BNNP Ungkap Kasus di Kota Bima, 3,81 Kg Ganja Stok Pesta Tahun Baru Gagal Beredar

Kepala BNNP NTB Gde Sugianyar Dwi Putra (ketiga dari kiri) menunjukkan barang bukti ganja dan tersangka kurir berinisial AS (paling kiri) dalam rilis akhir tahun kinerja BNNP NTB, Senin, 21 Desember 2020.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Pemilik dan pengedar ganja pasar penjualan Kota Bima dan Kabupaten Bima, AS (35) ditangkap BNN Provinsi NTB. Pria asal Palibelo, Kabupaten Bima ini diduga hendak mengedarkan ganja untuk pesta malam tahun baru. Total barang bukti yang disita ganja seberat 3,81 Kg. Sementara bandarnya kabur.

“Kelihatannya memang disiapkan untuk Tahun Baru. Biasanya, peredaran narkoba di akhir tahun itu meningkat,” ucap Kepala BNN Provinsi NTB Brigjen Pol Gde Sugianyar Dwi Putra, Senin, 21 Desember 2020 didampingi Wadirrresnarkoba Polda NTB AKBP Eriwn Ardiansyah, dan Kepala Balai Besar POM Mataram Zulkifli.

Kasus ini terungkap saat AS yang kini sudah menjadi tersangka ini mengambil paket di Jatiwangi, Asakota, Kota Bima. AS mengambil paket kiriman berisi ganja. Dibagi dalam lima paket besar. Setiap paket dibungkus lakban cokelat. Masing-masing isinya ganja 971,8 gram; 949,37 gram; 951,93 gram; dan 945,42 gram. “Ini dikirim dari Medan,” kata Sugianyar.

Dari hasil interogasinya, tersangka AS mengakui bahwa dirinya mengetahui paket itu berisi ganja. “Ini pengambilan kelima kalinya,” imbuhnya. Paket tersebut tertulis dengan tujuan penerima inisial ABB dengan alamat Kelurahan Melayu, Asakota, Kota Bima. Sementara pengirimnya berinisial DHR asal Deli Serdang, Limau, Sumatera Utara.

AS pun berkilah hanya sebagai orang suruhan. Yang mana dirinya diupah antara Rp300 ribu sampai Rp500 ribu setiap berhasil mengambil paket tersebut. “Ada seseorang berinisial IM yang kami curigai sebagai pemberi upahnya. Sudah masuk DPO namun belum tertangkap,” ucap Sugianyar. Tersangka AS dijerat degnan pasal 114 ayat 2 atau pasal 111 ayat 2 UU RI No35/2009 tentang narkotika. Ancaman hukumannya, pidana maksimal mati atau seumur hidup atau 20 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar. (why)