BNI Mataram Jadi Bank Pertama Pembiaya Petani Porang

Pemimpin BNI Mataram, Amiruddin (paling kanan), bersama Prof. Suwarji (tengah) dan Ketua P3N, Puguh Dwi Friawan foto bersama usai penandatanganan MoU untuk pembiayaan kepada petani porang di Lombok. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – PT. Bank Negara Indonesia (Persero) T.bk Cabang Mataram menjadi bank pertama yang memberikan dukungan langsung kepada petani porang. Bank BUMN ini mengucurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp4,6 miliar lebih untuk tahap pertama.

Sasarannya kepada 93 orang petani porang di Kabupaten Lombok Tengah. Panyaluran kredit dimulai dengan penandatanganan kerjasama antara BNI dengan Pegiat Petani Porang Nusantara (P3N) yang melakukan pendampingan langsung ke petani porang, bersama Prof. Suwarji dari Unram. BNI Mataram berkomitmen mendorong pengembangan tanaman liar berumbi ini, setelah sebelumnya petani porang Lombok ini difasilitasi dengan BNI oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTB.

Iklan

Amiruddin, Pemimpin BNI Mataram, usai melakukan penandatanganan kerjasama dengan P3N di kantornya, Senin, 16 Agustus 2021. Ia menyampaikan ketertarikannya mendukung pembiayaan para petani porang. Pertama secara umum, porang adalah tanaman berumbi yang bisa tumbuh subur dibawah naungan pohon. Tidak memerlukan perawatan yang intensif, seperti komoditas pertanian perkebunan lainnya. Budidayanya tidak ribet. Dapat dibudidayakan secara liar.

Jika dibandingkan dengan jagung yang selama ini disebut-sebut sudah banyak memakan hutan dan mengurangi keseimbangan alam, sebaliknya dengan porang. Ia membutuhkan pohon naungan sehingga hutan dapat dipertahankan. Selain itu, lanjut Amir, jika komoditas pertanian perkebunan lainnya pada saat panen ,harus dipanen. Jika tidak, akan terjadi pembusukan, atau lapuk. Sementara porang, jika harga belum sesuai, panen dapat dilakukan kapan saja. Umbinya justru akan semakin membesar.

Dengan pendampingan kepada petani porang oleh P3N dan Prof. Suwarji, masa panen bisa dipercepat hingga delapan bulan. Amir mengatakan di tengah pandemi Covid-19 saat ini, persoalan sosial rawan sekali terjadi. Potensi angka pengangguran bertambah. Lapangan pekerjaan semakin sulit. Di NTB, jumlah tenaga kerja luar negeri yang harus pulang kampung sejak tahun 2020 lalu sudah mencapai 30 ribuan orang.

Saat ini secara nasional Pekerja Migrant Indonesia (PMI) yang akan balik ke Indonesia mencapai 70.000 orang karena krisis ekonomi di Malaysia. “Lalu mau diapakan orang orang di daerah kita ini. dengan jumlah potensi pengangguran bertambah. Bisa meningkat persoalan kerawanan sosial. Solusinya adalah, berdayakan masyarakat. Salah satunya dengan memanfaatkan sebesar-besarnya potensi sektor pertanian kita secara luas,” ujarnya.

Amir mengatakan, dengan skim KUR Rp50 juta/petani porang, harapannya budidaya porang akan berkembang. Masyarakat menjadi lebih berdaya. Lalu bagaimana dengan nilai ekonomisnya? Prof. Suwarji menyampaikan, potensi keuntungan petani porang 1:4. Dalam satu hektar, menurutnya rata-rata keuntungan yang bisa didapat oleh petani porang Rp200 juta.

Jauh lebih besar janji keuntungannya dibanding komoditas lainnya. Karena itu, selain di Lombok Tengah, petani porang di Lombok Utara juga akan didukung pembiayaannya oleh BNI Mataram. Pasarnya, sudah tersedia. Salah satu perusahaan pengolah umbi porang menjadi chip (kripik) porang sudah dibangun oleh pemodal di Penakak, Masbagik, Lombok Timur.

Kebutuhan bahan baku mesin ini dalam sehari mencapai 150 ton umbi porang. Kebutuhan yang sangat besar. Perusahaan dimaksud bahkan berencana akan membuat beras porang selain membuat chip porang. Karena itu, potensi pengembangan dan pasar porang sangat terbuka luas. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional