BPJAMSOSTEK Tambahkan Manfaat untuk Program JKK

Kepala BPJAMSOSTEK Kantor Cabang NTB, Adventus Edison Souhuwat paling kiri, dan jajarannya mengunjungi Sunardi, salatu peserta BPJAMSOSTEK yang mendapatkan pertambahan manfaat JKK. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – BPJAMSOSTEK Cabang NTB menyiapkan tambahan manfaat Return to Work (RTW) untuk program Jaminan Kecelekaan Kerja (JKK) kepada setiap pemberi kerja dan peserta. RTW  merupakan pertambahan manfaat dari Program JKK yang diwujudkan dalam bentuk pendampingan bagi peserta yang mengalami musibah kecelakaan kerja yang mengakibatkan disabilitas. Pekerja yang ikut dalam program itu akan didampingi BPJAMSOSTEK, dari mulai terjadinya kecelakaan  hingga peserta mampu kembali bekerja.

Salah satu contohnya adalah BPJAMSOSTEK sendiri saat ini tengah memproses program RTW kepada Sunardi, salah satu Karyawan di PT Indomarco Prismatama (Indomaret), terdaftar sebagai Peserta BPJAMSOSTEK sejak Juli 2015. Sunardi kesehariannya bertugas untuk mengecek bangunan dan kelengkapan gedung toko baru. Ia ditimpa risiko bekerja akibat dari radiasi listrik dari kabel listrik yang tidak tercover pelindung saat dilakukan pengecekan hasil pembangunan salah toko baru di Praya.

Iklan

Akibat hal itu, Sunardi mengalami luka bakar di bagian kaki kiri sehingga harus diamputasi. Perusahaan kemudian melaporkan kejadian ini ke BPJAMSOSTEK Cabang NTB untuk mendapat perawatan dan pengobatan program JKK. Sunardi sendiri dirawat intensif di RSUD Kota Mataram sejak Agustus 2019 dan bersama perusahaan berkomitmen untuk mengikuti program Return to Work. Sejak Agustus 2019 hingga kini, Sunardi masih rawat jalan dan mendapat pendampingan dari pihak BPJAMSOSTEK terkait kesembuhan fisik dan mentalnya, juga dalam progress untuk pemasangan kaki palsu serta persiapan pelatihan untuk siap kerja kembali seperti sedia kala.

BPJAMSOSTEK bekerjasama dengan mitra yaitu PT. Ottobock Healthcare Indonesia, sebuah perusahaan produsen kaki dan tangan palsu (prosthesis) dan orthosis yang berpusat di Jerman. Kepala BPJAMSOSTEK Kantor Cabang NTB, Adventus Edison Souhuwat, mengatakan Program RTW adalah tata laksana penanganan kasus kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja melalui pelayanan kesehatan, rehabilitasi dan pelatihan agar pekerja dapat kembali bekerja produktif.

“Jadi jika terjadi resiko kecelakaan kerja yang menimpa peserta, kami berikan perawatan dan pengobatan kepadanya. Jika ternyata kemudian terjadi resiko cacat tetap, maka akan kami dampingi segala proses pelayanan kesehatan, rehabilitasi juga kami berikan pelatihan sehingga Ia mampu secara mandiri untuk bekerja lagi. Jika harus memasang alat bantu khusus misalnya tangan atau kaki palsu juga kami fasilitasi. Seluruh biaya yang ada sepenuhnya dari BPJAMSOSTEK,” paparnya.

Tujuan program ini adalah untuk membantu pekerja yang mengalami kecelakaan kerja kemudian cacat tetap agar dapat produktif bekerja kembali, see the ability not the disability. Setiap tahunnya kasus kecelakaan kerja yang terjadi terus meningkat, dilihat dari jumlah klaim JKK pada 2018 sejumlah 71 kasus, kemudian melonjak tahun 2019 sejumlah 104 kasus, dan per 26 Februari 2020 saja sudah teracatat 25 kasus JKK, se Provinsi NTB. Sepanjang Tahun 2020, data per 26 Februari 2020 BPJAMSOSTEK telah membayarkan biaya fasilitas kesehatan untuk para pekerja yang mengalami kasus JKK sejumlah Rp1,1 miliar

“Sangat penting untuk setiap pihak aware dengan hak dan manfaat RTW ini, baik itu pihak pemberi kerja, peserta sendiri dan keluarganya, juga stakeholder terkait untuk dapat mendukung program ini karena muaranya adalah kembali pada kesejahteraan masyarakat pegiat ekonomi di daerah NTB,” jelas Adventus. (bul)