BKSDA NTB Kerahkan Tim Cari Paus Kepala Melon Masih Terjebak di Teluk Bima

Joko Iswanto. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Sejak tanggal 11 September 2021 ini, masyarakat dihebohkan dengan beredarnya foto-foto warga yang membawa pulang paus kepala melon yang ditemukan mati di pesisir Pantai Palibelo Kabupaten Bima NTB. Berselang beberapa hari, tanggal 20 September 2021, dari lokasi yang tak jauh berbeda, ditemukan kembali paus jenis yang sama terdampar dan mati. Lalu tanggal 22 September 2021, ditemukan lagi dua ekor paus kepala melon dalam keadaan mati dan terdampar.

Penemuan empat ekor paus langka dalam kurun waktu singkat ini sontak menjadi perhatian seluruh stakeholders. Tanpa terkecuali, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang bertugas memberikan perlindungan terhadap satwa dan mamalia langka, seperti paus, lumba-lumba dan hiur. Ditemui di ruang kerjanya, Kamis, 23 September 2021, Kepala BKSDA Provinsi NTB, Joko Iswanto, SP., MH mengatakan sudah memberikan atensi, dan mengambil sampel daging untuk diteliti penyebab kematiannya.

Iklan

Pihaknya juga sudah mengerahkan timnya, serta menyediakan speed boat untuk melakukan penelusuran di perairan dan pesisir Teluk Bima. Untuk mendeteksi kemungkinan adanya koloni paus kepala melon ini masih terjebak. “Dari kemarin, tim kita sudah turun. Bekerjasama dengan BPSPL Denpasar, Dinas Kelautan Perikanan dan stakeholders lainnya melakukan pencarian. Kami siapkan boat dan BBM untuk pencairan, sampai kita pastikan sudah aman,” ujarnya.

Pencarian dilakukan untuk memastikan jika masih ada pasu kepala melon yang terjebak di Teluk Bima, penanganannya akan digiring kembali ke laut lepas. Joko mengatakan sampai saat ini belum dapat dipastikan penyebab kematian mamalia laut ini. Apakah karena dibunuh, atau terkontaminasi pencemaran lingkungan, semuanya masih spekulasi.

Atas kemungkinan sengaja dibunuh untuk ditangkap, secara fisik menurut Joko tidak ditemukan tanda-tanda ada unsur kekerasan/penangkapan. Jika diduga karena pencemaran lingkungan, tentu harus dibuktikan dengan hasil laboratorium air di perairan tersebut. Dugaan yang paling realistis, paus-paus kepala melon ini terjebak masuk ke Teluk Bima saat melintas menuju samudera bersama koloninya.

Bentuk Teluk Bima ini mirip botol, di bibir teluk sepit, namun cukup luas  di dalam teluknya. Kemungkinan masuknya mamalia ini ke teluk, bisa saja karena terpancing oleh ikan-ikan umpan yang masuk ke dalam teluk. Lalu paus ini terpisah dari koloninya. “Saat masuk ke teluk, hewan mamalia ini tidak bisa keluar karena bibir teluknya kecil sehingga sulit ditemui saat mau keluar. Atau bisa saja setelah masuk, sonarnya terganggu oleh suara-suara kapal sehingga tidak bisa mendeteksi keberadaan koloninya kembali. Kita ketahui cara berkomunikasi atau mendeteksi apapun dengan sonarnya,” ujarnya.

Lebih lanjut Joko menambahkan, saat sonarnya terganggu karena gangguan suara dari eksternal. Akibatnya mamalia ini menjadi stress dan hilang kontrol. Lalu terdampar dan mati.  Ia sangat berharap tidak ada lagi paus atau mamalia sejenis yang masih berada dan terjebak di Teluk Bima. Kepada masyarakat, jika menemukan atau mendeteksi keberadaan mamalia laut ini agar tidak langsung memburu, atau menangkap, apalagi untuk memperjualbelikannya. Baik hiu, paus, maupun lumba – lumba yang dilindungi undang –undang. Ancamannnya lima tahun penjara dan denda Rp2 miliar.

“Kita bersama stakeholders lainnya juga tetap mengedukasi masyarakat untuk bersama sama menjaga hewan laut langka ini dari kepunahan,” demikian Joko. Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Muslim, ST, M. Si di Mataram juga mengatakan hal yang tak jauh berbeda. Mendapat laporan adanya adanya paus langka yang terdampar dan mati, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Keluatan Perikanan di Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu untuk penanganan yang mati, atau yang kemungkinan masih terjebak didalam teluk.

Muslim mengatakan, salah satu persoalan adalah kebisingan akibat operasi kapal-kapal nelayan yang berpotensi mengganggu sonar mamalia laut langka ini. “Kita bekerjasama juga dengan BPSPL Denpasar bagaimana mencarikan solusi agar jalur migrasi paus dan mamalia sejenis ini tidak terganggu. Kita juga melakukan edukasi kepada masyarakat agar mengenali ciri-ciri mamalia laut yang dilindungi dan tidak dilindungi undang-undang,” demikian Muslim. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional