BPS : Sektor Pertanian Jadi Kunci Penyelamat Ekonomi NTB

Suntono. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah mengumumkan memberlakukan kembali Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) secara ketat dan membatasi aktivitas usaha. Melihat tingkat perkembangan corona di dalam negeri trennya terus naik. Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah per Rabu, 6 Januari 2021, disampaikan oleh Menko Perekonomian, sekaligus Ketua KPC-PEN Airlangga Hartarto. Kebijakan pelaksanaan PSBB secara ketat ini diantaranya mengatur Work From Office (WFO) menjadi 25% dan Work From Home (WFH) menjadi 75%.

Kegiatan belajar mengajar masih akan daring. Sektor kebutuhan pokok masih akan beroperasi 100% namun dengan protokol kesehatan. Pembatasan jam buka pusat perbelanjaan alias mal sampai jam 19.00 WIB. Untuk restoran 25% dan pemesanan makanan harus take away dan delivery bisa tetap buka. Konstruksi masih tetap berjalan 100% dengan protokol kesehatan ketat dan rumah ibadah dibatasi 50%. Fasilitas umum ditutup sementara dan moda transportasi diatur lebih jauh.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Suntono, menyatakan prihatin atas kondisi yang melanda dunia, khususnya Indonesia saat ini. Pengetatan PSBB dan pembatasan kegiatan usaha ini pastinya, kata Suntono akan berdampak secara langsung terhadap perekonomian, khususnya di NTB. “PSBB tentunya akan berdampak pada pembatasan aktivitas orang, permintaan akan menurun, aktivitas barang juga otomatis akan terpengaruh,” katanya kepada Suara NTB.

Suntono kembali mengingatkan pentingnya menjaga sektor pertanian secara luas. Mencakup pertanian tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan kelautan perikanan. Karena sektor ini yang mampu bertahan dalam kondisi pandemi corona yang hampir setahun ini menyerang dunia. Sektor pertanian memberi konstribusi tertinggi terhadap komposisi perekonomian, mencapai 20 persen lebih. Serapan tenaga kerja di sektor ini juga tetap tak terlalu jauh pengaruhnya.

“Sektor pertanian secara luas, memang terpengaruh oleh corona. Tapi kecil. Pengaruhnya hanya daya beli masyarakat yang kurang untuk membeli produk-produk pertanian. Tapi kebutuhan manusia tidak lepas dari hasil-hasil pertanian. Itu yang membuatnya eksis,” imbuhnya. Sektor pertanian adalah sektor ungulan. Untuk mendongkrok sektor ini, tentu tidak dengan memperluas areal tanam. Apalagi pemerintah telah menetapkan lahan pertanian baku. Yang paling memungkinkan dilakukan adalah meningkatkan hasil produksi dan jumlah kali tanam.

“Dalam setahun agar bisa ditingkatkan sampai empat kali tanam misalnya. Produksi padi yang biasanya sampai 6 ton perhektar, bisa dinaikkan lebih tinggi. Tidak ada pilihan, massifkan teknologi tanam. Penggunaan bibit unggul,” sarannya. Jika sektor pertanian ini bisa didongkrak, dampak ekonomi NTB karena corona bisa diminimalisir.

Ada cara lain untuk menyelamatkan perekonomian. Yaitu mendorong lebih awal belanja pemerintah. Namun ia sangsi rekomendasi ini bisa dilakukan. “Dalam keadaan normal saja susah mendorong percepatan belanja di quartal I. Tapi Pak Gubernur dan Bu Wakil Gubernur sudah mendorong hal ini. Ditingkat pusat, pemerintah juga sudah melakukannya,” demikian Suntono. (bul)