BKKBN Perwakilan NTB Sosialisasi Pembangunan Keluarga di Wanasaba

Foto bersama Kepala Perwakilan BKKBN NTB, Makrifudin, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Dra. Hj. Ermalena, Kepala Sub Direktorat Pengembangan Program Bina Ketahanan Remaja, Asep Sopari, S.Pd, MSc, bersama pimpinan Ponpes Al. Islamiyah Bebidas Kecamatan Wanasaba, usai memberikan bantuan

Selong (Suara NTB) – Kegiatan Sosialisasi Pembangunan Keluarga oleh Kantor BKKBN Perwakilan NTB Bersama Mitra Kerja di Ponpes Al Islamiyah Bebidas Wanasaba Kabupaten Lotim, berlangsung semarak, Jumat (9/11). Ratusan santri dan masyarakat hadir sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Dra. Hj. Ermalena, Kepala BKKBN Perwakilan NTB, Dr. Drs. M. Makrifuddin, M.Pd, dengan dimeriahkan Hadroh Ponpes Al Islamiyah Bebidas Kecamatan Wanasaba serta kesenian tradisional yang dikembangkan oleh Ponpes setempat.

Iklan

Ketua Panitia Penyelenggara Sosialisasi Pembangunan Keluarga bersama Mitra kerja, Mika Sandralina menyampaikan, kegiatan sosialisasi program pembangunan keluarga bersama mitra kerja melalui GenRe ceria bertujuan meningkatkan intensitas promosi, kuantitas dan kualitas kegiatan GenRe (Generasi Berencana) dengan mitra kerja dan masyarakat, meningkatkan jumlah pusat informasi dan konseling remaja (PIK Remaja), meningkatkan pengetahuan para pengelola pusat PIK Remaja, dan memfasilitasi sarana dan prasarana di PIK Remaja jalur pendidikan dan jalur masyarakat.

Pimpinan Ponpes Al Islamiyah, Ust. Nawawi, QH, mengapresiasi kegiatan sosialisasi pembangunan keluarga yang dilaksanakan oleh BKKBN Perwakilan NTB bersama mitra kerja. Menurutnya, negara akan bagus apabila rumah tangga keluarga bagus. Apabila rumah itu rusak, maka segala persoalan baik terkecil hingga besar ikut rusak.

Selaku tuan rumah, ia juga mengucapkan terima kasih atas kehadiran di Ponpes Al Islamiyah Bebidas. “Ini merupakan program sangat bagus. Kami dari keluarga besar Al Islamiyah Insha Allah senantiasa mendukung dan menjadi wasilah dalam segala kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah,” ujarnya.

Kepala Perwakilan BKKBN NTB, Dr. Drs. Makrifuddin, mengingatkan kepada para santri supaya tidak menjadi generasi-generasi yang lemah. Melainkan harus menjadi generasi-generasi yang kuat. Pada kesempatan itu, ia juga meminta kepada para pemuda dibagi menjadi empat, pertama disebut pemburu masa depan yang didalamnya terdapat kelompok yang aktif, belajar, semangat dan tidak pernah menghabiskan waktu-waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Kedua kelompok tukang protes, ketiga kelompok penonton dan keempat merupakan kelompok pecundang tidak mau bertindak melakukan apa-apa. Maka dari itu ia mengingatkan kepada para santri supaya menjadi kelompok pemburu masa depan dengan mengejar segala cita-cita. Mimpi dan cita-cita itu harus dicapai. Untuk mendapatkan itu, syaratnya yakni tidak menikah usia dini. “Kedepan harus menikah pada usia yang ideal, yakni 20 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki,”ujarnya.

Syarat untuk memburu masa depan, yakni katakan tidak pada seks pra nikah, katakan tidak pada pernikahan dini, katakan tidak pada narkoba. Apabila ini mampu dilakukan maka santri menjadi generasi berencana. Pada kesempatan itu, Makrifuddin menjelaskan bahwa saat ini NTB memiliki sejumlah duta GenRe tingkat nasional.

Dra. Hj. Ermalena, menegaskan apabila tidak sekolah dan melakukan pernikahan usia dini. Maka sangat berdampak buruk terhadap kehidupan kedepannya. Sehingga Fungsi orang tua dan fungsi agama harus ada di dalam membentuk karakter anak dan remaja serta di dalam menekan angka pernikahan dini di NTB.

Ketika menikah dini dan memiliki anak, jelasnya, maka kecil kemungkinan untuk bisa memberikan pendidikan yang baik terhadap anak. Sehingga pernikahan harus dilakukan sesuai dengan usia yang ideal yakni 20 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Dalam mewujudkan usia pernikahan yang ideal, fungsi sosial budaya, fungsi lingkungan keluarga, lingkungan di luar keluarga, lingkungan di masyarakat. Fungsi pendidikan, yang diberikan pertama oleh keluarga.

Hj. Ermalena, mengungkapkan apabila belum selesai sekolah kemudian menikah, maka kecil untuk mendapat pekerjaan yang layak untuk menafkahi keluarganya. Sementara apabila sudah menikah, tanggung jawab seorang suami. Sehingga ketika kepala rumah tangga masih usia dini, maka berpotensi tidak mewujudkan dapat membina pernikahan dengan baik.

Direktur Direktorat Ketahanan Remaja BKKBN pusat diwakili oleh Kepala Sub Direktorat Pengembangan Program Bina Ketahanan Remaja, Asep Sopari, S.Pd, MSc, menegaskan, apabila perencanaan tidak baik, maka berdampak buruk terhadap kehidupan yang akan datang. Maka dari itu, apabila pembangunan remaja tidak dilakukan baik, bukan hanya gagal dibidang pembangunan melainkan gagal menyiapkan untuk pembangunan SDM dan orang tua berikutnya. (yon/*)