Berguru dari “Youtube” Demi Pertahankan Tari Tradisional Bima

Mataram (Suara NTB) – Sanggar Mantika, lahir dari kekhawatiran semakin asingnya tarian khas suku Mbojo Bima. Mereka, secara otodidak mempelajari gerak setiap jenis tari daerah, ditopang modal semangat meski masih dengan segala keterbatasan.

Saat latihan pun mereka harus memanfaatkan fasilitas gratis di pelataran gedung Auditorium Abubakar. Belasan personel sanggar tari ini terkadang mengorbankan waktu malam minggu demi mendalami tiap liuk dan gerakan tari yang benar.

 

“Kalau ada yang kurang pas, kita lihat lagi di Youtube,” kata pelatih Sanggar Mantika,   Nurlaela Fitriah kepada Suara NTB di sela sela membimbing anggota sanggarnya.

Tidak ada guru khusus yang didatangkan, karena mereka  tidak datang dengan modal cukup sejak mendirikan Sanggar. Ela, sapaan pendiri sanggar, latihan tari ini murni keinginannya untuk mengajak teman temannya sesama mahasiswi dan mahasiswa mempelajari seni tradisi.

Ada tren mengkhawatirkan soal ketertarikan generasi seni tradisi, jangankan mengetahui, untuk mempelajari saja minim.  “Sekarang teman teman mahasiswa sudah banyak yang tidak tahu tari daerah sendiri. Saya berharap jangan sampai terjadi pada semua generasi. Harus ada yang meneruskan,” harapnya.

Baca juga:  Bale Adat Sembalun, Objek Wisata Budaya yang Terlupakan

Dengan semangat tadi, mereka sudah menguasai sejumlah tari khas Bima.  Seperti tari Loja Nggengge, Pasapu Monca, Tari Panen Raya. Mereka juga sudah menguasai tari Wura Bongi Monca, tarian  selamat datang untuk tamu penting. Ada juga Tari Rimpu dan Tari Muna  yang memperagakan cara menenun.

Ela yang kini masih duduk di bangku Semester VII di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, mengaku bangga bisa menguasai sejumlah tari tadi meski hanya mengandalkan akun Youtube. Tiap detail gerakan dengan mudah dipelajarinya, dengan keyakinan bahwa bakat itu bisa diciptakan dengan kesungguhan dan kerja keras.

Kreativitas mereka tak dibatasi dengan gereakan baku tarian, sehingga terkadang menyelipkan improvisasi pada gerakan gerakan tertentu. Namun pada bagian ‘lenggo’ atau gemulai gerakan tetap dipertahankan demi memperkuat identitas tari khas Bima.

Baca juga:  Bale Adat Sembalun, Objek Wisata Budaya yang Terlupakan

Hasilnya, dia beberapa kali membawa rekan rekannya ke lomba pentas seni komunitas dan atau pentas yang nenyediakan panggung bagi kearifan lokal. Undangan acara acara resmi dari swasta maupun pemerintah beberapa kali dipenuhi.

Tapi masih ada masalah, soal keterbatasan properti setiap latihan maupun pentas. “Pernah kita tampil, untuk Sempari (pedang), kita pakai kardus,” kenangnya. “Kalau latihan sebenarnya kita pengen punya alat musik sendiri. Biar gak pakai Youtube lagi,” harapnya.

Sekali waktu Ela, gadis asal Sila Kecamatan Bolo Kabupaten Bima ini memimpikan meninggalkan Youtube sebagai alat peraga. Mereka ingin  memainkan alat musik sendiri untuk mengiring dari tempat latihan sampai arena pentas. Sanggar dengan fasiltas lengkap, baik personel maupun alat musik, menjadi mimpi mahasiswi berhijab ini. (ars)