Menghitung Angka Kunjungan Wisatawan

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pariwisata (Dispar) serta Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB meyakini; target angka 3 juta kunjungan wisatawan pada 2016 kemarin terlampaui. Asosiasi Perusahaan Jasa Transportasi Wisata (Asita) NTB, memprediksi bahwa dalam setahun jumlah rata – rata tamu/wisatawan, yang didatangkan satu perusahaan travel agent mencapai dua ribu wisatawan. Menghitung angka kunjungan wisatawan, dapat dilakukan dengan mengalkulasi jumlah tamu yang dilayani tiap – tiap biro perjalanan wisata.

Jumlah anggota Asita NTB hingga pada 2017 ini telah mencapai 150 unit perusahaan jasa transportasi wisata. Jumlah itu belum termasuk perusahaan travel agent yang illegal yang tak terhitung. Disamping itu, ada banyak pula perusahaan jasa transportasi wisata yang tidak mengasosiasikan diri sebagai anggota Asita.

“Kalau kita hitung, jumlah rata – rata tamu yang di-handle satu travel agent di NTB ini mencapai dua atau tiga ribu wisatawan. Itu dalam jangka waktu setahun. Taruhlah misalnya dua ribu lima ratus bagi masing – masing travel, maka itu tinggal dikalkulasikan saja,” kata Dewantoro Umbu Joka, SH Ketua Asita NTB, Jumat (20/1).

Secara matematis, jika satu perusahaan jasa perjalanan wisata hanya sanggup melayani sejumlah 2.500 touris dalam setahun, maka jumlah wisatawan yang datang ke NTB melalui jalur travel agent yang tergabung sebagai anggota Asita, tidak lebih dari angka 375.000 touris/pelancong. Angka ini cukup memengaruhi optimisme klaim tercapainya target yang mencapai 3 juta kunjungan wisatawan. Sebab, setiap turis yang berkunjung ke daerah ini, selalu menggunakan layanan jasa transportasi wisata.

Baca juga:  Tetapkan 99 Desa, Tahun Ini Pemprov Awali dengan 20 Desa Wisata

Data dari Badan Pusat Statistik BPS NTB menunjukkan, jumlah kunjungan wisatawan pada 2015 hanya mencapai 2,2 juta wisatawan. Jumlah itu diperoleh dari jumlah frekuensi penerbangan dalam setahun yang mencapai 11.535 untuk kedatangan dan 11.519 keberangkatan. Jumlah tamu yang menginap di hotel berbintang pada tahun itu hanya mencapai 2.212 wisatawan.

Meski belum dirilis frekuensi penerbangan pada tahun 2016, fakta lapangan menunjukkan jumlah maskapai yang melayani penerbangan mengalami pengurangan. Maskapai asing laiknya JetStar misalnya, berhenti melayani penumpang untuk terbang dari Perth Australia menuju Lombok International Airport (LIA).

Kendati demikian, Ketua Asita NTB menegaskan bahwa frekuensi penerbangan domestik mengalami peningkatan. Meski, pada kenyataanya maskapai BatikAir juga berhenti melayani penerbangan dari Daerah Bandung menuju Lombok. Maskapai tersebut tidak lagi melayani penerbangan langsung karena alasan rendahnya minat penumpang dan membuatnya merugi.

“Frekuensi penerbangan domestik kita banyak. Surabaya bisa sampai 17 kali. Jakarta apalagi, belum lagi daerah – daerah lain. Terutama penerbangan dari Kuala Lumpur,” ujar Dewantoro menandaskan.

Terpisah, pelaku pariwisata Furqan Ermansyah alias Rudy Lombok mengemukakan, rumus dasar yang dapat digunakan untuk mengalkulasi jumlah kunjungan wisatawan yakni dengan menghitung, persentase rata – rata okupansi hotel dikalikan jumlah tempat tidur (hotel Bintang/Nonbintang) dibagi Length of Stay (Los).

Jika persentase rata – rata okupansi hotel berbintang pada 2016 mencapai 54% dengan jumlah kamar pada hotel berbintang mencapai 7.000 tempat tidur dan Length of Stay mencapai 2,1 hari. Maka, jumlah rata – rata tamu yang menginap di hotel berbintang perhari sama dengan 54% X 7.000 tempat tidur/ 2,1 Length of Stay.

Baca juga:  Tetapkan 99 Desa, Tahun Ini Pemprov Awali dengan 20 Desa Wisata

“Kalau angkanya seperti itu, akan ada sekitar 1.800 orang yang menginap di hotel berbintang dalam sehari. Kalikan saja 1.800 orang dengan jumlah hari dalam setahun. Maka hasilnya ialah 657.000 wisatawan dalam setahun,” jelasnya.

Sementara itu, jika hotel nonbintang di NTB pada 2016 memiliki sejumlah 15.000 tempat tidur. Dengan rata – rata tingkat hunian hotel atau okupansinya mencapai 25% dalam setahun, maka jumlah wisatawan yang menginap di hotel nonbintang dalam sehari akan mencapai 3.750 orang/tamu. Angka length of stay hotel nonbintang lebih pendek ketimbang masa tinggal wisatawan di hotel berbintang.

Jika length of stay hotel nonbintang mencapai 1,7 hari, maka 3.750 X 1,7 sama dengan 2.205. “Asumsinya, ada 2.205 wisatawan yang menginap di hotel nonbintang dalam sehari. Kalikan 365 hari, maka dalam setahun hanya akan ada 804.825 wisatawan,” bebernya.

Pihaknya mengklasifikasi ada tipe pengunjung yang datang ke NTB. Kedua tipe tersebut yakni Wisatawan dan Pelancong. Pelancong merupakan tamu yang berasal dari kapal pesiar dan tidak menggunakan jasa penginapan di hotel. Jumlahnya diprediksi hanya mencapai 260.000 orang dalam setahun.

“Maka dapat kita simpulkan, jumlah kunjungan wisatawan dalam setahun pada 2016 kemarin hanya mencapai 1,7 kunjungan. Lalu dari mana dapatnya angka kunjungan yang diklaim mencapai 3 juta kunjungan,” tandasnya. (met)