BKSDA akan Koordinasi dengan Aparat Usut Penjualan Telur Penyu

Pelepasan tukik untuk pelestarian penyu di Pantai Nipah, Lombok Utara. Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu bersama Operation Head PT. Pertamina (Persero) DPPU BIL, H. Boedi Poerwanto., S.St. dan Kepala BKSDA Provinsi NTB, Joko Iswanto, SP., MH serta stakeholders lainnya untuk kampanye pelestarian penyu.(Suara NTB/bul)

Tanjung (Suara NTB) -Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi NTB akan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum, dalam rangka penanganan perburuan dan penjualan telur penyu. Hal ini disampaikan Kepala BKSDA Provinsi NTB, Joko Iswanto, SP., MH usai mengikuti kegiatan peresmian kolam penyu di Pantai Nipah, Kecamatan Malaka Kabupaten Lombok Utara, Rabu (25/8) kemarin.

Masih dijumpai adanya penjualan telur penyu secara bebas di pasar tradisional, misalnya di Kota Mataram. Joko mengatakan, seharusnya masyarakat care (peduli) dengan keberadaan penyu-penyu di sekitar wilayahnya dengan turut menjaga kelestariannya. Sebab tidak semua wilayah di Indonesia, bahkan di dunia, menjadi tempat pendaratan dan bertelurnya penyu.

Iklan

Di Lombok, NTB, ada beberapa spot yang menjadi tempat pendaratan penyu untuk betelur. Misalnya di Pantai Kuranji Kabupaten Lombok Barat, kemudian di Pantai Mapak, Kota Mataram. Lalu di sepanjang Pantai Nipah, Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara. Diketahui enam dari tujuh spesies penyu di dunia berada di perairan Indonesia sebagai habitat mencari makan dan berkembang biak, atau sekedar bermigrasi dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia dan sebaliknya.

Keenam spesies penyu tersebut adalah Penyu Hijau, Penyu Sisik, Penyu Pipih, Penyu Lekang, Penyu Tempayan, dan Penyu Belimbing, semuanya berstatus rentan kepunahan, terancam atau sangat terancam punah menurut IUCN Red List of Threatened Species (Daftar Merah Spesies Yang Terancam Menurut IUCN) dan termasuk dalam satwa perairan yang dilindungi undang-undang UU No.5 Tahun 1990 tentang KSDAHE dan PP. No.7 Tahun 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.

Pantai Dusun Nipah Desa Malaka Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara merupakan salah satu pantai potensial sebagai tempat penyu mendarat untuk bertelur dari jenis : penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang. Ancaman utama yang dihadapi oleh penyu laut mencakup perburuan dan perdagangan telur serta bagian-bagian tubuhnya, kerusakan habitat peneluran akibat pembangunan di kawasan pesisir, dan ancaman di laut dari aktivitas perikanan.

Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah penyu dari ancaman kepunahan diantaranya melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga satwa dilindungi dengan mencegah perburuan telur dan menghentikan penangkapan penyu secara illegal, melakukan penetasan penyu semi alami (PSA) yang selanjutnya dilepasliarkan ke habitat alaminya sebagai salah satu upaya konservasi penyu.

Upaya lain dilakukan dengan cara menetapkan kawasan tersebut sebagai Kawasan Ekosistem Esensial yaitu kawasan di luar kawasan konservasi yang secara ekologis penting bagi keanekaragaman hayati. Di NTB sendiri, telah ditetapkan 4 Kawasan Ekosistem Esensial yaitu KEE Penyu Kabupaten Lombok Barat tahun 2017 seluas : 27.137,54 Ha. KEE Mangrove Kabupaten Lombok Barat tahun 2018 seluas : 86,46 Ha. KEE Mangrove Kabupaten Bima tahun 2019 seluas : 91,8 Ha. KEE Penyu Lombok Utara tahun 2019 seluas 32,5 Ha.

Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus sesuai Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 merupakan hari peringatan yang memiliki tujuan untuk mengkampanyekan pentingnya konservasi alam, mengedukasi serta mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menyelamatkan ekosistem.

Dalam rangkaian Hari Konservasi Alam Nasional ke 31, pelepasliaran penyu dilakukan sebagai bentuk rasa cinta pada alam dan budaya nusantara sebagaimana tema HKAN tahun 2021 “Bhavana Satya Alam Budaya Nusantara’’, Memupuk Kecintaan Pada Alam dan Budaya Nusantara. Melalui kegiatan ini diiharapkan dapat menjadi momentum kampanye pentingnya konservasi alam bagi kesejahteraan masyarakat. Menjadikan konservasi alam sebagai bagian dari sikap hidup dan budaya bangsa.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem, maka konservasi akan menjadi isu strategis dalam pembangunan daerah di tengah laju industrialisasi dan pertambahan populasi di era milenial. “Karena itu, kita akan koordinasi dulu dengan aparat penegak hukum untuk menangani penjualan telur penyu. Walaupun untuk berhadapan dengan masyarakat kecil tidak sampai hati. Apalagi kalau penjualan telur penyu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tapi penertiban tetap dilakukan, dan langkah hukum adalah pilihan paling terakhir,” demikian Joko. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional