BKKBN Targetkan Tahun 2025 Laju Pertumbuhan Penduduk Mulai Seimbang

Mataram (Suara NTB) – Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasiona (BKKBN) Provinsi NTB terus melakukan gerakan-gerakan nyata agar pertumbuhan penduduk tetap seimbang.

 

Iklan
Pelayanan KB di Kota Mataram Roadshow HKG PKK KB Kes. Ke 45

Sepanjang tahun 2017, BKKBN bekerjasama dengan TP PKK Provinsi NTB menggelar roadshow ke 10 kabupaten dan kota di Provinsi NTB untuk bersama-sama mendorong program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK). Dengan harapan terciptanya keluarga kecil yang berkualitas.

Meski angka kelahiran di NTB belakangan ini terjadi penurunan, BKKBN baru bisa menargetkan tahun  2025 ke depan laju pertumbuhan penduduk di NTB mulai seimbang dan mendekati angka 2,1 per wanita usia subur (WUS).

 

Bina Keluarga balita di Paud HI Ceria Dusun Muhajirin Desa Sesela Kecamata Gunungsari Lobar

Pada tahun 2002, 2007, 2012 Total Fertility Rate (TFR) turun menjadi 2,8. Saat ini berdasarkan survei akan turun mendekati angka 2,3 atau 2,4. Dan tahun 2025 TFR kita targetkan turun menjadi 2,1. Kenapa kita targetkan pada angka tersebut, karena pada angka 2,1 ini penduduk akan tumbuh dengan seimbang.

‘’Setiap ada yang meninggal akan ada yang menggantikan dua orang anak laki-laki dan perempauan.  Jadi penduduk itu tetap tumbuh tetapi seimbang” kata Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi NTB, Dr. Lalu Makripuddin pada acara pertemuan dengan media massa lokal Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram di Aula Perwakilan BKKBN Provinsi NTB, Jumat, 20 Oktober 2017.

 

Bina Keluarga balita di Paud HI Edelweys di Lingkungan Dasan Cermen Utara, Kota Mataram

Untuk alat kontrasepsi, lanjut Makripuddin, NTB ini merupakan daerah yang mendapatkan perhatian khusus. Ada delapan provinsi yang mendapatkan perhatian khusus dan diberikan alat kontrasepsi 100%. Jadi berapapun kebutuhan alat kontrasepsi akan disediakan oleh pemerintah. Dimulai dari dari alat kontrasepsi seperti kondom, disediakan gratis bagi yang sudah memiliki pasangan yang sah.

Selain itu, berbagai inovasi juga terus digalakkan oleh mitra kerjasama BKKBN dalam mewujudkan pertumbuhan penduduk yang seimbang. Kepala UPTD DPPKB Kota Mataram, I Gede Rai Astawa mengatakan, ia lebih fokus pada kepeduliannya terhadap remaja yang digalakkan melalui kegiatan kelompok informasi kesehatan remaja. Ia melatih remaja dan melakukan pendekatan dengan remaja.

 

Antusiame masyarakat ketika mendaftar untuk mendapatkan pelayanan pemasangan implan di Puskesmas Gunungsari, Lobar

Kegiatan program peduli remaja ini kita masuk melalui karang taruna,sekolah, kampus dan pondok pesantren. Kita latih remaja yang ada dan remaja inilah yang nantinya akan memberikan konseling kepada teman sebayanya. ‘’Karena biasanya kalau pemberitahuan dari teman sebayanya biasanya lebih nyambung dari pada dinasehati oleh orang dewasa. Dalam mengurangi angka kelahiran (TFR) Kota Mataram, Peserta KB aktifnya mencapai 59% dan KB baru mencapai 72%,’’ kata Rai.

Demikian juga Lombok Barat,  berinovasi dalam pendewaan usia perkawinan. Kepala Bidang P4 DP2KBP3A Kabupaten Lombok Barat (Lobar), Erni Suryana, M.M mengatakan inovasinya melalui program Gerakan Anti Merariq Kodek (Gamak) di Lobar efektif dilaksanakan.

