BOR Rumah Sakit 45,4 Persen, Kasus Covid-19 di NTB Masih Terkendali

Tingkat keterisian tempat tidur untuk pasien Covid-19 di NTB. (Sumber : Dikes NTB)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB mengklaim penanganan kasus Covid-19 masih terkendali meskipun terjadi lonjakan kasus harian dalam beberapa waktu terakhir. Hal tersebut terlihat dari tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) rumah sakit di NTB yang berada pada angka 45,4 persen.

“Sampai hari ini, BOR ruang isolasi 44,8 persen. Kemudian BOR ruang intensif 30,9 persen. BOR total 45,4 persen. Artinya masih bagus, terkendali. Memang kasusnya meningkat. Tapi sudah kita antisipasi dengan penambahan kapasitas tempat tidur atau ruang isolasi,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. H. Lalu Hamzi Fikri., M.M., MARS., dikonfirmasi Suara NTB usai rapat di Mapolda NTB, Kamis, 15 Juli 2021.

Iklan

Fikri menyebutkan jumlah tempat tidur ruang isolasi di seluruh rumah sakit di NTB saat ini sebanyak 1.112. Kemudian, tempat tidur ruang intensif sebanyak 154 dan tempat tidur RS Darurat sebanyak 222. Seluruh rumah sakit juga telah diminta menambah ruang isolasi minimal 50 persen.

“Dengan kita meminta rumah sakit menaikkan BOR, mengkonversi tempat tidur biasa menjadi ruang isolasi dan penambahan ruang intensif, akan berpengaruh terhadap angka BOR,” terangnya.

Rumah sakit juga diminta melakukan skrining terhadap pasien-pasien terpapar Covid-19. Jika pasien dengan gejala berat dan sedang, maka dirawat di rumah sakit.

“Jangan kasus ringan dirawat di rumah sakit. Dengan skrining, pasien gejala tingan nanti diarahkan ke RS Darurat. Atau kalau gejala ringan, atau tanpa gejala, arahkan isolasi mandiri terpadu,” ujarnya.

Fikri juga mendorong Pemda kabupaten/kota membuat RS Darurat untuk memback up. Untuk memastikan pasien gejala berat dan sedang dirawat di rumah sakit, dan gejala ringan dan tanpa gejala di RS Darurat dan isolasi mandiri. Namun jika ada yang isolasi mandiri harus terpantau oleh Puskesmas dan Satgas,” pintanya.

Mantan Direktur RSUD NTB ini mengatakan telah keliling ke beberapa rumah sakit dan meminta agar dilakukan konversi tempat tidur biasa menjadi ruang isolasi minimal 50 persen. Hal ini sebagai bentuk antisipasi mengatasi lonjakan kasus Covid-19.

“Prinsip penanganan Covid ini, temukan kasus, tracing dan handle. Bisa isolasi mandiri dan dirawat di rumah sakit,” katanya.

Fikri mengatakan perlu diperkuat sinergi dalam penanganan Covid-19. Hal tersebut menjadi penekanan Kapolda kepada Pemda kabupaten/kota dalam rapat secara virtual di Mapolda NTB, Kamis, 15 Juli 2021.

“Kita tahu sekarang, Bali dan Jawa sudah PPKM Darurat. Dan Kota Mataram menjadi PR kita bagaimana bisa keluar dari PPKM Darurat. Tentunya juga harus disangga oleh kabupaten/kota lain. Jangan sampai tetap PPKM Darurat. Bagaimana caranya bisa keluar dari PPKM Darurat dan level 4,” tandasnya.

Ia menjelaskan suatu daerah masuk level 4 apabila jumlah kasus di atas 150 per 100 ribu penduduk. Kemudian jumlah kasus yang dirawat di rumah sakit di atas 30 per 100 ribu penduduk. Selain itu, kasus meninggal di atas 5 per 100 ribu penduduk.

Untuk daerah level 3, apabila jumlah kasus 50 – 150 per 100 ribu penduduk. Kemudian jumlah kasus yang dirawat di rumah sakit sebanyak 11 –  30 per 100 ribu penduduk. Selain itu, kasus meninggal 3 –  5 per 100 ribu penduduk.

Kemudian daerah level 2, apabila jumlah kasus 20 – 50 per 100 ribu penduduk. Kemudian jumlah kasus yang dirawat di rumah sakit 5-10 per 100 ribu penduduk. Selain itu, kasus meninggal 2 per 100 ribu penduduk.

Sementara untuk daerah level 1, apabila jumlah kasus 20 per 100 ribu penduduk. Kemudian jumlah kasus yang dirawat di rumah sakit 5  per 100 ribu penduduk. Selain itu, kasus meninggal 1 per 100 ribu penduduk.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 Provinsi NTB, sampai 14 Juli 2021, jumlah kasus positif Covid di NTB mencapai 16.340 orang. Dengan rincian, 14.393 sudah sembuh, 629 meninggal dunia dan 1.318 orang masih isolasi atau kasus aktif.

Sebanyak 1.318 kasus aktif tersebut tersebar di Kota Mataram sebanyak 309 orang, Lombok Barat 159 orang, Lombok Tengah 43 orang, Lombok Utara 18 orang, Lombok Timur 32 orang, Sumbawa Barat 51 orang, Sumbawa 163 orang, Dompu 159 orang, Bima 173 orang dan Kota Bima 49 orang. Kemudian, WNA satu orang dan warga luar NTB sebanyak 161 orang. (nas)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional