Minim, Kunjungan Wisatawan dari Eropa

Mataram (Suara NTB) – Tahun ini jumlah target kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 1,5 juta wisatawan. Pemda NTB juga telah melakukan sejumlah promosi wisata ke Negara-negara Eropa, salah satunya Jerman. Namun kunjungan wisatawan dari Jerman terbilang sedikit, hanya empat persen atau sekitar 398 orang sesuai dengan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB.

“Dari data wisatawan asing yang datang selama Oktober, Malaysia menyumbang 3.846 orang (43%), di tempat kedua Cina dengan 843 orang (9%), disusul Korea Selatan 652 orang (7%), kemudian Inggris dan Jerman masing-masing 488 (5%) dan 398 (4%) orang,” jelas Kadek Adi Madri, Kepala Bidang Statistik Distribusi belum lama ini.

Hal ini menunjukkan bahwa minat wisatawan Eropa masih terbilang kecil untuk berlibur ke Lombok. Meski demikian, ini merupakan data yang diperoleh dari kunjungan wisatawan yang menggunakan pintu masuk bandara. Belum ada pemghitungan secara resmi berapa jumlah wisatawan yang masuk ke NTB melalui pintu masuk lain, misalnya pelabuhan.

Terkait data di atas, penumpang yang datang melalui penerbangan internasional di Lombok International Airport (LIA), berjumlah 14.132 orang, atau turun sebesar 1,37 persen, sedangkan melalui penerbangan domestik sebanyak 155.580 orang, atau naik tipis sebesar 0,31 persen dari bulan sebelumnya.

Data ini berbanding terbalik dengan penumpang yang berangkat melalui LIA, pada Oktober ini dari penerbangan domestik justru turun sebesar 2,41 persen, sedangkan dari internasional meningkat sebesar 0,27 persen.

Namun demikian, sedikitnya jumlah kunjungan wisatawan Eropa ini semestinya bisa menjadi bahan evaluasi bagi Pemda dalam hal ini Dinas Pariwisata Provinsi NTB. Sebab biaya promosi yang dikeluarkan tidak sebanding dengan jumlah kunjungan wisatawan dari Negara tersebut.

Perlu adanya catatan khusus apakah destinasi wisata di NTB sudah sesuai dengan karakter destinasi yang diinginkan  oleh wisatawan dari Eropa. Sebab bisa saja destinasi di NTB tidak cocok dengan karakter destinasi yang diinginkan, sehingga biaya promosi yang dikeluarkan terkesan mubazir. (lin)