Buja Kadanda, Tarian Prajurit Asli Bima

Mataram (Suara NTB) – Bima memiliki banyak kesenian tradisional yang dapat dilestarikan. Salah satunya Tari Buja Kadanda. Tarian ini menggambarkan dua prajurit yang sedang berperang. Biasanya dibawakan oleh dua orang penari pria berpakaian prajurit bersenjatakan tombak dan perisai.

Tarian ini diawali dengan tabuhan dari musik pengiring. Kemudian para penari dengan membawa senjata memberi salam kepada para penonton. Setelah itu para penari melakukan gerakan tari dengan gaya masing-masing.

Gerakan dalam tarian lebih didominasi oleh gerakan bela diri yang dipadukan dengan gerakan tari. Dalam tarian ini kedua penari melakukan gerakan saling menyerang dengan menggunakan tombak atau tongkat.

“Konon katanya tarian ini dulu dilakukan oleh prajurit, ” kata Penari asal Bima, Nadya, di Mataram, Senin, 5 Maret 2018.

Dalam pertunjukan Tari Buja Kadanda ini diiringi oleh alunan musik tradisional seperti gendang, gong, serunai dan tawa-tawa. Iringan musik tersebut dimainkan dalam dua irama yang berbeda yaitu irama lambat dan irama cepat. Irama lambat untuk mengawali dan mengakhiri pertunjukan dan irama cepat untuk mengiringi penari saat bertarung.

Untuk melakukan tarian ini tentunya dibutuhkan keahlian khusus dalam seni bela diri. Karena pada dasarnya gerakan saling serang kedua penari terlihat sangat natural dan sangat cepat. Sehingga penari yang bertahan harus tahu ke mana arah serangan itu datang. Dalam babak ini musik pengiring memainkan irama bertempo cepat, sehingga membuat pertunjukan terasa lebih hidup.

Di akhir pertunjukan alunan musik diperlambat lagi sebagai tanda bahwa pertujukan segera berakhir. Kemudian kedua penari berangkulan dan memberi salam kepada para penonton yang menyaksikan.

“Sekarang sudah mulai jarang yang melalukan tarian ini. Palingan pada acara-acara resmi di pemerintahan,” ujarnya.

Seiring dengan perkembangan zaman, Tari Buja Kadanda terbilang mulai jarang dipertunjukkan. Kurangnya ruang atau kesempatan untuk pertunjukan merupakan salah satu faktor utamanya.

Namun kesenian ini masih tetap dilestarikan dan dikembangkan di beberapa sanggar yang ada di Bima. Perlu perhatian pemerintah dan masyarakat agar kesenian tradisional ini tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya.  (lin)