Tradisi Maulid Adat di Desa Sapit, Sebuah Budaya Warisan Leluhur

Selong (suarantb.com) – Suku Sasak di Pulau Lombok memiliki banyak tradisi, adat, dan budaya yang beragam. Bahkan setiap desa di Pulau Lombok masing-masing mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri.

Salah satunya adalah Desa Sapit di Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur. Memiliki tradisi dan budaya yang khas dan unik. Salah satu budaya yang masih dilaksanakan hingga saat ini adalah Maulid Adat.

Maulid adat ini digelar setiap tahun. Tepat pada bulan Rabiul Awwal, sebagai bentuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Maulid adat merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Desa Sapit. Acara tersebut mengandung makna dan nilai yang sangat tinggi bagi masyarakat setempat.

Arak-arakan membawa hidangan ke Langgar untuk dikonsumsi bersama-sama.

Terdapat nilai agama, nilai budaya, sekaligus nilai sosial yang tidak bisa terpisahkan. Dan salah satunya adalah sebagai media tali silaturahmi dan menjadi pemersatu antar masyarakat, bahwa tidak ada perbedaan status sosial.

Seorang pemuda Desa Sapit,  Jannatan mengatakan bahwa acara maulid adat yang digelar dari zaman dahulu hingga sekarang merupakan warisan budaya nenek moyang yang harus dijaga dan tetap dilestarikan keberadaannya.

Hal tersebut disebabkan karena maulid adat tersebut mengandung nilai agama dan nilai budaya yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Membuktikan bahwa Islam diperkenalkan dan disebarkan salah satunya melalui budaya. Selain itu, menjadi pemersatu antar masyarakat.

“Kalau kita kaji secara mendalam, maulid adat ini tidak bisa dipisahkan dari nilai agama dan budaya. Dan menjadi pemersatu antar masyarakat Desa Sapit,” ujarnya belum lama ini.

Baca juga:  Peringati Maulid, Ini Seruan TGB

Di tahun ini, masyarakat sapit menyelenggarakan acara maulid adat, pada Senin, 12 Desember 2016. Sekitar pukul 11.00 Wita. Dalam acara maulid adat tersebut, dihadiri langsung oleh Camat Suela, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat dan para pemuda. Acara tersebut berlangsung di sebuah masjid desa atau dikenal dengan nama “langgar”.

Masyarakat Desa Sapit, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur menggelar tradisi maulid adat.

Ketua panitia penyelenggara, Sriyasti mengatakan, sehari sebelumnya masyarakat sangat sibuk. Perempuan bergotong-royong membuat beragam aneka kue tradisional dan masakan-masakan lainnya. Sementara kaum pria berkumpul bersama-sama membuat 29 buah “ancak”, yakni sebuah wadah berbentuk persegi berukuran 80cm x 80cm yang terbuat dari ulatan bambu, dan kemudian dilapisi daun aren untuk  menaruh kue dan makanan, dengan tujuh lapis daun di setiap tumpukan ancak, yang bermakna tujuh petala (lapis) bumi dan tujuh petala langit.

Semuanya selesai sebelum subuh, tepat pukul 03.00 Wita. Empat  dari 29 ancak dan empat dulang tersebut dibawa ke langgar.

“Jumlah ancak yang dibuat berjumlah 29 buah. Tadi sebelum subuh, pukul 03.00 Wita, empat buah ancak dibawa ke langgar beserta 4 buah dulang. Yang artinya empat sahabat Rasulullah (Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali) dan 4 mazhab (Hanapi, Hambali, Maliki, dan Safi’i),” ungkap Sriyasti.

Baca juga:  Peringati Maulid, Ini Seruan TGB

Lebih lanjut Sriyanti mengatakan, 25 ancak yang tersisa mengandung makna yaitu 25 Nabi dan Rasul Allah. dan 13 ancak yang dibawa ke langgar ketika prosesi maulid adat berarti 13 rukun shalat.

Kembali pada prosesi Maulid Adat. Ketika acara dimulai, arak-arakan ancak tersebut dipikul oleh empat orang remaja per-ancak untuk dibawa ke Langgar Desa Sapit. Dengan doa bersama dipimpin oleh tokoh agama, kemudian hidangan tersebut disantap bersama-sama oleh masyarakat yang hadir, yang oleh masyarakat Desa Sapit menyebutnya begibung.

Sementara itu, Ketua Pemuda, Alwan Wijaya mengatakan rangkaian acara tersebut bukan bentuk penolakan terhadap kemanjuan peradaban manusia, melainkan sebagai identitas masyarakat komunal yang semestinya dilestarikan.

“Ini bukan soal mengembalikan peradaban ke masa lampu atau menolak kemajuan berfikir, tapi ini soal identitas masyarakat Desa Sapit yang mulai terkontaminasi dengan kehidupan hedonis. Sehingga untuk tetap menjaga nilai-nilai kebersamaan dan terlebih nilai budaya yang tinggi, maka proses maulid adat adalah pilihan tepat dalam meningkatkan nilai-nilai yang dimaksud,” pungkasnya.

Acara maulid adat ini diadakan setiap tahun. Hal ini bertujuan agar menjadi pemersatu antar masyarakat, serta membudayakannya pada generasi selanjutnya. Tidak hanya acara maulid adat, sebagai rangkaian acara, masyarakat Desa Sapit juga mengadakan acara pengajian di masjid yang dihadiri oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat seperti acara maulid pada umumnya. (szr)