BKIPM Mataram Siaga, Antisipasi Ikan Bawaan dari China

Ilustrasi ikan. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Mataram sudah siaga terhadap potensi setelah masuknya virus corona yang muncul pertama kali di Wuhan, China.

Virus mematikan ini telah menyebar hingga ke 14 negara di dunia. Diantaranya Jepang, Prancis, Australia, Amerika Serikat, Kanada, Nepal, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Taiwan, hingga Vietnam. Konon,  virus mematikan dapat berasal dari lendir maupun darah ikan yang terpapar.

Iklan

Mengantisipasi penularan virus corona tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh satuan kerja (Satker) di exit/entry point, baik bandara, pelabuhan, hingga pos lintas batas negara (PLBN). Surat Edaran Kepala BKIPM bernomor SE No.276/BKIPM/I/2020 tersebut berisi imbauan kewaspadaan terhadap penyakit pneumonia.

Kepala BKIPM Rina dalam surat edaran tertanggal 24 Januari 2020 tersebut meminta seluruh Satker BKIPM berkoordinasi dengan unsur-unsur Bea Cukai, Imigrasi, Kantor Kesehatan Pelabuhan, Badan Karantina Pertanian, Keamanan Bandara/Pelabuhan (CIQS), Otoritas Penerbangan dan Pelayaran, serta Perusahaan Penerbangan/Pelayaran setempat guna mencegah masuk dan tersebarnya penyakit tersebut.

Koordinasi juga dilakukan lintas kementerian dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perdagangan.

“Kita (BKIPM Mataram) juga sudah siaga setelah turunnya edaran dari pusat,” kata Kepala BKIPM Mataram, Suprayogi di ruang kerjanya, Jumat, 31 Januari 2020.

Suprayogi, didampingi Ni Luh Anggra Lasmika, Kasi Tata Pelayanan, NTB bukan termasuk daerah pintu masuknya komoditas perikanan impor.

“Tapi ada negara negara yang menjadi koneksi langsung China yang direct ke Lombok, misalnya Singapura, Malaysia. Kita antisipasi kedatangan orang dari China yang transit ke Singapura dan Malaysia lalu masuk bandara Lombok,” terangnya.

Karantina Ikan Mataram mengantisipasi barang bawaan berupa ikan jinjingan. Baik segar maupun yang siap konsumsi. “Ada dugaan, virus corona ini juga bisa ditularkan melalui ikan. Karena itu, kalau ada penerbangan internasional yang masuk dan ada yang bawa ikan, kita akan periksa langsung,” ujarnya.

BKIPM intens berkoordinasi untuk pengamanan di bandara dengan seluruh stakeholders di dalamnya. Pemeriksaan dimaksud untuk mengambil tindakan pemusnahan.

Suprayogi menegaskan langkah antisipasi dengan pemusnahan. Apalagi Indonesia dan China memiliki perjanjian kerjasama terkait ikan impor harus mendapat rekomendasi dari Karantina Ikan.

“Kalau ada ikan yang dibawa dari China, apapun bentuknya tanpa ada izin terlebih dahulu dari Karantina Ikan, sudah bisa dipastikan ilegal juga. Kalau ikan yang dibawa masuk secara resmi biasanya ada laporannya,” jelas Suprayogi.

Selain itu, petugas BKIPM di lapangan pun dalam melaksanakan tugas diminta untuk menatati rambu-rambu upaya pencegahan yang diterbitkan WHO, yaitu WHO advice for international travel trade in relation to the outbreak of pneumonia caused by a new corona virus in China. Salah satunya menggunakan makser standar, N95. (bul)