SFN Labs Mataram Persembahkan “Hamlet Machine”

Mataram (suarantb.com) – Selasa malam lalu SFN Labs, salah satu kelompok teater yang bermarkas di Gunung Sari Lombok Barat menampilkan karya penulis besar kelahiran Jerman Heiner Muller. SFN Labs dengan sutradara, Syamsul Fajri Nurawat berhasil memukau penonton yang hadir di teater tertutup Taman Budaya NTB.

Bercerita tentang tokoh Hamlet yang muak melihat kondisi di sekitarnya. Lantas ia berharap bisa menjadikan dirinya seperti mesin. Tanpa rasa dan tanpa upaya akan hal apa pun. Sebab menjadi manusia masih akan membuatnya gelisah.

Keinginan tokoh Hamlet yang diperankan salah seorang aktor muda NTB, Indra Saputra Lesmana itu kemudian membawanya pada pergolakan batin yang lebih jauh. Hingga mewujud pecahnya batin Hamlet menjadi enam jiwa. Enam jiwa ini kemudian menyuarakan kegelisahan-kegelisahan berbeda, tak ayal membuatnya semakin ingin menjadi mesin.

Dalam garapan kali ini, Syamsul Fajri Nurawat mencoba menawarkan konsep garap baru. Di mana kondisi keenam jiwa Hamlet dimunculkan dalam bentuk aktor-aktor. Keenam aktor yang merupakan perwujudan jiwa Hamlet ini seperti menegaskan bagaimana seorang anak manusia dalam hal ini Hamlet begitu gelisah dengan lingkungannya.

Bahkan sampai menyangsikan segala yang dilihat termasuk dirinya sendiri. Ditambah dengan kehadiran sosok sahabat karib Hamlet yaitu Horatio dan wanita yang sangat mencintai Hamlet Ophelia, menjadikan jiwa Hamlet yang getir semakin teraniaya.

Pertunjukan malam itu semakin hidup dengan keputusan sutradara SFN Labs yang menyertakan medium visual. Termasuk memvisualkan sosok Hamlet setelah menyatakan kemuakannya dan memutuskan untuk meninggalkan panggung karena melihat keadaan diri dan lingkungannya. Hal itu memunculkan citra lain ke penonton bagaimana aktor Hamlet yang sudah tidak menginginkan dirinya melakoni sosok Hamlet lagi berbicara dari luar gedung pertunjukan.

“Saya ingin berhenti bermain,” teriak Hamlet beberapa kali kemudian turun dari panggung dan keluar.

Untuk diketahui, naskah Hamlet Machine karya Heiner Muller ini awalnya merupakan naskah monolog yang dibaca ulang dalam bentuk garapan lain, yaitu dengan memainkan sembilan aktor yang enam diantaranya menjadi perwujudan batin Hamlet serta penggunaan medium visual.

SFN Labs sendiri merupakan kelompok teater yang dimotori oleh Syamsul Fajri Nurawat dengan niat membuka ruang-ruang penelaahan baru terhadap ruang ekspresi seni. Baik dalam bentuk laboratorium seni pertunjukan, performance art, dan new media art.

Salah seorang seniman NTB, Kiki Sulistyo kepada suarantb.com pasca pertunjukan menyampaikan kalau naskah Hamlet Machine memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Terutama saat mengambil keputusan garapan memakai banyak aktor dan menggunakan lintas media.

Terutama bagi para aktor, karena dari konsep garap yang ditampilkan sang sutradara. Ia melihat ada beberapa aktor termasuk pemeran Hamlet yang emosinya harus keluar masuk baik saat menjadi tokoh Hamlet maupun seorang sosialis yang menggunakan sosok Hamlet sebagai ruang masuk dalam mengkritisi kondisi yang ada.

“Tokoh Hamlet itu bukan Hamlet, tetapi sosok sosialis yang menggunakan Hamlet untuk menyampaikan gagasan-gagasannya,” ujar Kiki.

Kiki mengatakan SFN Labs melalui sutradaranya yang akrab disapa Jabo harus berpikir keras dalam merajut pertunjukan Hamlet Machine. Sehingga menjadi sebuah bentuk pertunjukan yang utuh. Kiki juga mengatakan kalau hal tersebut merupakan bagian penting yang tidak boleh luput dari perhatian sutradara.

Karena pilihan konsep garapan Hamlet Machine sangat rentan tidak dipahami penonton apabila aktor yang menjadi pengejawantah dari naskah dan gagasan sutradara tidak bisa memahami secara komprehensif apa yang diinginkan. “Pertunjukan ini rentan untuk tidak dipahami. Apa lagi kalau aktor tidak paham apa yang diinginkan Jabo. Sama dengan Hamlet, dia itu bukan memainkan sosok Hamlet, tapi seorang sosialis,” pungkasnya. (ast)