Terus Berevolusi, Modal Bertahan Teater Garasi

Mataram (suarantb.com) – Teater Garasi adalah salah satu kelompok teater yang namanya sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat seni teater Indonesia bahkan mancanegara. Meski tidak setua beberapa kelompok teater lainnya di Indonesia, Teater Garasi yang mampu bertahan selama 23 tahun telah menunjukkan prestasi luar biasa. Terutama di zaman yang semakin menjadikan uang sebagai patokan akhir dalam melakukan suatu pekerjaan. Terus melakukan evolusi adalah modal dasar Teater Garasi tetap bertahan sampai hari ini.

Demikian disampaikan Manajer Program Teater Garasi, Lusia Cahyani saat menjadi salah satu pemateri Lokakarya Penguatan Komunitas di NTB yang diadakan Koalisi Seni Indonesia bersama Forum Teman Seni Lombok dan SFn Labs Mataram, Jumat, 25 November 2016.

Lusi, begitu panggilan akrabnya, mengatakan bahwa jalan kesenian khususnya teater harus diyakini sebagai sarana berkontribusi untuk masyarakat. Salah satu indikatornya adalah terus melakukan pembacaan ulang dari setiap hal yang sudah dilakukan.

“Setiap lima tahun sekali kami selalu mengevaluasi ulang dan merumuskan kembali apa yang ingin dicapai,” ujar Lusi.

Hal itu, lanjut Lusi selain sebagai cara untuk terus mencari formulasi terbaik dalam praktik berkesenian juga efektif membuat Teater Garasi bertahan selama 23 tahun sejak didirikan tahun 1993 lalu.

“Merumuskan lagi apa yang ingin kita (Teater Garasi) setiap jangka waktu lima tahun. Dalam lima tahun kita akan mencapai apa? Kalau udah lima tahun kita evaluasi lagi. Kita tanyakan lagi apakah benar itu sudah cocok dan benar-benar kita inginkan ataukah ada jalan baru yang ingin kita tuju,” ujarnya.

Lusi mengatakan dibutuhkan ketahanan mental untuk tetap setia menjalani profesi sebagai seniman teater. Harus ada keyakinan dan kerelaan luhur untuk tetap menjalani prosesnya. Karena seni teater khususnya di Indonesia belum bisa memberikan keuntungan secara finansial.

“Tidak ada satupun kelompok teater di Indonesia yang profit motif. Nggak bisa kita profit motif di teater,” katanya.

Oleh karena itu, ia menyarankan untuk mengubah pola pikir dalam memandang tujuan berteater sebelum memutuskan menjadi bagian di dalamnya. Karena teater khususnya di Indonesia tidak menjanjikan keuntungan secara finansial. Teater merupakan jalan bagi seseorang atau kelompok untuk berbagi secara tulus pada penonton selaku masyarakatnya.

“Bahwa kami percaya teater ini adalah jalan yang kami pilih sebagai profesi. Dan jalan kesenimanan adalah jalan yang kami pilih dalam hidup. Kami percaya teater adalah alat kami untuk membaca persoalan dan cara kami berkontribusi melalui pertunjukan kami ke masyarakat,” pungkasnya.

Untuk diketahui, dalam kegiatan tersebut turut hadir sebagai pemateri di antaranya Fasilitator Manajemen asal Jakarta Idaman Andarsamoko, pegiat komunitas asal Mataram Roni Este dan Fasilitator pengarsipan asal Jakarta Sugeng Wibowo. Acara akan berlangsung selama empat hari. Dua hari pertama dari tanggal 25-26 dan dua hari selanjutnya dari tanggal 29-30 November 2016 yang bertempat di Sekretariat SFn Labs Mataram. (ast)