Bertahan di Pengungsian, Korban Banjir Sambelia Butuh Air Bersih

Korban banjir di Sambelia sedang membersihkan rumahnya dari lumpur sisa banjir, Senin, 24 Februari 2020.(Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Warga korban banjir di Kecamatan Sambelia hingga hari kedua pascabanjir bandang masih bertahan di tempat pengungsian di Musala Da’arul Qur’an Dusun Malempo Desa Obel-Obel. Langkah ini dilakukan untuk berjaga-jaga apabila terjadi banjir susulan. Sementara kondisi hingga, Senin, 24 Februari 2020, korban banjir bandang membutuhkan air bersih menyusul jaringan pipanisasi sepanjang tiga kilometer terputus.

Pantauan Suara NTB di lokasi banjir, para pengungsi korban banjir yang berasal dari Dusun Malempo dan Dusun Bentareng ini hanya bisa duduk dan tidur dengan beralaskan seadanya di tempat pengungsian. Masing-masing saling bahu-membahu untuk memenuhi kebutuhan satu sama lain, terutama anak-anak supaya tidak trauma akibat musibah yang terjadi. Di samping itu, bantuan dari berbagai pihak terus mengalir berupa beras, mi instan dan kebutuhan pokok lainnya.

Iklan

 “Alhamdulillah tidak ada masyarakat kita yang sakit. Hanya saja kita menghadapi krisis air bersih karena jaringan pipanisasi terputus,” terang salah satu tokoh masyarakat setempat, H. Padli.

Kepala Pelaksana BPBD NTB, H. Ahsanul Khalik, menyebutkan jumlah rumah yang rusak sebanyak empat unit, 1 rusak berat dan 3 rusak ringan. Selain itu, terdapat tiga titik tanggul pemukiman yang jebol dengan tiga kilometer jaringan pipanisasi air bersih masyarakat rusak dan hanyut, sehingga berdampak pada macet totalnya air bersih masyarakat. “Untuk korban jiwa, meninggal dan luka-luka tidak ada,” terangnya di lokasi banjir.

Diakuinya, pihaknya bersama instansi terkait lainnya akan mengupayakan supaya masyarakat secepatnya dapat kembali ke rumahnya masing-masing dan kembali beraktivitas seperti semula. Langkah ini penting supaya roda perekonomian masyarakat tetap berputar dengan tetap waspada. Sementara itu, dari pemerintah tetap memenuhi logistik masyarakat yang dibutuhkan saat itu.

Untuk perbaikan sarana prasarana yang rusak, mantan Penjabat Bupati Lombok Timur ini mengaku sudah berkomunikasi dengan Pemkab Lotim bahwa untuk perbaikan pipanisasi air bersih yang mengalami kerusakan akan ditangani oleh pemerintah provinsi. Sementara untuk perbaikan tanggul yang jebol menjadi tanggung jawab Pemkab Lotim. “Saat ini masih dihitung kebutuhan pipa yang dibutuhkan untuk secepatnya kita lakukan perbaikan,”terangnya.

Adapun jumlah masyarakat yang terdampak sampai saat ini sebanyak 81 KK yang rata-rata rumahnya terendam banjir. Khalik juga memastikan bahwa tidak ada RTG yang rusak. Untuk info cuaca sendiri, diakuinya selalu update dengan BMKG ZAM untuk diinformasikan ke pemerintah daerah hingga ke masyarakat.

Hal senada disampaikan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Urusan Logistik pada BPBD Lotim, Lalu Rusnan, jika penanganan dampak banjir dilakukan secara cepat dan terarah bersama TNI/Polri serta relawan. Selain dilakukannya pendistribusian logistik dan air bersih, dari Dinas Sosial bersama BPBD juga sudah mendirikan dapur umum. Termasuk berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan mengingat pengungsir terdiri dari orang tua dan anak-anak.

Wakapolres Lotim, Kompol. Bayu Eko Panduwinoto,SIK, mengungkapkan jika personel dari kepolisian sudah diterjunkan untuk membantu proses evakuasi kerusakan serta pembersihan rumah-rumah warga. Pihaknya juga sudah menerjunkan satu unit tanki air bersih sebagai wadah masyarakat berwudhu. Di samping itu, dari Polda NTB juga menerjukan satu unit mobil pengolahan air bersih untuk layak diminum oleh masyarakat. (yon)