BNPT Imbau Masyarakat Waspadai Situs Dakwah Radikal

Mataram (suarantb.com) – Semakin merajalelanya aksi radikalisme dan terorisme di Indonesia, mengingatkan warga NTB untuk sadar akan bahaya yang mengancam. Terutama dakwah-dakwah radikal yang disebarkan melalui media dalam jaringan atau online. Demikian disampaikan Kasubid Pengawasan dan Kontra Propaganda Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Sujatmiko dalam acara Dialog Pelibatan Masyarakat Dalam Pencegahan Terorisme Melalui Perspektif Sosial Budaya, Selasa, 18 Oktober 2016.

“Ancaman radikalisme semakin meningkat. Tren saat ini adalah ancaman melalui situs online. Tahun 2014 kita sudah mendata ada 9.800 web teroris. Tahun ini tentu meningkat, mungkin mencapai dua kali lipat,” jelas Sujatmiko.

Iklan

Selain melalui situs, dakwah radikal ini juga dilakukan melalui media sosial seperti Twitter, Facebook dan duck.net yang bahkan menyediakan cyber jihad. Kalangan yang paling banyak membuka situs-situs dakwah radikal ini diakui Sujatmiko 49 persen adalah remaja usia 18-25 tahun.

Salah satu contoh nyata remaja yang terpengaruh dakwah radikal ini adalah Ivan Armadi. “Umur 16 tahun, Ivan masih suka menonton Naruto. Umur 17,5 tahun dia mulai belajar Islam secara online, karena kakaknya buka warnet. Dan enam bulan belajar, ia langsung terpengaruh untuk lakukan bom bunuh diri,” jelasnya,

Kejadian ini, membuktikan bahwa sangat mudah mempengaruhi orang melalui dakwah yang mengajarkan radikalisme. Apalagi, jika dasar-dasar keagamaan dalam diri individu tersebut kurang. Oleh karena itu, Sujatmiko menyatakan pentingnya kesadaran akan bahaya terorisme dan radikalisme. “Kita harus segera sadar, kalau terlambat nanti buruk akibatnya,” ujarnya.

Selain bahaya keselamatan masyarakat dan mengancam keutuhan NKRI, dampak negatif dari tindakan radikalisme dan terorisme diakui Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin adalah terhambatnya pembangunan di berbagai sektor. Salah satunya adalah sektor ekonomi.

Oleh karena itu, Amin berpesan pada peserta yang hadir dalam kegiatan dialog tersebut untuk tidak ramah pada paham radikalisme. “Jangan ramah pada paham radikalisme. Peran tokoh masyarkat, tuan guru yang hadir disini sangat penting untuk meluruskan kembali pemahaman terhadap ajaran-ajaran agama. Karena sebagian kita ada yang salah menafsirkan,” imbuhnya. (ros)