Saremba Tembe, Tarian Asal Dompu yang Perlu Dilestarikan

Mataram (Suara NTB) – Provinsi NTB memiliki banyak kebudayaan dan kesenian yang dapat dilestarikan. Salah satunya kesenian yang perlu dilestarikan adalah Tari Saremba Tembe asal Kabupaten Dompu. Ini merupakan salah satu kesenian yang seringkali dipertontonkan pada acara-acara budaya dan acara resmi lainnya.

Belum lama ini, tari kolosal ini berhasil mendapatkan rekor Muri dengan jumlah peserta tari kreasi terbanyak di Indonesia. Dalam bahasa daerah Bima atau Dompu, Saremba Tembe berarti mengenakan sarung seperti selempangan. Sehingga tarian ini dilengkapi dengan kain atau sarung yang digunakan sebagai ornamen atau alat untuk menari.

“Tarian ini memang banyak dipertontonkan pada acara resmi. Sebenarnya ini memang kesenian dari Dompu yang dibuat seperti kolosal. Tariannya bagus dan sangat menghibur,” kata penari Saremba Tembe Nadia, di Mataram, Senin, 26 Februari 2018.

Tarian kolosal Saremba Tembe ini sebenarnya merupakan tarian garapan baru yang dipadukan dengan menggunakan kain (Tembe) sebagai aksesorisnya. Tarian Saremba Tembe mengingatkan tentang masyarakat Dompu tempo dulu. Dimana Saremba dan Katente adalah jenis pakaian yang pertama, setelah kaum wanita Dompu mengetahui Medi Ra Muna yang dilakukan secara tradisional.

Khusus di Kabupaten Dompu, Tembe Ngoli merupakan hasil tenunan kaum wanita yang dilakukan sebagai aktivitas tambahan di sela-sela mereka membantu suami bercocok tanam. Baik di sawah, ladang maupun aktivitas rumah tangga lainnya. Ini yang kemudian dijadikan sebagai bahan untuk membuat kain Tembe yang dijadikan sebagai alat dalam tarian Saremba Tembe.

“Tariannya bagus karena lebih berkisah tentang kebahagiaan. Jadi bisa menularkan kebahagiaan juga bagi yang melihatnya,” ujarnya.

Tarian Saremba Tembe menggambarkan suka cita sekaligus rasa syukur atas keberhasilan melimpahnya hasil pertanian. Dalam kesaharian masyarakat Dompu menggunakan Tembe Nggoli sebagai gaun atau pakaian yaitu Rimpu dan Katente serta Saremba bagi kaum laki-laki.

Katente sendiri merupakan kain tenun berupa sarung Nggoli dengan cara ujung sarung atas dilipat sesuai ukuran pinggang kemudian digulung sampai ujung bawah sarung diatas mata kaki. Khusus bagi kaum laki-laki dalam berbusana biasanya menggunakan Katente, celana pendek dan badan diselubungi dengan kain atau weri untuk ke sawah ataupun aktivitas lain.

Tembe dalam kesaharian masyarakat Dompu memiliki multi fungsi. Bisa digunakan sebagai selimut pada saat kedinginan, digunakan sebagai parasut dan digunakan sebagai pelampung saat berenang, dan pada saat musim panen, sarung dapat berperan sebagai wadah saat mengangkut hasil panen, dan masih banyak lagi manfaat sarung dalam kehidupan masyarakat Dompu pada umumnya. (lin)