Festival Presean, Tanding Persahabatan Para Pepadu

Mataram (suarantb.com) – Rangkaian acara Festival Mentaram berupa permainan rakyat, yaitu Festival Presean digelar di Lapangan Sangkareang, Mataram, Jum’at sore, 25 November 2016. Acara yang digelar tersebut berupa pertandingan persahabatan (eksibisi) antara pepadu-pepadu perwakilan dari empat kabupaten dan kota yang ada di Pulau Lombok, yaitu Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, dan Kota Mataram. Pertandingan tersebut dibuka langsung Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana dengan penampilan eksibisi gasing dan laga presean pembuka.

Masing-masing kabupaten dan kota mengutus sepuluh pepadu mate tanding terbaiknya pada pertandingan sore hari ini. Kendati bukan merupakan kompetisi berhadiah, semua pepadu menampilkan pertarungan-pertarungan sengit namun menghibur masyarakat Kota Mataram yang hadir di medan laga tersebut. Ratusan masyarakat pertepuk dan bersorak riuh menyemangati pepadu andalan mereka, memeriahkan cuaca mendung sore itu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Mataram, H. Abdul Latif Nadjib mengatakan pertandingan mate tanding atau pertandingan eksibisi tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk pertandingan. Namun juga menampilkan ketangguhan teknik laga dan olah kanuragan, etika, dan tatanan budaya dan tradisi para pepadu yang berpartisipasi dalam pertandingan itu.

“Jadi tidak ada hadiah. Mereka diundang khusus untuk menampilkan kepada masyarakat bahwa presean tidak hanya olahraga, tapi juga ada magis di sana,” paparnya kepada suarantb.com.

Latif menjelaskan presean merupakan permainan suku Sasak yang dahulunya merupakan tradisi yang dilakukan setelah musim panen atau acara-acara besar. Konon, tradisi presean digunakan oleh masyarakat suku Sasak sebagai ritual minta hujan. Jika dalam pertandingan ada pepadu yang mengalami luka bocor di kepala, hal tersebut merupakan pertanda akan terjadinya hujan.

Seiring perkembangan zaman, tradisi presean ditujukan sebagai olahraga dan olah kanuragan untuk membangun kegagahan pemuda-pemuda Sasak. Tidak hanya mengajarkan ketangkasan dan seni gerak laga menggunakan tongkat pemukul dan tameng sebagai pelindung dari pukulan tongkat lawan, presean juga dimaksudkan untuk membangun jiwa sportivitas pemuda sasak sama seperti olahraga lainnya.

Nama presean sendiri diambil dari nama perisai yang digunakan untuk menangkis pukulan lawan. Pukulan menggunakan tongkat yang dilagakan dalam presean ini tidak diperbolehkan sebagai pukulan emosional, namun semata-mata merupakan tanding. Dengan demikian, pertandingan dinyatakan usai dan pepadu dinyatakan menang setelah lawan mengalami luka sebetan tongkat. Setelah pertandingan usai, para pepadu menjalin persahabatan dengan dengan saling memberikan pelukan satu sama lain, sehingga tidak ada permusuhan yang ditimbulkan.

Para pepadu yang sebagian besar merupakan anak-anak muda tersebut bahkan menjalin keakraban dalam festival yang digelar sore itu. Tidak hanya antar pemain, penonton yang hadir di acara tersebut pun diajak berpartisipasi memeriahkan acara dengan mengadakan laga suka rela. Beberapa penonton pria dengan gembira mencoba beradu ketangkasan di tengah medan laga. Sehingga acara yang ditujukan untuk menghibur rakyat tersebut berlangsung gembira dan disambut penuh antusias oleh masyarakat. (rdi)