BRT Rute Senggigi-Narmada Segera Diuji Coba

Mataram (suarantb.com) – Bus Rapid Transit (BRT) atau Bus Trans Mataram segera diuji coba untuk menghitung rincian biaya operasional kendaraan. Operasional BRT ini akan jadi angkutan umum pelajar, bukan transportasi massal seperti rencana semula. Uji coba BRT dimulai di koridor satu, yaitu jalan yang menghubungkan Senggigi-Narmada, di mana di koridor tersebut telah dibangun lima halte.

Kepala Bidang Pengendalian Operasional dan Rekayasa Lalu Lintas, Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Mataram, Mahfuddin Noor mengatakan operasional BRT ini rencananya dimulai sebelum memasuki 2017.

Iklan

“Insya Allah, akan dioperasikan tahun 2016, mudah-mudahan bisa menjadi kado ulang tahun NTB,” harapnya, Senin, 24 Oktober 2016.

Sementara ini, Dishubkominfo Kota Mataram bersama Dishubkominfo Provinsi NTB dan Lombok Barat masih merumuskan sistem operasional BRT tersebut. Di Kota Mataram sendiri, BRT yang diuji coba akan beroperasi sepanjang koridor satu dengan melewati sekolah-sekolah, sebab masih dikhususkan untuk angkutan umum pelajar.

Jumlah BRT yang akan dioperasikan disesuaikan dengan kebutuhan transportasi pelajar serta disesuaikan dengan fasilitas sarana dan prasarana yang ada di Kota Mataram. Ketersediaan halte pun akan terus dianggarkan adanya tambahan halte pada 2017.

Sementara untuk tarif bus dalam uji coba akan digratiskan, sebab masih bersifat sosialisasi penggunaan bus trans kepada masyarakat luas. “Karena ini modelnya subsidi operasional, bisa jadi untuk tahap-tahap awal untuk sosialisasi bisa gratis, tapi untuk pelajar,” ujarnya.

Penggunaan BRT diharapkan dapat mengurangi tingkat pemakaian sepeda motor anak di bawah umur. Untuk memaksimalkan penggunaan BRT ini, Dishubkominfo Kota Mataram telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Mataram.

Mahfuddin mengatakan perlu dibangun pola pikir pelajar untuk lebih cenderung memanfaatkan fasilitas angkutan umum dibanding kendaraan pribadi. “Tapi kembali lagi, mereka akan mau mnggunakan angkutan umum manakala sudah ada di depan dia. Bagaimana bisa kita paksakan menggunakan angkutan umum kalau jauh haltenya,” jelasnya. (rdi)