BPPT Studi Banding ke ‘’Fraunhofer Institute for Chemical Technology’’ Jerman

Jerman (Suara NTB) – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)  RI, melakukan studi banding ke  Fraunhofer Institute for Chemical Technology di Pfinztal, Jerman, Rabu (9/11) lalu. Kegiatan ini bertujuan untuk melihat langsung fasilitas sekaligus mengunjungi lab yang dimiliki Fraunhofer Institute for Chemical Technology (ICT).

Dalam studi banding itu, sekaligus juga dibahas kemungkinan kerjasama penelitian di bidang bahan manufaktur untuk baterai. Langkah yang dilakukan BPPT RI disambut baik Fraunhofer ICT melalui Head of Department Fraunhofer ICT, Prof. Dr. Jens Tubke. Rombongan BPPT disambut hangat Jens Tubke dan tim.

Iklan

Jens Tubke menjelaskan, Fraunhofer ICT adalah organisasi litbang yang mengkhususkan kegiatannya dalam riset dan pengembangan terutama pada material, produk baterai dan metoda pengujian keamanan dan performanya. Sebagai salah satu institusi litbang yang besar di Jerman, Fraunhofer ICT didukung oleh 24 ribu staf dengan dana 2 miliar Euro per tahun. Dari dana tersebut sebanyak 33 persen merupakan dukungan pemerintah dan sisanya diperoleh dari kontrak kerja dengan pihak swasta/industri dan juga projek kerjasama dengan pihak pemerintah.

Dalam proses pengembangan produk baterai, penguasaan ilmu dan teknologi di bidang elektro-kimia (electrochemical) katanya, merupakan hal pokok yang harus terus ditingkatkan. Karena pada dasarnya dari proses elektrokimia ini akan dihasilkan sistem yang mampu menyimpan energi dengan kapasitas tertentu dan dengan tingkat toleransi tertentu terhadap lingkungan maupun mekanisme pemakaian.

Tuntutan masyarakat konsumen yang semakin beragam seperti harga yang semakin murah dan daya simpan yang tinggi. Kemudian, tingkat keamanan yang tinggi, tingkat toleransi terhadap sistem pemakaian yang sangat beragam, umur pemakaian yang semakin lama. Hal ini menuntut Jens Tubke, harus dilakukan dengan selalu meningkatkan kemampuan. Untuk memenuhi layanan kebutuhan tersebut, dilakukan melalui peningkatan kapasitas peneliti dalam berbagai bidang. Seperti inovasi pengembangan material baru, desain sistem, metoda pengujian keamanan dan performa dan lainnya.

  Anggota DPRD Sumbawa Dapil V Kebanjiran Aspirasi

Dalam studi banding juga berlangsung diskusi serius antara Tim dari BPPT yang terdiri dari anggota DPR RI Muhtar Tompo, Gatot Dwianto (BPPT), Agus Puji Prasetyono (Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Bidang Relevansi dan Produktivitas). Kemudian Ngakan Timur Antara (Staf Ahli Menteri Bidang Penguatan Struktur Industri Kementerian Perindustrian).  Asep Riswoko (dari BPPT), Nandang  Suhendra (dari BPPT yang juga Ketua Rombongan).

Hadir juga dalam penandatangan kerjasama itu,  Wisnu Sardjono Soenarso (dari Kemenristedikti). Atang Sulaeman (BPPT),  Dudi Iskandar (BPPT), Aris Darmansyah Edisaputra (BPPT), Suratna (BPPT), Suhendar I Sachoemar (BPPT), Ardi Matutu (BPPT) dan Shinta Pariama Simanjuntak (BPPT).

Terkait dengan Fraunhofer Institute for Chemical Technology, Ngakan Timur Antara, Staf Ahli Menteri Bidang Penguatan Struktur Industri Kementerian Perindustrian melihat, secara garis besar ditinjau dari rantai nilai (value chain), kegiatan yang dilakukan Fraunhofer Institute for Chemical Technology mencakup : analisa pasar, strategi dan konsultasi inovasi. Kemudian lisensing, penelitian dan pengembangan juga layanan teknis.

Dalam bidang riset dan pengembangan, kegiatan meliputi aspek teknologi dan produk, metoda proses, komponen dan sistem produksi. Bila dikaitkan dengan kondisi di dalam negeri katanya, dengan perhatian pemerintah yang semakin intensif dalam penyediaan sumber-sumber energi serta semakin maraknya perkembangan perangkat produk yang menggunakan berbagai jenis kapasitas dan desain sumber energi. Maka kehadiran baterai sebagai perangkat penyimpan energi menjadi semakin penting. Teknologi dan metoda analisis baterai perlu dikuasai di dalam negeri agar penggunaan komponen lokal bisa ditingkatkan dan ini berarti membantu peningkatan penguatan struktur industri nasional.

Menurut Ngakan Timur Antara, pengembangan industri baterai nasional perlu didukung oleh instansi litbang yang kuat. Perlu pendataan jumlah lembaga litbang yang bergerak dalam pengembangan baterai sehingga ke depan dapat dilakukan konsolidasi kegiatan litbang yang lebih terarah dan berkelanjutan. Balai Besar Bahan dan Barang Teknik  (B4T) Bandung di bawah Kementerian Perindustrian katanya, dalam beberapa tahun terakhir membangun kemampuan dalam  bidang riset material dan pengujian baterai. Kemampuan ini perlu ditingkatkan secara bertahap dalam mendukung industri baterai nasional.

  Loteng Pengirim TKI Terbesar Kelima Nasional

Terpisah, Anggota DPR RI dari Komisi VII, Dr.Muhtar Patompo  menambahkan, pemanfaatan energi surya setara dengan 4 kilo-Watt hour (kWh)/meter persegi/tahun di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan baterai sebagai sistem penyimpanan energi surya yang tepat. Peran baterai menjadi begitu penting mengingat aktivitas sel surya sangat tergantung pada kondisi cuaca di siang hari. Ketika matahari bersinar cukup terang, listrik yang dihasilkan akan cukup besar sehingga perlu ditampung dalam media penyimpanan energi. ‘’Untuk itu, baterai sebagai media penyimpan energi dituntut memiliki kerapatan energi tinggi,’’ katanya.

Jenis baterai yang menjadi andalan cadangan daya untuk sebagian besar instalasi sel surya saat ini masih berupa baterai asam timbal. Baterai jenis ini memiliki kerapatan energi rendah, bobot yang berat, dan kemampuan isi ulang hanya 50 persen dan tidak cocok untuk pengisian cepat. Perkembangan ilmu material, telah menemukan beberapa jenis baterai-baterai baru yang lebih maju dengan memanfaatkan cadangan mineral yang dimiliki Indonesia.

‘’BPPT bersama beberapa lembaga litbang lain terus mengusahakan rekayasa material untuk kepentingan aplikasi baterai melalui peningkatkan nilai tambah dari bahan baku lokal,’’ katanya. Dalam hal melakukan penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang rekayasa material baterai dan terbangunnya industri baterai nasional, diperlukan kerjasama internasional. (049)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here