BTNT Berencana Wajibkan Pendaki Kantongi Suket Bebas Covid-19

Deny Rahadi. (Suara NTB/jun)

Dompu (Suara NTB) – Surat Edaran (SE) Dirjen KSDAE yang berkaitan dengan pembukaan kembali tempat wisata di kawasan konservasi tengah dirancang. Diantara poin utamanya yakni menerapkan protokol penanganan Covid-19 dalam setiap aktifitas wisata, kemudian membatasi kunjungan maksimal 50 persen dari daya dukung dan daya tampung. Pun dalam klausul tersendiri diwajibkan membawa Surat Keterangan (Suket) bebas Covid-19. Namun saran Balai Taman Nasional Tambora (BTNT) jaminan tersebut harus diterbitkan puskesmas atau rumah sakit daerah tujuan wisata.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha BTNT, Deny Rahadi, S. Hut, M. Si., kepada Suara NTB di kantornya, Selasa, 2 Juni 2020 menjelaskan, usulan mengharuskan suket diterbitkan daerah tujuan wisata yang sudah menjalin kerjasama dengan pihaknya itu, semata-mata untuk memastikan pengunjung bebas dari Covid-19. “Karena ketika itu tidak diterangkan secara rinci bisa saja mereka bawa dari daerah asal, tapi kita tidak tahu di bandara, pelabuhan, angkutan umum, mobil dia terjangkit virus Corona terus dibawa ke kawasan,” terangnya.

Iklan

Usulan demi penyempurnaan surat edaran yang baru berbentuk draf tersebut, menurutnya, penting sebagai upaya menangkal penyebaran virus Corona. Pun dalam membuat keputusan membuka jalur mesti ada persetujuan dari pemerintah desa lingkar kawasan.

Karena bagaimanapun saat ini penerapan protokol penanganan Covid-19 sangat ketat. Seperti misalnya di jalur pendakian Pancasila, jangankan pengunjung petugas BTNT saja masih tetap harus menjalani pemeriksaan untuk bisa masuk wilayah pengelolaan. “Jangankan pengunjung kami yang bertugas tetap harus diperiksa, karena memang niat kita saling menjaga,” ujarnya.

Ditegaskan, empat jalur resmi pendakian tambora sampai sekarang masih ditutup BTNT. Jika akhirnya dibuka dengan beberapa persyaratan diatas, tugas beratnya ialah mengawasi penerapan protokol penanganan Covid-19 di lapangan. Jika dengan 10 orang pendaki saja bisa kewalahan mengatur, apalagi sampai 50 persen dari daya dukung dan daya tampung.

  Lahan Tebu PT SMS Kembali Terbakar

Tidak kalah bahaya dari rencana pembukaan jalur tersebut, tambah Deny Rahadi, yakni berkunjungnya orang dengan status tanpa gejala Covid-19. “Yang masalah inikan orang tanpa gejala. Kalau yang ingin mendaki sudah sangat banyak mengantri, tapi selalu kami himbau untuk tahan dulu karena tambora masih tutup akibat Covid-19,” pungkasnya. (jun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here