Puncak Event Bau Nyale Ditetapkan 6 dan 7 Maret Mendatang

Praya (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) telah memutuskan pelaksanaan puncak event Bau Nyale tahun 2018 akan digelar pada tanggal 6 dan 7 Maret mendatang. Keputusan ini diambil setelah para pemangku adat mengelar sangkep warige (rapat adat) di kawasan Pantai Seger Kuta, Kamis, 4 Januari 2018. Setelah ada penetapan ini, Pemkab Loteng akan segera menyusun kepanitian termasuk agenda kegiatan pendukung yang akan digelar guna menyemarakkan event budaya nasional tersebut.

Kabag Humas dan Protokol Setda Loteng, Drs. H.L. Herdan, M.Si., kepada Suara NTB, Kamis siang menjelaskan, event Bau Nyale saat ini sudah masuk dalam agenda event budaya nasional. Sehingga dalam pelaksanaannya nantinya, tidak hanya oleh Pemkab Loteng saja, tapi pemerintah pusat dan provinsi juga bakal ikut terlibat.

Bahkan untuk pelaksanaan event Bau Nyale secara umum, ujarnya, bakal ditangani oleh Pemprov NTB. Pemkab Loteng nantinya hanya sebagai pendukung saja. “Jadi karena Bau Nyale sudah jadi event nasional, maka untuk pelaksanaannya ditangani oleh pemerintah provinsi,” ujarnya.

Menurutnya, event Bau Nyale sekarang ini tidak hanya menjadi milik masyarakat Loteng saja, tapi sudah menjadi milik masyarakat NTB. Itu artinya, tanggung jawab pelaksanaannya ada di tangan pemerintah provinsi dengan dukungan dari Pemkab Loteng serta pemerintah pusat.

“Kendali pelaksanaan event Bau Nyale ada ditangan pemerintah provinsi. Kita di kabupaten sipatnya sebagai pendukung saja. Jadi nantinya, selain kegiatan yang dikoordinir oleh pemerintah provinsi, Pemkab Loteng juga akan mengkoordinir kegiatan pendukung lainnya,’’ tambahnya.

Adanya pembagian tugas ini, ujarnya, event Bau Nyale yang merupakan tradisi masyarakat Loteng bagian selatan ini bisa benar-benar berlangsung semarak sekaligus bisa menjadi salah satu event yang mampu menarik minat wisatawan, utamanya wisatawan mancanegara untuk datang dan berkunjung di Loteng.

Untuk konsep kegiatan yang akan ditawarkan oleh Pemkab Loteng, tambahnya, tidak jauh beda dengan tahun sebelumnya. Tapi tentu ada juga tawaran konsep baru supaya bisa memberikan kesan berbeda tanpa menghilangkan identitas perayaan Bau Nyale itu sendiri.

“Misalkan untuk karnaval Putri Mandalika-nya, kita tawarkan nantinya dilaksanakan di provinsi. Tidak lagi dipusatkan di Loteng saja dengan peserta dari seluruh kabupaten/kota di NTB. Bahkan bila perlu dari luar NTB,” tambah mantan Kabag. APU Setda Loteng ini. (kir)