Tenun Ikat Lombok Tertindih Kain Jepara

Mataram (Suara NTB) – Masyarakat Lombok tidak menjadi pemain tunggal dalam memproduksi kain tenun ikat. Produk berupa kain tenun ikat yang dijajakan kepada wisatawan di Lombok, sebagiannya merupakan barang yang diimpor dari Jepara, Jawa Tengah. Akibatnya, produk tenun ikat buatan orang Lombok akhirnya tertindih kain Jepara.

Kualitas kain tenun ikat yang diproduksi masyarakat Lombok dinilai kurang berkelas. Kualitasnya kalah saing dengan kain-kain yang dikirim dari Jepara. Para penjual kain tentu lebih memilih kain dari Jepara untuk memenuhi stok dagangan mereka.

Terlebih, harga kain yang dibeli dari Jepara jauh lebih murah. Sekalipun harus terkena biaya pengiriman, laba yang diperoleh dari hasil menjual kain tenun ikat impor itu lebih tebal dan menjanjikan.

Baca juga:  Ekspor Tuna NTB Meningkat Tajam

“Kalau kain Jepara itu, dijamin tidak luntur selama lima tahun. Kualitasnya lebih bagus dan harganya juga lebih murah,” kata Dewa Nyoman Suwarna, owner toko oleh-oleh Mekar Sari di Mataram, Jumat, 17 Maret 2017.

Pria paruh baya yang akrab disapa Pak Dewe ini, bukan tidak pernah menelan asam garam proses pembuatan kain tenun ikat. Dirinya lebih memilih beralih menjadi pedagang, ketimbang mempertahankan perusahaan pembuat kain.

Baca juga:  Niken Zulkieflimansyah Raih Penghargaan Pembina Dekranasda Terbaik Nasional

Ia mengaku, proses pembuatan kain tenun ikat sangat rumit. Perlu tenaga ekstra dan ketelitian yang luar biasa. Belum lagi, hasil yang diperoleh pada saat kain laku terjual nilainya tak seberapa.

“Kebanyakan kita dapat lelahnya saja ketimbang hasilnya. Itu kalau kita yang membuat kainnya. Makanya kita lebih memilih impor saja,” tegasnya.

Hal itu terjadi karena, masa proses pembuatan kain yang lumayan lama. Disamping itu, harga bahan baku laiknya benang dan alat pewarna benang juga sangat mahal. (met)