BKKBN Lakukan Integrasi Kampung KB di Dusun Awang Barat

Praya (Suara NTB) – BKKBN melakukan kunjungan di Kampung KB di setiap kabupaten/kota di seluruh NTB. Kali ini, Dusun Awang Barat, Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah mendapat giliran pada Sabtu, 10 Desember 2016.

Mengusung tema “Integrasi Kampung KB Bersama Mitra Kerja”, kunjungan ini dihadiri oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR R Dapil Provinsi NTB, DRA. Hj. Ermalena, MHS, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi NTB, Drs. L. Makrifuddin M.Si, Deputi BKKBN Pusat, Dr. Abidin Siregar, Wakil Bupati Lombok Tengah yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan, Dr. Mulyanto Junaidi, SH, Kepala BKKBN Kabupaten Lombok Tengah, serta Kepala Desa dan Kepala Dusun se-Kecamatan Pujut.

Iklan

 Mulyanto Junaidi – Abidin Siregar – Hj. Ermalena

Kedatangan rombongan disambut meriah oleh rombongan kesenian tradisional Gendang Beleq yang sukses menarik animo masyarakat untuk hadir di acara tersebut. Dalam sambutannya, Wakil Bupati Lombok Tengah, Pathul Bahri, yang dibacakan oleh Dr. Mulyanto Junaidi, SH, ia menyampaikan rasa terimakasih atas agenda-agenda yang dilaksanakan di Lombok Tengah. Ia menyambut baik program Kampung KB ini sehingga perlu adanya dukungan dari semua pihak, seperti penurunan angka kelahiran dan kematian.

“Permasalahan kependudukan di Lombok Tengah sendiri adalah pertumbuhan penduduk yang tinggi, di mana jumlah penduduk perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki serta angka pendidikan yang masih rendah,” ujar Pathul dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Mulyanto. Selain itu, angka harapan hidup  masih rendah yaitu 66,14 tahun, juga nilai IPM Kabupaten Lombok Tengah berada pada peringkat 9 dari 10 kabupaten/kota di NTB.

Suasana dialog interaktif

‘’Atas permasalahan tersebut, diperlukan pemikiran dan kerjasama antar pihak untuk bisa mengejar ketertinggalan,’’ katanya. Konsep Kampung KB yang di dalam pelaksanaannya bisa membangun kemandirian masyarakat sehingga dapat mensejahterakan mereka. “Oleh karena itu, di Lombok Tengah ada tiga Kampung KB yang dibentuk yaitu Dasan Bual di Darek Batukliang yang sudah menunjukkan pelayanan kesehatan yang bagus, Desa Aikbual di Kopang, dan di Kampung Awang Barat ini,” lanjutnya. Ia mengharapkan dengan adanya program ini, masyarakat ekonomi ke bawah dapat dibebaskan untuk biaya kontrasepsi. Juga berharap program ini terus berkembang agar bisa mengejar laju pertumbuhan penduduk.

Masyarakat Dusun Awang Barat, Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah

Deputi BKKBN Pusat, Dr. Abidin Siregar menyatakan bahwa program Kampung KB ini merupakan gagasan dari Presiden, Ir. H.Joko Widodo untuk meningkatkan kualitas masyarakat. ‘’Permasalahan terbesarnya adalah masyarakat masih berpikir untuk punya anak yang banyak,’’ tukasnya. Oleh sebab itu, pemikiran masyarakat yang seperti itu harus diubah dari dini. “Lahirkan anak yang berkualitas, yang utama bukan banyaknya tapi berkualitas,” kata Abidin. Ia menyerukan pada masyarakat Awang yang hadir untuk mendidik anaknya dengan baik dan memiliki impian yang tinggi untuk anaknya di masa depan.

Abidin mengatakan, kedatangan rombongan ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana Kampung KB sebagai media intervensi untuk melihat tingkat kepesertaan KB-nya rendah dan tingkat kemiskinannya paling tinggi. “Saya minta untuk jangan mengurangi anak atau menambahnya,” katanya. Jumlah anak yang banyak ini menjadi masalah karena masih banyak anak yang tidak memiliki NIK (Nomor Induk Kelahiran) yang penting untuk pembuatan akta dan dokumen penting lainnya. Ia mengharapkan ketiga Kampung KB yang ada di Lombok Tengah ini jangan hanya menjadi seremonial semata tetapi juga turun langsung ke lapangan.

Hj. Ermalena, menyerahkan bingkisan hadiah kepada perwakilan masyarakat, didampingi oleh kepala Perwakilan BKKBN Provinsi NTB, L. Makrifuddin (paling kiri) dan Deputi BKKBN Pusat, Abidin Siregar.

Sedangkan anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua Komisi IX, DRA.Hj. Ermalena, MHS, menyoroti tingkat pendidikan masyarakat daerah tersebut yang kebanyakan lulusan SMP. Untuk itu, ia meminta agar diperhatikan betul pendidikannya. “Nanti kita minta di sini didirikan SMK Perikanan, yang penting ada proposalnya dan nanti kita usahakan,” terangnya.

Saat menanyakan siapa Ketua Posyandu di kampung tersebut, Ermalena kaget karena ketuanya adalah seorang laki-laki. “Baru kali ini saya menemukan ketua posyandunya berjenis kelamin laki-laki,”ujarnya. Untuk itu ia memberikan bingkisan berupa kipas angin dan kompor gas yang dapat digunakan oleh kader posyandu untuk memasak makanan bergizi saat posyandu diadakan.

“Untuk menghasilkan anak berkualitas, juga perlu diberi gizi yang cukup,” terangnya. Pembangunan desa tidak harus menunggu bantuan pemerintah saja, tetapi juga dari masyarakatnya juga. Ermalena juga memberikan bantuan berupa 50 sak semen untuk pembangunan masjid di kampung setempat. (uul/*).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here