Bertahan Hidup, Mengais Berkah dari Tumpukan Sampah

Mataram (Suara NTB) – Hidup di kota yang mulai tumbuh dan berkembang menjadi sebuah kota metropolis seperti Kota Mataram tentu memiliki tantangan tersendiri. Di tengah pembangunan yang begitu marak dan gedung-gedung tinggi bermunculan, di sudut-sudut yang jauh dari jangkauan, hidup warga yang bertahan hidup dengan pekerjaan seadanya, seperti memulung demi menuntaskan urusan perut di tengah biaya hidup yang semakin tinggi.

SUATU siang di TPS dekat jembatan Ampenan, Kelurahan Banjar, Misnah membuka sebuah bungkusan plastik hitam yang berisi sampah. Bungkusan plastik itu baru saja dibuang salah seorang warga ke TPS itu. Di dalam bungkusan plastik hitam itu, ia menemukan sampah plastik bekas air mineral kemasan dan beberapa lembar kertas. Setelah menyisihkan sampah gelas plastik dan kertas, Misnah kemudian memasukkan bungkusan plastik tersebut ke dalam kontainer.

Iklan

Setiap hari Misnah mangkal di TPS tersebut, menunggu para petugas sampah ataupun warga lainnya datang membuang sampahnya ke TPS itu. Pekerjaan sebagai pemulung telah dilakoni sejak lama. Dan itulah pekerjaan utamanya di samping sesekali waktu ia dipanggil jadi buruh cuci bagi warga yang membutuhkan jasanya. “Sejak dulu saya jadi pemulung. Ini jadi pekerjaan saya sehari-hari,” ujarnya ditemui Suara NTB.

Misnah ialah salah satu potret warga miskin yang tinggal di tengah kota. Ia merupakan warga Lingkungan Selaparang, Kelurahan Banjar.  Penghasilannya sebagai pemulung tak seberapa bahkan jauh dari kata mencukupi. Dari pagi hingga petang, terkadang ia hanya bisa mengumpulkan 2 kilogram sampah plastik. Satu kilogram dijual seharga Rp 1.500 atau dalam sehari rata-rata penghasilannya hanya Rp 3 ribu.

Namun agar hasil yang ia dapatkan lebih banyak, sampah yang berhasil dipungut dikumpulkan dan baru dijual kepada pengepul tiap pekan atau dua pekan. Biasanya saat menjual sampahnya ia mendapat Rp 50 ribu. Kendati hasil yang didapatkan tidak seberapa, namun pekerjaan itu tetap ia lakoni karena Misnah juga harus membiayai salah seorang anaknya yang baru duduk di bangku kelas dua SD. Memang diakui Misnah sekolah telah digratiskan, namun ia tetap mengeluarkan biaya untuk uang saku anaknya, termasuk juga membeli buku dan perlengkapan sekolah lainnya.

“Hidup ini susah. Memang katanya sekolah gratis tapi belum biaya buku dan sebagainya. Kalau cuma dengan hasil memulung ini, mana cukup,” katanya. Misnah menjadi orang tua tunggal bagi anak-anaknya karena suaminya telah meninggal dunia beberapa tahun silam. Sebenarnya upahnya lebih banyak saat menjadi buruh cuci. Sekali mencuci biasanya ia diupah Rp 25 ribu. “Kalau ada yang suruh nyuci saya pergi nyuci. Kalau memulung ini saja cuma berapa kita dapat.  Tapi sekarang jarang yang nyuruh,” kata dia.

Tak hanya Misnah yang mengais berkah dari tumpukan sampah di TPS itu. Sekitar 10 orang warga sekitarnya memulung sampah di TPS tersebut setiap hari, termasuk juga Inaq Suriati. Tiap ada gerobak sampah yang datang dari berbagai lingkungan, para pemulung yang berbekal keranjang dan pengait dari besi langsung mengerubunginya, berharap ada sampah-sampah plastik, kertas, maupun kardus dari gerobak tersebut.

“Dari dulu saya memulung. Sudah tahunan karena saya sudah ndak bisa lagi kerja berat,” ujarnya. Dari hasilnya menjual sampah, ia bisa membantu suaminya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Suaminya yang bekerja sebagai sopir itu kini sakit-sakitan dan penghasilannya tak menentu. (ynt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here