“Taliq Bunut” di Makam Loang Baloq Dipercaya Sebagai Ritual Pengabul Keinginan

Mataram (suarantb.com) – Berkunjung ke Makam Loang Baloq Mataram tak lengkap rasanya tanpa mencoba ritual ‘taliq bunut’. Aksi mengikat tali pada pohon beringin atau dalam bahasa Sasak disebut bunut sudah menjadi ritual rutin peziarah yang berkunjung ke makam ini.

Penjaga Makam Loang Baloq, Tarmizi mengaku masih banyak pengunjung yang mempercayai ritual ini. Mengikatkan tali pada pohon beringin raksasa yang berdiri di tengah makam sambil mengucapkan keinginan atau nazar masing-masing.

“Memang mengikat ini kalau secara Islam tidak ada hukumnya, tapi masih ada saja yang melakukan. Mereka ada mengucapkan nazar dan lain-lain,” jelasnya pada suarantb.com, Jumat, 30 Juni 2017.

“Kita ndak nyuruh atau melarang, tapi kita minta dibarengi ucapan insyaallah. Kan begitu dalam Islam, sesuai ajaran Islam kan begitu kalau kita bernazar,” tambahnya.

Hanya saja, dulunya masyarakat diizinkan untuk mengikat tali plastik di pohon beringin ini. Namun, saat ini penggunaan plastik dilarang karena merusak keindahan. Jadi, jika saat ini hendak mencoba bernazar di pohon beringin Loang Baloq pengunjung cukup mengikat akar-akar menggantung pohon beringin ini.

Dijelaskan Tarmizi pengunjung yang datang ke Loang Baloq umumnya hendak berziarah ke makam wali asal Jazirah Arab, Muhammad Syekh Gauz Abdurrazak. Seperti halnya yang dilakukan Hj. Siti Aminah dan keluarga asal Desa Terara Lombok Timur. Jauh-jauh datang dari Lotim, Siti mengaku berniat untuk memohon keberkahan dari sang wali.

“Saya datang untuk beseraup (cuci muka), berdoa biar tetap sehat, pikiran jernih, hatinya bersih,” ucapnya sambil tersenyum.

Selain ziarah, Tarmizi mengaku ada juga  masyarakat yang memilih untuk menginap sehari dua hari di Loang Baloq. Orang-orang yang disebutnya musafir ini datang menginap dengan berbagai alasan.

“Macam-macam alasannya, ada yang dari Jawa kemarin nginap untuk menenangkan diri katanya. Dia ke sini untuk ikhtiar, berzikir di sini semacam itulah,” katanya. (ros)