BPJS Nunggak Miliaran Rupiah ke RSUP NTB

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB menargetkan perolehan pendapatan  RSUP NTB pada tahun 2018 ini sebesar Rp 152 miliar. Sementara itu, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan masih menunggak pembayaran klaim  miliaran rupiah ke RSUP NTB dari pasien-pasien yang dirujuk berobat ke rumah sakit milik provinsi tersebut.

Direktur RSUP NTB, dr. H. L. Hamzi Fikri, MM menyebutkan, pada tahun 2017, BPJS menunggak sekitar Rp 30 miliar. Namun, tunggakan itu sudah mulai dicicil. Meskipun tunggakan BPJS cukup besar, Hamzi mengatakan BPJS cukup kooperatif dalam melunasi tunggakannya.

Iklan

“Alhamdulillah mulai terbayarkan. Dulu kendalanya banyak faktor sehingga banyak tunggakan. Baik di internal kami juga. Tapi yang jelas BPJS cukup koopertaif menyelesaikan tunggakan ini. Tunggakannya sudah berkurang. Sudah dibayar secara bertahap,” katanya di Mataram, Selasa, 3 April 2018 siang.

Apakah pelayanan RSUP terganggu akibat tunggakan BPJS? Hamzi mengatakan, jujur bahwa hal itu jelas membuat pelayanan menjadi terganggu. Namun diupayakan jasa pelayanan jangan sampai terlambat diberikan oleh pegawai kepada pasien.

“Kemarin segera kami follow up dan sudah bertemu dengan BPJS. Kita sama-sama mempertahankan cash flow rumah sakit juga. Kalau dua bulan, tiga bulan (ada tunggakan) bisa sesak napas kita, karena  kekurangan ‘’peluru’’. Tapi alhamdulilah sekarang (pelayanan) masih normal,’’ ucapnya.

Terkait layanan baru,  seperti radioterapi, diakuinya berpengaruh pada target pendapatan yang dinaikkan dari tahun sebelumnya. Tahun 2017 lalu, pihaknya menargetkan perolehan pendapatan RSUP NTB sebesar Rp 141,1 miliar lebih. Dari target tersebut  mampu terealisasi sebesar Rp 148, 4 miliar lebih.

‘’Kita menargetkan pendapatan menjadi Rp 152 miliar dengan adanya layanan baru ini. Semakin banyak fasilitas yang kita punya, otomatis operasional semakin meningkat, pasien juga akan semakin meningkat,’’ katanya.

Dengan semakin naiknya target pendapatan, Hamzi mengatakan pihaknya tak mengharapkan semakin banyak orang yang sakit atau berobat ke RSUP NTB. Sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), maka pihaknya dapat menggunakan pendapatan yang ada secara langsung.

“Dan wajar ketika penambahan  layanan, penambahan SDM akan berdampak terhadap peningkatan dari sisi target pendapatan. Ada peningkatan pelayanan radioterapi,” ujarnya.

Hamzi menyebutkan, pasien-pasien yang dominan ditangani di RSUP NTB merupakan masyarakat yang sudah masuk dalam jaminan BPJS Kesehatan. Dari seluruh pasien yang ditangani, hampir 90 persen merupakan pasien BPJS. Ia mengatakan hanya sedikit pasien umum yang ditangani di rumah sakit tersebut.

“Dengan meningkatnya layanan berarti pagu anggaran juga meningkat. Realisasi pendapatan hingga saat ini sudah  30 persen. Harapannya semester akhir nanti 100 persen. Walaupun kita berpikir jangan banyak orang yang sakit,” katanya. (nas)