Lebaran Topat di Lobar, Perpaduan Tradisi Adat dan Religi

Giri Menang (Suara NTB) – Perayaan Lebaran Topat atau biasa disebut oleh warga Sasak sebagai Lebaran “Nine” di Lombok Barat (Lobar) begitu meriah. Perayaan Lebaran Topat ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk ziarah kubur hingga pelesir atau pesiar ke lokasi-lokasi wisata. Arus lalu lintas sejumlah menuju lokasi wisata di Lobar seperti di Senggigi hingga Sekotong padat merayap.

Pantauan koran ini di beberapa lokasi wisata di Lobar, seperti di Senggigi hampir sepanjang pantai mulai dari Meninting hingga Kerandangan disemuti pengunjung. Sepanjang garis pantai dipadati masyarakat yang bertamasya.

Mulai pukul 09.00 Wita, arus lalu lintas disepanjang jalur utama menuju lokasi wisata ini mulai padat. Pengunjung kebanyakan menggunakan kendaraan kecil dan roda empat. Untuk mengurai kepadatan lalu lintas tersebut, pihak kepolisian dari Polres Lobar bersama Polres Mataram memberlakukan rekayasa lalu lintas.

Lokasi yang padat pengunjung, salah satunya Makam Batulayar. Makam ini hampir tiap momen Lebaran Topat selalu dijejali pengunjung yang ingin berziarah ke makam yang konon salah satu ulama tersebut. Seperti Eva, salah seorang warga dari Gunungsari mengaku datang berziarah ke makam tersebut.

Tidak saja Eva, namun ratusan warga berjejal masuk ke dalam makam tersebut untuk berdoa. Mereka bahkan, membawa air untuk didoakan di makam itu. Air itu lalu dipakai membasuh wajah bahkan untuk minum bagi sanak keluarganya. Mereka mempercayai air yang didoakan di makam tersebut bisa membawa manfaat.

Ziarah kubur ini juga masuk dalam acara inti perayaan lebaran ketupat yang diadakan pemda di Pantai Duduk Batulayar. Bupati Lobar, H. Fauzan Khalid bersama jajaran pun melaksanakan ziarah ke makam tersebut.

Didampingi sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama Bupati menggelar doa di makam tersebut. Menurut Bupati, ziarah kubur merupakan proses standar yang harus masuk dalam perayaan Lebaran Topat. Selain itu, ada proses dulang pesaji yang berisi makanan ketupat yang dimakan oleh para tamu.

Menurut Pemerhati Budaya, Sahnan kegiatan even lebaran ketupat yang diadakan Pemda Lobar dinamakan Lebaran Adat, karena lebaran ini sudah dianggap Kiyai Sasak. Lebaran ini diadatkan dan masuk dalam unsur religi warga Lombok.

Lebaran ini jelasnya menjadi tradisi, di dalamnya terkandung berbagai makna. Misalnya, tradisi lebaran ini dipentaskan dalam bentuk seni trali. Trali disini artinya tradisi dan religi, dimana tradisi ini adalah kesenian bernuansa lokal sedangkan religi bernuansa agama. (her)