 

Penyuluhan calon pengantin di Puskesmas Gunungsari, Lobar

Berdasarkan data PUS untuk usia pertama menikah tercatat tahun 2015 perempuan yang menikah di bawah usia 21 tahun sekitar 56,77% dan laki-laki sekitar 23,89%. Melalui program Gamak pada tahun 2017 berdasarkan data PUS angka ini mengalami penurunan. Tercatat tahun 2017 perempuan yang menikah di bawah usia 21 tahu sebanyak 11,34% dan laki-laki sebanyak 3,7%.

Pencapaian Lobar terkait peserta KB baru bulan Januari sampai September 2017 adalah 10. 563 akseptor atau 51,88% perkiraan permintaan masyarakat sebesar 20. 360 akseptor. Capaian metode kontrasepsi jangka panjang MKJP sebesar 3.644 akseptor atau 34, 50%. Untuk pemeriksaan Iva tes berjumlah 50 orang dan MKJP 50 orang IUD dan implant. Pancapaian peserta KB aktif bulan September 2017 sebesar 11. 577 akseptor atau 70,70% dari pasangan usia subur. Kasus kematian ibu melahirkan di Lobar telah terjadi penurunan dati tahun 2016 berjumlah 5 orang sampai dengan sekarang menjadi 4 orang. Untuk kematian bayi dari 38 orang menjadi 26 orang.

 

Foto bersama Ketua TP PKK Provinsi NTB, Hj. Erica Zainul Majdi, wakil ketua TP PKK Provinsi NTB, Hj. Syamsiah M.Amin dan Asisten 1 Pemkab. Lobar H. Halawi Mustafa (Satu dari kiri) dengan para penerima bantuan di Lombok Barat

Selain itu Puskesmas Gunung Sari, Lobar telah berinovasi dalam menjamin kesehatan masyarakatnya dalam berkeluarga. Dimulai dari sebelum terjadinya pernikahan, semuanya harus direncanakan dengan baik dan memenuhi persyaratan kesehatan dan kesiapan mental. Melalui program Biduk Perkawinan Sehat (Biduan Sehat).

Kepala Puskesmas Gunung Sari, Ns. Akmal Rosamali, S. Kep mengatakan warga Gunung Sari, Lobar masih belum banyak yang mengerti tentang kesehatan reproduksi, kehamilan apalagi nanti sampai mempunyai anak. Selain itu juga banyak dari ibu-ibu muda mengalami anemia yang berdampak kepada kehamilan. Bahkan ke bayi tidak sampai melahirkan normal. Tahun 2015 lalu, dari 500 ibu hamil sekitar 223 itu tidak memiliki kartu tanda penduduk dan belum memiliki Kartu Keluarga. Tentunya Hal ini berkaitan dengan jaminan kesehatan mereka.

 

Suasana Roadshow di Kota Mataram

Jadi semua persoalan ini kami coba intervensi sebelum menikah. Lahirnya Biduan Sehat ini program inovasi kami. Sasarannya adalah kelompok calon pengantin (Catin) yakni pra nikah. ‘’Jadi dalam hal ini kita tidak menghambat mereka melakukan pernikahan, tetapi dalam melakukam pernikahan itu harus memenuhi persyaratan. Baik dari sisi kesehatannya, kesiapan mentalnya, termasuk penjaminan kesehatan sebelum memasuki pernikahan” ujarnya.

Penyuluhan Program Catin ini terkait tentang pernikahan, sistem organ reproduksi, kehamilan, persalinan, dan penyuluhan tentang KB. Kemudian penyuluhan tentang IMF, HIV AIDS, kanker leher rahim dan kehidupan seksual suami istri. Jadi, pasangan yang ingin berkeluarga belum boleh menikah kalau belum memeriksakan kesehatannya di Puskesmas.  (*)