Festival Tambora 2018

Ribuan Massa Semarakkan Pawai Budaya di Dompu

Dompu (Suara NTB) – Ribuan massa dari berbagai kalangan berkumpul di lapangan beringin Setda Dompu, Rabu (4/4) sore. Kehadiran mereka dengan mengenakan busana saremba dan ketente tembe itu dalam rangka semaraknya pawai budaya, serangkaian dengan hari jadi Dompu ke 203 dan Festival Tambora (FT) 2018. Berbagai atribut dan kesenian budaya lain pun turut meramaikan even tahunan ini.

Wakil Bupati Dompu, Arifuddin, SH, dalam sambutannya menyampaikan, setiap tanggal 11 April wilayah ini akan menyelenggaran even berskala nasional yakni FT dan tahun 2018 ini bertepatan dengan hari jadi Dompu, berbagai kegiatan telah dan akan dilaksanakan, seperti sepeda santai, pameran pembangunan teknologi tepat guna (TTG) dan hari ini pawai budaya dengan menghadirkan ribuan peserta dari berbagai latar belakang agama, suku dan budaya.

“Memeriahkan FPT 2018 pemerintah Kabupaten Dompu bersama pemerintah Provinsi NTB serta Kabupaten/Kota se-Pulau Sumbawa telah merancang berbagai kegiatan untuk suksesnya FPT dan hari jadi Dompu ini,” ungkapnya.

Pawai budaya dengan menekankan peserta mengenakan busana saremba dan katente tembe itu diharapkan mampu membangun hubungan yang harmonis di tengah kehidupan bermasyarakat, sehingga kondusivitas daerah dapat tetap terjaga untuk mendukung pembangunan di daerah.

Selain itu, pawai budaya ini juga dimaksudkan untuk memberi motivasi terhadap masyarakat untuk mengembalikan budaya daerah sebagai salah satu obyek yang menjadi daya tarik wisata. Terlebih menanamkan kesenian daerah pada anak-anak, generasi muda dan masyarakat umum.

Paguyuban keluarga Jawa se-Kabupaten Dompu saat menampilkan atraksi budaya di HUT Dompu ke 203, Rabu, 4 April 2018.

“Disamping itu kegiatan ini kita jadikan momentum yang tepat untuk melestraikan, menata kehidupan dalam pergaulan sosial. Aman dan berbudaya

bagi masyarakat dan generasi muda,” harapnya.

Pun tak kalah penting, Arifuddin mengajak generasi muda, budayawan, pemerhati seni budaya dan masyarakat umum untuk menjaga ketahanan budaya dan kesenian daerah yang religius berbasis kerakyatan, terlebih menjunjung tinggi nilai ketuhanan dan hargai setiap perbedaan yang ada.

“Saya juga mengajak agar kita selalu memahami, menghargai satu sama lain dan mari kita jalin tali silaturrahmi diatas batas nilai moral, etika agama dan budaya. Bukan dengan kekerasan dan hal negatif lainnya,” harap dia.

Sekda NTB, Ir. H. Rosiady Sayuti, M. Sc, P. Hd yang hadir membuka kegiatan itu mengapresiasi semangat ribuan peserta pawai budaya untuk menyemarakkan hari jadi Dompu ke 203 tahun ini. Harapannya, ini menjadi awal yang baik untuk melihat kejayaan Dompu dan NTB umumnya.

Tidak kalah penting, lanjut dia, ialah bagaimana mempererat tali silaturrahim antar sesama, sehingga kesatuan dan persatuan masyarakat NTB dapat semakin erat meski tengah menghadapi pilkada. “Meskipun ada pilkada namun semangat kesatuan dan persatuan tidak boleh terganggu. Kondusifitas yang ada mari kita pertahankan,” harapnya, kemudian membuka kegiatan tersebut secara resmi.

Pantau Suara NTB di lapangan, pawai budaya yang melibatkan berbagai kalangan dari berbagai suku dan agama tersebut berlangsung merih. Beberapa kilometer peserta ambil bagian menampilkan atraksi budayanya masing-masing, seperti hal kecimol, berbagai tarian kesenian budaya khas Dompu, kesenian Jawa, Padang dan lainnya.

Namun, yang baru pada acara pawai budaya tahun 2018 ini diikuti oleh atraksi barongsai oleh Persatuan Muslim Tionghoa Indonesia (PITI) dan atraksi kesenian dari masyarakat Sumba NTT. (jun/ula/*)