Kecelakaan Boat, Disbudpar NTB Desak Kementerian Perhubungan Tertibkan Jalur

Mataram (Suara NTB) – Kecelakaan kapal cepat (boat) yang terjadi pekan lalu sangat disayangkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi NTB. Pasalnya kapal cepat tersebut bertolak dari Bali menuju destinasi wisata Gili Trawangan. Kejadian itu dikhawatirkan berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan menuju Gili Trawangan. Melihat kondisi tersebut, Disbudpar Provinsi NTB telah mendesak Kementerian Perhubungan untuk segera mengambil tindakan dengan melakukan penertiban jalur.

“Kita sudah lama minta agar jalur itu ditertibkan. Saya rasa dengan adanya kecelakaan tersebut Kementerian Perhubungan selaku pemberi keputusan bisa mengambil tindakan untuk menertibakn jalur tersebut,” kata Kepala Disbudpar NTB H. L. Muh. Faozal, S.Sos, M.Si kepada Suara NTB, di Mataram, Senin, 19 September 2016.

Diketahui bahwa pada Kamis, 15 September 2016 lalu kapal cepat yang membawa 35 orang wisatawan dari  Bali menuju Gili Trawangan meledak di Perairan Tanjung Sari Padangbai. Kecelakaan tersebut mengakibatkan dua orang wisatawan mancanegara meninggal dunia dan 20 orang lainnya luka-luka.

Baca juga:  Kapal Pesiar Malaysia Tenggelam di Bima

“Ini berkaitan dengan keselamatan wisatawan, tentu saja ini ada dampaknya terharap pariwisata kita,” ujar Faozal.

Penertiban tersebut dirasa perlu bukan hanya karena terjadinya kecelakaan, namun juga berkaitan dengan banyaknya keluhan dari pelaku pariwisata di NTB. Pembukaan jalur dari Padangbai ke Gili Trawangan ini dianggap tidak benar. Sebab para pelaku pariwisata di Bali membuat paket tour Bali ke Trawangan tanpa melibatkan pelaku pariwisata yang ada di NTB.

Saat ini rata-rata setiap hari kapal cepat dari Bali menuju Trawangan sebanyak 24 kapal. Untuk satu kapal berisi hingga 60 orang wisatawan. Sehingga terdapat ribuan orang yang mendatangi Trawangan setiap harinya melalui Bali.

Baca juga:  Kapal Pesiar Malaysia Tenggelam di Bima

Melihat semakin banyaknya kapal cepat yang datang melalui Bali itu, aspek keamanan dan lingkungan dianggap perlu untuk dibenahi. Salah satu cara yaitu dengan menertibkan dan mengganti rute penyeberangan. Sehingga keamanan dapat terpantau dengan baik. “Penertiban ini juga berkaitan dengan keamanan di jalur laut,” ujarnya.

Para pelaku pariwisata sebelumnya juga berharap penertiban itu dapat segera dilakukan. Pasalnya kedatangan kapal cepat dari Bali menuju Trawangan mengakibatkan Trawangan menjadi sesak karena terlalu banyak pengunjung yang datang setiap harinya melalui Bali.

“Nanti kita ubah rutenya. Sebisa mungkin agar wisatawan ini bisa singgah di Lombok juga. Dan melakukan berbagai aktifitas wisata lainnya. Misalnya membeli oleh-oleh dan lain-lain,” ujarnya. (lin)