Penyair NTB, Kiki Sulistyo Terpilih Raih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017

Mataram (Suara NTB) – Penyair asal Ampenan, Lombok, NTB, Kiki Sulistyo terpilih meraih Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2017 kategori puisi, pada pengumuman yang dilakukan di salah satu Plaza di Jakarta, Rabu, 25 Oktober 2017 malam.

KSK merupakan penghargaan paling bergengsi di Indonesia untuk buku sastra yang terbit setiap tahunnya.  Kiki meraih penghargaan itu untuk buku puisinya yang berjudul Di Ampenan Apa Lagi yang Kau Cari?

Sebelumnya, buku karya Kiki itu masuk ke dalam 10 besar atau daftar panjang buku puisi terbaik menurut KSK. Di tahap selanjutnya, buku itu masuk ke lima besar atau daftar  pendek KSK.

Hingga akhirnya, Kiki Sulistyo terpilih meraih KSK 2017,  pada pengumuman yang dilakukan Rabu lalu. Ada tiga kategori pada KSK 2017, yaitu kategori puisi, prosa, dan karya perdana dan kedua.

Kiki yang dikonfirmasi dari Mataram, Kamis (26/10) mengaku merasa senang atas penghargaan itu. Namun ia menekankan, dirinya bukan memenangi KSK, tapi terpilih meraih penghargaan itu.

“Saya tidak merasa menang, kalau saya merasa menang berarti saya mengalahkan yang lain, kan ndak mungkin. Itu hanya faktor yang bisa diterima atau atau tidak diterima, menyebabkan penghargaan itu jatuh ke saya,” ujar penyair kelahiran Ampenan, 16 Januari 1978 ini.

Penyair yang bergiat di Komunitas akarpohon ini menceritakan kisahnya ketika maju ke panggung menerima piagam. Ia mengaku seorang yang gugup ketika berada di sebuah pusat perbelanjaan modern.

Saking gugupnya, ketika menyampaikan ucapan terima kasih di atas panggung, ia malah lupa menyampaikan terima kasih untuk akarpohon. “Saya berterima kasih ke beberapa orang, karena gugup,  malah lupa mengucapkan terima kasih ke akarpohon,” ujarnya.

Ia mengatakan tidak menduga akan meraih KSK itu. Meski demikian, ketika terpilih pun, ia tidak lantas merasa senang yang berlebihan. “Saya senang,  tapi tidak terlalu yang wow,” katanya.

KSK yang sudah bergulir selama 17 kali ini, awalnya bernama Khatulistiwa Literary Award (KLA). Selain Kiki Sulistyo, sebelumnya penyair Sindu Putra yang tinggal di Lombok meraih penghargaan KLA di tahun 2009 lalu.

Kiki sendiri berharap penghargaan yang diperolehnya ini bisa memberikan dampak bagi sastra atau dunia literasi di NTB.

“Saya tidak tahu apakah berdampak atau tidak, tapi mudah-mudahan berdampak di Lombok ,” harap penyair yang selain menulis puisi, juga menulis cerpen dan artikel. Karyanya dimuat di berbagai media massa lokal maupun lokal.

Buku puisi Kiki Sulistyo berjudul ‘Di Ampenan Apa Lagi yang Kau Cari?’ merupakan kumpulan puisi tentang Ampenan yang ditulis dari kacamata Kiki Sulistyo.

Dalam pengantar buku itu,  ia mengatakan, puisi di buku itu sebagai “Serpihan-serpihan kenangan yang sangat personal bersama  sentimentalisemnya-itulah Ampenan bagi saya.” Masih dari pengantar buku itu, Kiki mengatakan tidak menulis puisi-puisi di buku itu dalam satu proyek tertentu.

“Tujuannya sangat pribadi, sebenarnya saya ingin menyelamatkan ingatan-ingatan saya, yang sebentar lagi hilang (karena perubahan Ampenan), ” pungkas Kiki. (ron)