Bincang Gemilang, Investasi Sekarang, Demi SDM Gemilang di Masa Mendatang

0
Suasana Bincang Gemilang edisi perdana yang dihadiri Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah bersama para peraih Beasiswa NTB, di Mataram, Rabu, 5 Mei 2021.(diskominfotik ntb)

Mataram (Suara NTB) – Anak-anak di pelosok NTB dulu tidak berani bermimpi untuk bisa mendapatkan fasilitas studi di luar negeri. Kini, mereka telah menaklukkan banyak mimpi di berbagai negara. Bahkan menjadi yang terbaik di sana. Kisah mereka menjadi bukti bahwa orang NTB punya potensi yang baik, asalkan memiliki kepercayaan diri dan kesempatan untuk menjelajahi dunia.

Demikian benang merah Bincang Gemilang edisi perdana yang dihadiri Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah bersama para peraih Beasiswa NTB, di Mataram, Rabu, 5 Mei 2021. Selain mereka, hadir pula Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika NTB, Dr. Najamuddin Amy, Kepala LPP NTB, Irwan Rahadi, M.Sc.

IKLAN

Dalam kesempatan itu, Gubernur mengemukakan bahwa investasi yang dibutuhkan untuk membangun sumber daya manusia memang besar. Hal ini pula yang dialami NTB lewat program beasiswa NTB. Menurutnya, dengan membiayai studi anak-anak NTB ke luar negeri, Pemprov NTB mungkin harus mengorbankan dana yang sedianya terpakai untuk membiayai infrastruktur daerah.

Namun, pengorbanan itu menurutnya akan terkompensasi dengan lahirnya putra-putri daerah yang berwawasan dan memiliki jaringan internasional, serta cara pandang yang lebih baik. Kelak, sangat mungkin mereka akan memberikan kontribusi nyata yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan investasi yang sudah ditanamkan NTB kepada mereka.

Lagipula, ujar Gubernur yang akrab disapa Bang Zul ini, beasiswa di luar negeri sesungguhnya tidak semahal yang dipersepsikan. “Kalau kita caranya benar, beasiswa di Eropa itu, lebih murah daripada kita sekolah di Jakarta,” ujarnya.

Bang Zul menambahkan, dengan menjadi peserta program Beasiswa NTB, anak-anak NTB kini bisa memiliki pengalaman menaklukkan Yunani, Portugal, berkeliling Eropa dan lain sebagainya.

“Walaupun dari daerah seperti di NTB, ternyata di sana mereka jadi yang terbaik. Artinya apa? Nggak ada yang nggak mungkin bagi orang NTB. Kalau dia sudah bisa menjadi yang terbaik di sana, berarti dia nggak kalah sama orang bandung, nggak kalah sama orang Jakarta, Surabaya. Semangat itu yang mahal,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, sejumlah awardee pun menyampaikan pengalaman mereka selama menjalani studi dan menjadi peserta program beasiswa NTB.

Mia Rizkiana, salah seorang awarde beasiswa NTB batch pertama, mengutarakan betapa berharganya pengalaman yang ia raih melalui program ini.

Mia baru-baru ini telah meraih prestasi gemilang selama menempuh pendidikan Magister of İnternational Relations di Collegium Civitas, Warsaw di Polandia. İa meraih Rector’s Scholarship dan juga dinobatkan menjadi mahasiswa Terbaik di Collegium Civitas.

“Waktu itu saya diberangkatkan ke Polandia. Lima orang pertama yang diberangkatkan ke Polandia. Salah satunya saya. Alhamdulillah saya sudah menyelesaikan studi, master of international relations.  Waktu saya lulus kemarin, Alhamdulillah saya juga mendapatkan menjadi salah satu lulusan terbaik di kampusnya saya,”  ujarnya yang disambut tepuk tangan dari hadirin.

Mia menilai, program beasiswa NTB bukan hanya sebuah program menjadi milestone Pemprov NTB. Tapi ia juga berharap program ini bisa mendatangkan hal-hal baik.

“Mungkin efeknya tidak akan terlihat seperti membalik telapak tangan. Investasi yang dilihat itu, tidak seperti yang kita investasi di bisnis yang high risk high return, tetapi lebih ke investasi sumber daya manusia. Dan itu tidak hanya diasah bagaimana kita menikmati kelas. Bagaimana kita beradaptasi di sana, membangun networking di sana, bersama orang-orang yang mendapatkan international eksposure, itu yang mungkin tidak bisa didapatkan oleh anak-anak NTB sebelum adanya program beasiswa NTB ini,” pungkasnya.

Awardee lainnya, Nazmul Wathan dari Dompu juga mengutarakan apresiasinya atas program ini. Menurutnya, keterbatasan berbahasa Inggris seringkali menjadi kendala bagi anak-anak NTB yang ingin menempuh studi di luar negeri.

“Selama ini, kami hanya bermimpi ikut beasiswa, tapi tidak bisa karena tidak mampu bahasa Inggris. Tapi berkat beasiswa NTB, saya bisa ikut. (Saya berkuliah) tepatnya di University Utara Malaysia,” ujarnya.

Menurut Nazmul Wathan mengaku, setelah berhasil menempuh studi di Malaysia, dirinya dan anak-anak dari keluarga miskin di pelosok Dompu, kini berani bermimpi lebih tinggi. “Saya orang miskin, tidak punya apa-apa. Tapi saya diberikan kesempatan oleh Pak Gub, untuk pergi ke luar negeri, untuk dapat beasiswa NTB, dan kuliah S2 dan tidak pernah terlintas di pikiran saya.. Teman-teman kami di kampung, dulu bermimpi saja takut. Sekarang banyak sekali yang pergi S2, dan bisa bercerita tentang kuliahnya,” pungkas Nazmul. (aan)