Gubernur Ajak Bangun Kekuatan Lewat Silaturahmi

Mataram (Suara NTB) – Momentum perayaan Idul Fitri 1437 Hijriah dimanfaatkan Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga silaturahmi. Sebab, silaturahmi bisa mendekatkan hati dan akan melahirkan kekuatan untuk membangun daerah.

Hal itu disampaikan gubernur saat menyampaikan sambutan, sesaat sebelum dimulainya Shalat Id, di halaman Kantor Gubernur NTB, Rabu (6/7). Dalam sambutannya, gubernur yang akrab disapa TGB (Tuan Guru Bajang) ini menyampaikan permohonan maaf atas nama Pemprov NTB, keluarga dan selaku pribadi. Dengan saling memaafkan dan didahului tobat kepada Allah SWT, maka diharapkan tercapai hubungan yang harmonis antara manusia dengan Allah SWT dan sesama manusia.

TGB juga bersyukur bahwa selama pelaksanaan takbir satu malam penuh, ia tidak mendapati adanya laporan terkait insiden yang merugikan kondusivitas daerah. ‘’Semua dapat dilaksanakan dengan aman dan baik, dan Insya Allah dengan penuh kekhusyukan,’’ ujarnya.

Ia meyakini, aktivitas umat Islam yang mengumandangkan takbir dan tahmid menjelang perayaan Idul Fitri dapat menjadi bekal untuk membangun daerah dengan mengagungkan asma Allah. ‘’Memuliakan Allah yang maha mulia, maka Insya Allah kita pun akan menjadi orang – orang yang mulia,’’ ujarnya.

 

Melawan Perilaku Hewani

 

Khatib Shalat Id, Dr. H. Najmul Akhyar, SH, MH dalam khotbahnya menyampaikan bahwa seruan Allahu Akbar adalah semangat perlawanan terhadap perilaku hewani yang kerap kali menghinggapi kita. Sebab, ketika substansi takbir ini hilang dari dalam diri manusia, manusia bisa melakukan apa saja untuk memuaskan hawa nafsu yang dia besarkan. ‘’Bukankah Allah SWT telah membentangkan bukti itu di hadapan kita?”

 

Najmul mencontohkan, sejumlah perilaku masyarakat yang jauh dari nilai kemanusiaan. Misalnya saja, ayah kandung yang menyembelih anaknya sendiri, seorang anak yang memenjarakan ibu kandungnya sendiri hanya karena persoalan tanah warisan. Selain itu, juga berita tentang seorang ibu yang membakar diri bersama dua buah hatinya karena khawatir terhadap masa depan anak-anaknya. Ada pula kisah tentang seorang siswi SD yang terganggu sekolahnya karena dicabuli oleh kakeknya sendiri. ‘’Dan seperti petir di siang hari, kita begitu terkejut ketika membaca sebuah berita tentang seorang anak menghamili ibu kandungnya sendiri.’’

 

Menurut Najmul, Ramadhan dihadirkan oleh Allah SWT sebagai bulan tarbiyah, serta merupakan bentuk nyata kasih sayang Allah SWT kepada kita semua. Menurutnya, selama 11 bulan sebelum Ramadhan, kita seringkali mengeluh dan merasakan Allah SWT begitu jauh. ‘’Jiwa kita terasa kering karena ma’iyah (kebersamaan)  kita dengan Allah tidak maksimal. Bahkan boleh jadi kita menganggap bahwa kekeringan jiwa itu disebabkan karena Allah menjauhi kita,’’ ujarnya.

 

Menurut Najmul, pemikiran semacam itu harus ditata ulang. Sebab, sesungguhnya Allah tidak pernah menjauhi kita. Allah SWT bahkan ingin selalu mendekap kita dalam kasih sayangnya. Sayangnya, Allah mungkin sangat jarang menemukan sosok kita.

“Allah mencari kita di antara orang-orang yang salat berjamaah, kita tidak ada di sana. Allah mencari kita diantara orang-orang salat duga, kita juga tidak hadir di sana.  Allah mencari kita di antara ribuan jamaah pengajian dan majelis ta’lim pun kita sangat susah ditemukan. Apalagi Allah mencari kita diantara orang-orang bersedekah, orang-orang yang berzakat dan juga di rombongan jamaah haji, kitapun tidak nampak,” ujar Najmul.

 

Najmul mempertanyakan, bagaimana mungkin Allah akan menumbuhkan perasaan dekat jika kita terus menjauh dariNya? “Saudaraku, bahayanya jauh dari Allah membuat kita seringkali tidak sadar bahwa sesungguhnya Allah SWT sedang menghukum kita,” tandas Najmul.

Di akhir ceramahnya, Najmul mengajak masyarakat untuk membangun kepedulian kepada saudara-saudara kita dengan mengeluarkan zakat fitrah, zakat mal, infaq dan sedekah lainnya. (aan)