelaku usaha bidang wisata.

Kendala  untuk pengembangan objek wisata di sana diakuinya akses jalan. Selama ini, belum ada wisatawan yang melalui jalur darat karena kondisi jalannya rusak parah karena hanya berupa pangerasan.

“Jalannya baru dibuka 2013 lalu, itu pun baru pengerasan saja, belum aspal. Makanya jarak tempuh bisa  sampai tiga jam  dari pusat kecamatan Langgudu,” jelasnya.

Sehingga ia sangat berharap kepada  Pemerintah Kabupaten Bima untuk membangun akses jalan tersebut. (ars)