Bronjong Pengaman Banjir Taliwang Kembali Dipersoalkan Masyarakat

Taliwang (Suara NTB) – Masyarakat yang berada di Kelurahan Dalam, Kecamatan Taliwang, kembali mempersoalkan kelanjutan dari proyek pengamanan banjir berupa bronjong di Daerah Aliran Sungai (DAS) Taliwang. Hal ini kembali disuarakan masyarakat, pasalnya kondisi saat ini sudah sangat memprihatinkan yang dikhawatirkan bisa terjadi longsoran.

Pantauan Suara NTB menggambarkan, titik yang dikhawatirkan terjadi longsor yakni di lingkungan Sebok (jembatan karang beleong). Bahkan saat ini ada beberapa karung pasir terlihat berada di belakang rumah salah satu warga untuk menahan terjadinya longsoran.

Iklan

Hal ini tentu sangat disayangkan oleh masyarakat, karena pada hakikatnya proyek pengaman banjir dengan nilai sekitar Rp19,6 miliar masih ada titik- titik yang masih belum terpasang. Hal yang paling dikhawatirkan yakni titik yang berada Kelurahan Dalam, karena jika tidak disikapi dengan cepat, maka rumah warga juga akan longsor.

Lurah Kelurahan Dalam Hasdar Jafar, S.E, Kepada Suara NTB, Jumat, 4 Mei 2018 mengatakan, sebenarnya di lokasi ini sudah terbangun bronjong, tapi karena sudah lama akhirnya tergerus air. Saat dilakukan sosialisasi, dengan anggaran sekitar Rp19,6 miliar tersebut sudah mencakup perbaikan terhadap kondisi bronjong yang berada di Kelurahan Dalam.

Pihaknya juga dijanjikan nanti ketika curah hujan tidak lagi tinggi, baru akan dilakukan perbaikan lanjutan di lokasi tersebut. Tapi hingga saat ini belum ada kejelasan untuk perbaikan dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I. Padahal sudah sangat banyak masyarakat setempat meminta supaya bisa segera, karena kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan.

“Kita dijanjikan curah hujan sedikit baru akan dilanjutkan pekerjaan yang ada. Tapi nyatanya hingga kini juga masih belum jelas,” ungkapnya.

Dikatakannya, memang untuk saat ini lokasi yang dikhawatirkan longsor  masih bisa ditahan dengan tumpukan karung pasir yang dilakukan secara swadaya masyarakat. Tetapi hal yang paling dikhawatirkan oleh masyarakat yakni ketika musim hujan tiba, karena tidak mungkin karung pasir yang sudah terpasang saat ini menahan gusuran air yang cukup kuat. Apalagi kondisinya saat ini masih belum ada kejelasan dari BWS untuk melanjutkan pekerjaan yang ada. Sehingga masyarakat sangat was-was ketika musim penghujan tiba  karena air sungai pasti akan meluap.

Untuk itu, pihaknya sangat berharap kepada Pemerintah untuk mengambil sikap dengan cepat terkait masalah ini. Jika masalah tersebut tetap dibiarkan berlarut maka masyarakat yang akan merasakan dampaknya.

“Kami minta Pemerintah segera mengambil sikap terkait masalah ini. Kalaupun ini bukan proyek Pemerintah Kabupaten, minimal bisa memberikan informasi kondisi  terkini untuk segera disikapi,” ujarnya.

Menanggapi masalah tersebut, Asisten II Setda Sumbawa Barat Dr. Ir. H. Amry Rakhman M. Si, mengatakan dalam waktu dekat akan segera melakukan komunikasi dengan BWS untuk segera melanjutkan pekerjaan yang ada. Jika BWS tidak memiliki anggaran untuk bisa dilanjutkan di tahun 2018, maka pihaknya akan mencoba mencari jalan keluar dari pembiayaan yang lainnya. Karena untuk masalah ini (longsoran) sangat penting untuk segera disikapi secara serius.

Jika tidak segera masyarakatlah yang akan merasakan dampak apakah itu banjir maupun hal-hal yang lainnya. Untuk itu, pihaknya segera menggelar rapat dengan dinas tekhnis (DPU- PRPP) untuk mencari jalan keluar yang baik terkait persoalan ini.

“Komunikasi dengan BWS tetap kita lakukan untuk bisa segera melanjutkan pekerjaannya.  Selain itu, kita juga akan menggelar rapat dengan Dinas PU untuk langkah antisipasi jika perbaikan bronjong ini memerlukan waktu lama,” tandasnya. (ils)