BKOW Bergerak, NTB Cepat Alami Perubahan

Kegiatan sosialisasi Sistem Pelayanan KB di Fasilitas Kesehatan Bagi Anggota BKOW dan GOW se - Pulau Lombok di Gedung Sangkareang Kompleks Kantor Gubernur, Kamis (6/12) siang. (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Peran Organisasi Wanita dalam pembangunan di NTB dinilai sangat penting. Bahkan jika semua organisasi wanita yang berjumlah 43 di NTB bergerak, maka NTB akan lebih cepat mengalami perubahan dari kondisi saat ini.

 

Iklan

Ketua Umum Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd nengatakan, para wanita atau ibu-ibu merupakan modal terbesar dalam pembangunan di NTB. Wakil Gubernur NTB ini mengatakan NTB punya pekerjaan rumah (PR) yang besar dalam pembangunan bidang kesehatan, pendidikan dan lingkungan.

 

“Ibu-ibu adalah modal terbesar dalam pembangunan ini. Multiplier effect sangat besar kalau ibu-ibu. Ibu-bu menjadi pilar utama dalam membangun keluarga,” kata Wagub saat pembukaan sosialisasi Sistem Pelayanan KB di Fasilitas Kesehatan Bagi Anggota BKOW dan GOW se – Pulau Lombok di Gedung Sangkareang Kompleks Kantor Gubernur, Kamis (6/12) siang.

 

Pada kesempatan tersebut Wagub mengajak Ibu-ibu yang tergabung dalam BKOW dan GOW menggaungkan sadar terhadap kebersihan lingkungan. “Kalau bergerak organisasi wanita, selesai masalah di NTB,” kata Wagub.

 

Menurutnya, kunci menyelesaikan berbagai persoalan dasar seperti masalah pendidikan, kesehatan dan lingkungan ada pada wanita. Ia mengatakan wanita punya peran yang sangat besar dalam pembangunan.

 

“Itu harus kita pahami. Tinggal kita mau memerankan diri dengan baik. Mulai dari rumah, lingkungan, organisasi yang kita pimpin, dan akhirnya pada skup yang lebih luas. Mari kita mulai dari diri kita semua,” ajaknya.

 

Orang nomor dua di NTB ini mengingatkan masalah kesehatan menjadi PR besar bersama. Dengan bergeraknya BKOW mulai dari tingkat provinsi sampai kabupaten/kota diharapkan dapat semakin meningkatkan capaian pembangunan bidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Sehingga ujungnya akan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB yang saat ini masih berada di posisi 29 nasional.

 

Rohmi menyebut salah satu upaya Pemprov dalam bidang kesehatan dengan melakukan revitalisasi Posyandu. Harapannya, permasalahan kesehatan dapat dituntaskan dari hulu. Jika persoalan hulu tak dituntaskan maka Pemda akan kerepotan  terus menerus menangani persoalan kesehatan.

 

“Karena sumbernya tak pernah tertangani. Bayangan saya, kalau melakukan revitalisasi posyandu, ada pelayanan kesehatan. Masyarakat bisa cek kesehatan, pelayanan kesehatan. Sehingga posyandu jadi hal-hal yang ditunggu tiap bulan oleh masyarakat,” katanya.

 

Selain itu, lewat Posyandu juga diberikan penyuluhan kepada masyarakat disesuaikan dengan isu domestik di daerah tersebut. Misalnya masalah buruh migran, stunting, narkoba dan lain-lain. “Kalau kita keroyok bersama masuk di situ, insya Allah semuanya bisa kita atasi,” ujarnya yakin.

 

Sementara itu, Kepala BKKBN Perwakilan NTB, Dr. Makripuddin, M.Si mengatakan kegiatan pihaknya rutin menggelar kegiatan bersama BKOW tiap tahun, yakni roadshow BKOW ke kabupaten/kota. Dalam roadshow tersebut ada kegiatan penyuluhan, pelayanan, pembinaan yang dilakukan.

 

“Dan itu tentu memerlukan kompetensi anggota BKOW dan GOW. Sehingga dapat memberikan informasi yang benar kepada masyarakat tentang program ini. Termasuk ke mana masyarakat harus mendapatkan pelayanan,” kata Makripuddin.

 

Ia mencontohkan penyuluhan tentang pelayanan kontrasepsi, mengenai kelebihan dan kekurangan masing-masing alat kontrasepsi. Termasuk juga mengenai ketahanan keluarga dan lainnya.

 

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi anggota BKOW dan GOW. Sehingga mereka memiliki pengetahuan yang cukup memberikan informasi itu,” jelasnya.

 

Sosialisasi yang diberikan kemudian dapat dipakai BKOW dan GOW ketika di lapangan. Disebutkan di NTB ada 43 organisasi wanita yang berhimpun di dalam BKOW.

 

“Masing-masing organisasi wanita ini memiliki struktur. Banyak di antaranya yang memiliki struktur terdepan, tingkat dusun. Seperti muslimat sampai dusun. Dharma wanita ada di semua jenjang pemerintahan. Peran organisasi wanita ini sangat strategis,” ucapnya.

 

Makripuddin mengatakan masalah kesehatan harus dimulai dari upaya preventif. Sehingga memerlukan penyuluhan yang terus menerus  kepada masyarakat. Di sinilah peran organisasi wanita yang tergabung dalam BKOW.

 

“Kalau mereka berada di lini terdepan, mereka bisa memberikan informasi itu kapan saja. Kalau itu dilakukan, NTB akan berubah,” katanya.

 

Ia mengatakan BKKBN Perwakilan NTB bergerak bersama BKOW dan PKK sejak 2016 lalu. Hasilnya, terlihat dari peningkatan IPM NTB beberapa tahun terakhir. “Indikator kependudukan semakin baik. Laju pertumbuhan penduduk menurun,” ungkapnya. (nas/*)