Bongkar Muat Molor 4 Jam, Pelayanan di Pelabuhan Lembar Dikeluhkan

MOLOR - Pelayanan penyeberangan di Pelabuhan Lembar. Belakangan ini, pengguna pelabuhan mengeluhkan molornya bongkar muat di Pelabuhan Lembar. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Pelayanan penyeberangan Pelabuhan Lembar dikeluhkan pengguna jasa dan barang. Persoalan yang dikeluhkan termasuk klasik lantaran kerap kali terjadi di pelabuhan terbesar di NTB itu. Penumpang mengeluh lantaran lamanya antre, sehingga menyebabkan kapal berjam-jam mengapung di kolam pelabuhan. Hal ini mengakibatkan bongkar muat barang pun menjadi molor hingga 3-4 jam. Tidak itu saja, akibat lamanya antrean bongkar muat berdampak terhadap jadwal keberangkatan kapal.

Beberapa perusahaan mengeluhkan kondisi belum beresnya persoalan ini. Sebab hal ini mengakibatkan kerugian di kalangan pengusaha. Seperti informasi yang diperoleh dari salah satu perusahaan, bahwa pengiriman barang melalui Pelabuhan Lembar ke Padangbai kerap kali terkendala antrean bongkar muat. “Ini kapal yang mengangkut barang kami sudah tiba jam 05.00 pagi di Pelabuhan Lembar, tapi kok lama antre (mengapung) di laut.  Bongkar muat molor hingga pukul 08.00-09.00, ini kan merugikan kami,” keluh salah seorang pengusaha.

Iklan

Pihaknya mengharapkan pengelola pelabuhan memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat, khususnya pengguna pelabuhan. Selain pengguna jasa rugi waktu, juga menyebabkan rugi dari sisi usaha.

Menjawab keluhan ini Koordinator Satuan Pelayanan Wilayah Kerja Lembar  Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah XII Denpasar Provinsi Bali-NTB Koda Pahlianus Nelson D, mengaku, banyak kapal antre menyebabkan bongkar muat menjadi molor. Ia berdalih penyebab molornya bongkar muat ini ada di Padangbai, bukan di Pelabuhan Lembar. Jika di Padangbai melepas kapal banyak dengan waktu jarak 1 jam, maka otomatis di Pelabuhan Lembar akan menampung banyak kapal.

Selain itu, ujarnya, panjangnya antrean di kolam laut bukan karena permainan pihaknya. Namun karena kondisi penumpukan penumpang. Apalagi jika diangkut per satu jam, maka mengakibatkan antrean.

Penyebab kedua di Padangbai, ada dermaga yang belum normal. Seperti dermaga II tidak bisa digerakkan naik turun, ketika air pasang maka dermaga itu tidak bisa digunakan otomatis,  sehingga bongkar muat terganggu dan dampaknya pemberangkatan kapal molor. “Ya kapal antre jadinya,” ujarnya.

Dampak dari bongkar muat yang molor juga berimbas terhadap jadwal pemberangkatan kapal menjadi mundur. “Tadinya berangkat Jam 9 jadi jam 10, jadi mundur 1 jam,” ujarnya.

Langkah penanganan persoalan ini menurut Nelson, pihaknya bersama instansi terkait termasuk Gapasdap menyepakati solusi khusus penggunaan dermaga 2 di Padangbai untuk pelayanan kapal non reguler. Dermaga 1 khusus kapal reguler. Namun, ujarnya, solusi ini bukan tidak efektif, namun berjalan baik, sebab antrean kapal baru kali ini terjadi disebabkan air pasang. Sementara kondisi muatan di Padangbai menumpuk, sehingga bongkar muat pun molor di Pelabuhan Lembar.  “Kita sudah berusaha sebaik mungkin, tapi kalau kondisi air pasang ndak bisa kita mengelak,” kilahnya. (her)