Festival Bau Nyale 2017 Disebut Beda dengan Tahun Lalu

Praya (suarantb.com) – Festival Pesona Bau Nyale 2017 memang telah usai dilaksanakan Jumat, 17 Februari 2017, berlokasi di Pantai Seger Lombok Tengah. Kepala Dinas Pariwisata NTB, H. Lalu Muhammad Faozal menyatakan puncak perayaan Bau Nyale kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun ini ndak ada artis, yang penting di sini kita sudah siapkan panggung untuk bisa menikmati budaya. Tapi saya dengar ada artis, cuma saya kurang tahu di mana,” katanya saat ditemui suarantb.com, Kamis malam, 16 Februari 2017.

Tahun ini, pelaksanaan Festival Bau Nyale diambil alih pemerintah provinsi yang dalam hal ini adalah Dinas Pariwisata. Bau Nyale dijadikan sebagai salah satu agenda prioritas yang akan menggaet banyak wisatawan berkunjung ke Lombok, dengan mengangkat tema Heritage of Lombok.

“Kita mendesain acara ini betul-betul agar ini ada nilai jualnya. Jadi ndak monoton kan, tidak itu-itu saja yang dilihat. Kita coba sekarang kuatkan dari sisi heritage-nya. Temanya adalah Heritage of Mandalika. Jadi yang kita kuatkan budayanya,” jelas Faozal.

Penguatan sisi budaya dari Festival Bau Nyale terlihat dari berbagai pertunjukan yang dihadirkan. Semuanya berkaitan erat dengan legenda Putri Mandalika. Putri cantik jelita yang menerjunkan diri ke laut dan diyakini menjelma jadi nyale.

Jumlah wisatawan yang menghadiri festival ini diperkirakan mencapai ratusan ribu orang. Hanya dalam tujuh hari rentang waktu perayaan festival.

“Ada yang sudah sejak tiga hari di sini,” ujarnya.

Konsep perayaan Festival Bau Nyale ini memang berbeda dengan konsep pesta rakyat yang umumnya diusung Pemkab Loteng. Sehingga timbul anggapan Pemkab Loteng tidak menyetujui konsep acara yang disiapkan Dispar. Ketidakhadiran Bupati Loteng, H. Suhaili FT dalam acara puncak perayaan Bau

Nyale semakin menguatkan dugaan tersebut.

Namun hal ini dibantah Faozal. Ia mengatakan Bupati Loteng tidak hadir karena sakit, bukan karena tidak setuju dengan konsep acara.

“Dia sakit, bukannya ndak setuju. Ndak sampai ke saya kalau beliau tidak setuju. Tapi saya tidak tahu dia sakit apa. Tapi yang penting bukan itunya, kehadiran masyarakatnya sudah luar biasa kan,” ujarnya.

Jika benar Pemkab Loteng tidak menyetujui konsep acaranya, Faozal menyatakan itu tindakan yang keterlaluan. “Kalau dia tidak setuju seperti ini kan keterlaluan, sudah capeknya kita kayak begini. Kita sudah menyusun konsepnya, sudah keluar duit. Kalau sekedar hanya tidak setuju kemudian tidak hadir, saya kira itu bukan tindakan seorang bupati,” katanya.

Anggaran yang dihabiskan untuk perayaan Bau Nyale ini mencapai Rp 700 juta, bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Pariwisata. Namun ia tidak menyebutkan jumlah kucuran dana dari Pemkab Loteng.

“Yang kita kelola untuk event ini adalah DAK. Kementerian Pariwisata memberikan dukungan untuk destinasi prioritas. Ini adalah destinasi prioritas, maka cost-nya dari APBN. Saya tidak tahu sharing dari Pemkab Loteng dimana,” jawabnya.

Menurutnya masyarakat yang paling merasakan manfaat dari festival ini adalah masyarakat Loteng, khususnya manfaat ekonomi.

“Adalah sekitar Rp 5-7 miliar perputaran uang selama tujuh hari ini. Parkir saja berapa, coba kita tanyain tukang parkir itu berapa dia dapat,” lontarnya.

Dari Festival Bau Nyale ini masih ada yang perlu diperbaiki, terutama dari segi manajemen.

“Dari manajemen masih perlu diperbaiki, karena kita membuat event ini kan harus punya nilai atraktif. Bukan hanya dirasakan oleh kita, tapi oleh orang yang melihat,” tambahnya. (ros)