Musik Jazz akan Jadi Ikon Baru Festival Senggigi

Mataram (Suara NTB)Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat (Lobar) melihat ada satu ‘’irisan’’ antara musik dengan pariwisata. Karena musik akan menjadi cara lain promosi untuk semakin menggairahkan geliat kunjungan di destinasi wisata. Salah satu bentuknya, dengan menyiapkan panggung untuk musisi jazz. Objeknya kawasan Senggigi, untuk mengangkat kembali destinasi ini sebagai ikon wisata.

Dengan musik, kata Kepala Dinas Pariwisata Lobar, Ispan Junaidi, sebagai bentuk baru mengapresiasi seni dengan tujuan promosi. ‘’Konsepnya, kita mendaur ulang dari Festival Senggigi. Sebab promosi butuh branding baru,’’ katanya menjawab Suara NTB, Senin (1/8/2016) malam di Kafe Bandini, Mataram.

Konsep yang akan disajikan dengan judul, Pesona Wisata Senggigi Jazz Internasional Festival. Sehingga dalam festival nanti, tidak selalu soal pawai dan atraksi budaya. Kali ini, kolaborasi musik akan dipertunjukkan, menjadi arena baru para komunitas jazz nasional dan internasional. Melalui panggung ini, Senggigi yang kini semakin ketat kompetitor dengan menjamurnya spot wisata baru, akan dikenal kembali seperti masa kejayaan tahun-tahun sebelumnya.  Menyedot kunjungan festival nanti, pihaknya akan membuat tagline, “Come to Senggigi Lombok for Jazz”.

Ispan Junaidi menyadari, selama ini ikon Senggigi seputar pantai dan sunset. Sementara kompetisi destinasi wisata lain semakin beragam spot yang ditawarkan. Sehingga hemat mantan Kadis Dikpora Lobar ini, perlu ada elaborasi seni, musik dan tradisi. Maka yang efektif ke depan adalah jazz. Karena musik ini menurutnya, penikmatnya dari komunitas yang “kekal” dan ada dari seluruh penjuru dunia.  ‘’Di Jawa kan ada jazz gunung disebut Jazz Bromo. Nah di Lombok kita adakan Jazz Beach Festival,” sebutnya.

Karena judulnya lebih mengglobal, bisa dipastikannya kehadiran musisi jazz dari berbagai negara akan semarak dengan peralatan musik wajib seperti gitar, trombon, piano, terompet, dan lainnya.

Karena ini konsep baru, tentu tidak langsung diaktualisasikan di Festival Senggigi yang sudah masuk agenda kalender tahunan. Tapi akan diawali dengan kegiatan tunggal tanggal 20 Agustus mendatang, melibatkan  komunitas pecinta Jazz Lombok dan tingkat nasional. ‘’Kita ini trial dulu, sebab baru memulai. Setelah ini kita masukkan ke Festival Senggigi, akan menjadi agenda tahunan,’’ terangnya.

Instansinya akan terus mendorong konsep ini agar familiar dan diterima sebagai cara promotif yang baru. Mendorong seni tradisi, berkolaborasi dengan band lokal dan musik tradisional. ‘’Supaya mereka musisi lokal bisa main di panggung internasional,’’ terangnya.

Ini nanti diharapkan akan mendorong partisipasi masyarakat untuk aktif mendukung perkembangan pariwisata daerah. Masyarakat sekitar harus merasa menjadi bagian dari pariwisata. Sehingga saatnya nanti,pemerintah bersama masyarakat sepakat bisa menikmati hidup mapan hanya dari pariwisata. ‘’Kita harus sepakat, masyarakat NTB harus makan dari pariwisata. Sebab alam kita tidak ada duanya, tinggal bagaimana dukungan budayanya,’’ ujarnya.

Dalam event nanti, meskipun berlabel internasional, masyarakat harus ambil bagian sebagai cara membentuk mental pariwisata masyarakat dan mendapat berkah dari acara di maksud. ‘’Yang mau tampilkan kreativitas silakan. Yang mau atraksi silakan. Yang mau jualan juga silakan. Sebab kami sudah sepakat. Pariwisata tidak boleh berkafilah kafilah. Asalnya dari semua lintas dan dipersatukan oleh industri pariwisata,’’ pungkasnya. (ars)