Lebaran Topat, Lebaran “Nine” dan Lebaran “Konteq”

Mataram (suarantb.com) – Lebaran topat merupakan peristiwa budaya yang dilangsungkan tujuh hari pasca-perayaan Hari Raya Idul Fitri. Menurut budayawan, perayaan lebaran topat merupakan wujud rasa syukur manusia kepada Tuhan.

Di Lombok Barat sendiri, ada beberapa tempat yang biasanya menjadi tujuan ziarah ketika peristiwa tersebut berlangsung. Di antaranya, makam Batu Layar dan makam Sesele. Sementara di Kota Mataram, ada makam Bintaro dan makam Loang Baloq. Pada saat Lebaran Topat berlangsung,  masyarakat beramai-ramai mendatangi tempat-tempat tersebut dengan membawa dulang lengkap dengan sesajian lainnya. Hal itu dimaksudkan sebagai wujud rasa syukur atas karunia Allah SWT.

Sebagaimana disampaikan salah seorang budayawan yang juga Kepala Sekolah Yayasan Sekolah Pedalangan Wayang Sasak, Muhaimi kepada suarantb.com, Rabu 13 juli 2016. Menurutnya, dulang yang dibawa masyarakat ke makam-makam itu sebagai wujud nyata rasa syukur tersebut.

“Artinya, setelah selesai tujuh hari berpuasa di bulan syawal itu, mereka sangat berterima kasih dan bersyukur. Walaupun hidangannya sederhana seperti urap-urap, topat, tempe dan ikan asin,” katanya.

Selain sebagai perwujudan rasa syukur, banyak muatan-muatan lain yang terkandung dalam Lebaran Topat. Dalam prosesnya, sebagai sebuah tradisi, Lebaran Topat sering kali salah dipahami oleh sebagian besar masyarakat. Ketidakpahaman ini lebih disebabkan oleh latahnya masyarakat menilai tradisi atau budaya dimaksud.

Pada fase selanjutnya, hal ini diperparah dengan sempitnya pandangan masyarakat dalam menilai peristiwa-peristiwa budaya. “Kalau seusia saya ke atas ini masih bisa (memahami). Tetapi umur saya kebawah ini sudah sulit,” tuturnya.

Padahal, lanjut Muhaimi, jika dikaji lebih dalam, banyak makna-makna filosofis yang tersirat dalam Lebaran Topat. Semisal prosesi besembek di makam Batulayar dengan ritual berzam-zam terhadap seorang anak, lantas dibawa ke Batulayar kemudian di-pupuk. Hal tersebut dimaksudkan agar kelak si anak menjadi berguna bagi agama, bangsa dan negaranya. Selain itu, pengambilan air di Lingkokmas menjadi menarik ketika didalami.

Muhaimi menambahkan, pesan yang ingin disampaikan adalah, kita sebagai manusia dituntut untuk menjaga air agar tidak terkontaminasi limbah, sehingga tak tercemar seperti sekarang. “Kalau orang dulu kan selalu menjaga, kalau sekarang kan nggak ada orang yang takut merusak ini itu,” katanya.

Lebih jauh, Muhaimi juga menjelaskan kalau lebaran topat itu disebut juga dengan lebaran nine. Hal tersebut dikarenakan dalam tradisi masyarakat Sasak, biasanya puasa tujuh hari pada bulan Syawal lebih banyak dilaksanakan oleh kaum perempuan. “Kebanyakan yang menjalankan puasa itu kan yang nine itu, sudah selesai puasa bulan Ramadhan, dia sambung disitu,” jelasnya.

Ia juga melanjutkan kalau Lebaran Topat itu menjadi hari kemenangan bagi yang menjalankan puasa tujuh hari di bulan syawal. Lanjut Emi, Karena puasa bulan Syawal hanya tujuh hari, lebih pendek dari bulan Ramadhan, maka selain disebut lebaran nine, lebaran topat juga disebut lebaran konteq (pendek).

“Lebaran topat adalah lebaran adat. Kalau Idul Fitri disebut lebaran belo maka lebaran topat juga di sebut lebaran konteq,” katanya.

Selain hal-hal di atas, papar Muhaimi, ada tiga hubungan yang diisyaratkan oleh lebaran topat melalui ritualnya. Pertama, hubungan manusia dengan manusia dalam bentuk silaturrahmi ketika bertemu di tempat ziarah. Kedua, hubungan manusia dengan Tuhan, melalui do’a-do’a yang dipanjatkan. Yang terakhir, hubungan manusia dengan leluhurnya.

“Pesan lebaran topat, selain itu juga, (ada) hubungan terjadi di sana. Hubungan sesama manusia, hubungan manusia dengan tuhan itu juga terjadi di sana (makam). Bahkan hubungan manusia dengan leluhurnya juga terjadi di sana,” katanya.

Ketika ditanya perihal anak-anak muda yang memahami lebaran topat sebagai ajang hiburan bahkan liburan saja, Kepala Sekolah Sanggar Pedalangan Wayang Sasak ini mengatakan jika hal tersebut tak terlepas dari peran orang tua yang tak memberikan edukasi kepada anak-anaknya,bagaimana pentingnya menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal kita.

“Itu sebenarnya syiarnya kita itu, penyampaian kita pada generasi kita hampir tidak ada sama sekali. Kalau dulu nggak berani kita melangkah sebelum kita ke makam,” ujarnya.

Terkait sejauh mana keterlibatan pemerintah dalam mempertahankan tradisi budaya, ketua Sanggar budaya selaparang ini mengaku, “banyak sih event-event. Tapi masih sangat sedikit (keterlibatan masyarakat). Hanya SKPD (yang mengadakan). Belum menyeluruh kepada tingkat masyarakat,” ujarnya. (ast)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.