Bengkel Aktor Mataram Tampilkan Lakon Nyanyian Angsa

Mataram (suarantb.com) – Bengkel Aktor Mataram (BAM) menampilkan lakon yang berjudul Nyanyian Angsa karya pengarang naskah satir ternama dunia asal Rusia Anton Pavlovich Chekov ke khalayak teater Mataram. Bertempat di gedung teater tertutup Taman Budaya Provinsi NTB, BAM dengan para punggawa seniornya sukses menghibur penonton yang datang.

Lakon Nyanyian Angsa ditulis Chekov guna menyindir para pekerja seni pertunjukan untuk lekas meluangkan waktu menoleh kembali ke belakang pada masa lalu. Untuk  mengekspresikan persoalan manusia yang terjadi di hadapannya. Melalui Nyanyian Angsa juga pengarang yang beberapa karya monumentalnya pernah dimainkan maestro teater dunia yang juga sahabat Chekov, Stanislavsky, ingin mencoba membongkar persoalan yang terjadi di balik layar dunia kesenian itu sendiri.

Chekov menyatir sosok-sosok aktor selaku pengejawantah tokoh yang terlalu total berkecimpung dalam dunia kesenian dan luput memperhatikan keluarga, menikah dan melanjutkan keturunannya. Seperti yang lazim orang-orang lakukan di dunia nyata.

Aktor yang terlalu larut dalam kesenimanannya itu, mengabaikan sesuatu yang semestinya dilakukan.
Karena aktor seni pertunjukan yang selalu menduduki posisi kejayaan pada masa mudanya selalu dibanggakan penonton. Lantas, setelah tua sosok aktor yang terlena tersebut hanya akan menjadikan kebanggaan pada kejayaan masa muda sebatas kenangan.

“Intinya, dalam teater ini mengingatkan bahwa kita tidak bisa terlalu totalitas mengurus soal kesenian, dengan mengesampingkan urusan keluarga. Kita boleh berkesenian, tetapi jangan sampai larut dan lupa membangun keluarga,” tutur Murahim, salah seorang aktor yang mementaskan lakon Nyanyian Angsa ketika dijumpai suarantb.com usai pertunjukan, Jumat, 16 Desember 2016.

Aktor yang juga Dosen Ilmu Sastra Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram ini menceritakan, lakon yang ia pentaskan malam itu bercerita tentang seorang aktor terkenal yang menyesal di masa tuanya. Aktor terkenal dengan penuh kebanggaan itu menyesali hidupnya karena tidak mampu lagi melakukan apa-apa.

“Manusia menjadi tua itu sudah tentu. Aktor yang begitu didamba-damba penonton ini tidak lagi dibanggakan, saat di mana sudah tua dan tidak bisa melakukan apa-apa. Bahwasanya, kebanggaan penonton itu sifatnya semu belaka,” tuturnya.

Menurut Murahim, dalam kehidupan nyata, fenomena seperti itu masih banyak menimpa pelaku seni. Bahkan sampai era kekinian. Oleh sebab itu, dosen yang akrab disapa Achiem ini menarik kesimpulan bahwa totalitas itu memang dibutuhkan.  Tetapi larut pada sebuah totalitas dan mengingkari kenyataan lain di luar panggung, menjadi sesuatu yang tidak lazim.

Oleh karena itu, melalui naskah Nyanyian Angsa yang dipentaskannya bersama seniman senior NTB Kongso Sukoco itu, ia juga mengingatkan agar para pelaku seni segera menyadari kehidupan yang nyata di luar panggung pertunjukan.

“Lantas setelah tua, mau kembali ke masa muda kan sudah tidak mungkin lagi. Akhirnya, mau tidak mau kita tidak bisa melepaskan kehidupan yang nyata seperti yang berlaku dalam keseharian kita,” pungkasnya.

Untuk diketahui pertunjukan Nyanyian Angsa yang hanya dimainkan dua orang aktor itu disutradarai oleh salah seorang sutradara senior NTB, Saipullah Sapturi atau yang akrab dipanggil Epoel. Pertunjukan tersebut menjadi medium ekspresi, sekaligus nostalgia para pelaku teater NTB generasi tua. Baik para pemain yang tampil di panggung maupun seluruh kru yang terlibat pada pemetasan juga berasal dari kalangan seniman senior. (ast)