Bersiap Produksi Massal, NTB Terbitkan Pergub Sepeda Listrik

Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah menggunakan sepeda listrik buatan anak-anak NTB. Untuk mendukung pengembangan sepeda listrik di NTB, Gubernur telah menerbitkan Pergub No. 27 Tahun 2020. (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) No. 27 Tahun 2020 tentang Sepeda Listrik Berbasis Baterai. Pergub yang mulai diundangkan 20 Mei 2020 tersebut untuk mendukung terbangunnya sistem lalu lintas dan angkutan jalan yang ramah lingkungan.

Pergub ini juga untuk mendorong penguasaan teknologi industri, rancang bangun sepeda listrik dan menjadikan NTB sebagai basis produksi sepeda listrik. ‘’Targetnya sepeda listrik buatan NTB  masuk e-katalog. Makanya kita bahas juga dengan Dinas Perhubungan dan PLN,’’ ujar Kepala Dinas Perindustrian (Disperin) NTB, Hj. Nuryanti, SE, ME dikonfirmasi Suara NTB di Kantor Gubernur, Selasa, 30 Juni 2020.

Iklan

Nuryanti menjelaskan, ketika pengembangan kendaraan atau sepeda motor listrik menjadi kebijakan Pemprov. Maka harus tersedia Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Sehingga pengembangan sepeda listrik juga dibahas bersama PLN.

Untuk produksi sepeda listrik, mantan Kepala Bidang Ekonomi Bappeda NTB ini mengatakan akan bertemu dengan IKM-IKM. Mana IKM yang memproduksi sparepart atau suku cadang, IKM yang merakit dan IKM yang memasarkan. ‘’Jadi sistem industrinya kita bangun,’’ terangnya.

Nuryanti mengatakan, pengembangan industri otomotif kendaraan listrik menjadi salah satu prioritas Pemprov NTB. Motor listrik akan menjadi satu-satunya alternatif industri masa depan di Indonesia bahkan dunia.

Sehingga untuk pengembangan sepeda listrik di NTB, Pemprov bersama PLN akan membuat kawasan bebas polusi. Di kawasan bebas polusi tersebut akan mewajibkan penggunaan kendaraan listrik.

Misalnya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Gili Trawangan, Gili Air, Gili Meno dan desa-desa wisata. ‘’Kita daerah wisata harus mengembangkan itu.  Biar unik dan juga  ramah lingkungan,’’ ucapnya.

Sebagai bentuk dukungan pengembangan sepeda listrik di NTB, Pemprov sedang memesan sebanyak 60 unit. Sepeda listrik buatan IKM-IKM NTB tersebut ditargetkan rampung sebelum 17 Agustus mendatang.

  Verifikasi Rumah Warga Korban Gempa Ditargetkan Tuntas Selama Tanggap Darurat

Nuryanti menjelaskan, kendala pengembangan sepeda listrik atau motor listrik di NTB karena memang suku cadang inti yang digunakan masih impor seperti dinamo dan baterai. Namun, sekarang pihaknya sedang melakukan riset bersama Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) untuk dapat membuat baterai untuk kendaraan listrik.

Direktur Science Technology and Industrial Park  (STIPark) NTB, M. Khairul Ihwan, MT mengatakan sudah ada sepeda listrik buatan IKM NTB yang pasarnya menembus luar negeri. Yaitu IKM Le-Bui (Lombok e-Bike Builder). Ia mengatakan IKM tersebut sudah banyak mendapat pesanan untuk pembuatan sepeda listrik dari luar negeri.

‘’Itu sekarang dibikin kira-kira kalau produksi massal seperti apa. Aturan-aturannya seperti apa biar bisa cepat. Karena dia sudah terbentuk pasarnya, orang banyak pesan sekarang. Dia sudah empat tahun, sekarang generasi keenam,’’ jelasnya.

Karena belum memiliki workshop dan masih menyewa, Pemprov NTB melalui STIPark akan memfasilitasi. Dengan menyediakan tempat di STIPark dan peralatan yang dibutuhkan.

Sepeda listrik Le-Bui buatan NTB tersebut harganya dikisaran Rp15 – 50 juta. Jika dilakukan produksi massal, kata Ihwan, maka harga bisa turun berlipat-lipat.

‘’Untuk produksi massal harus disupport oleh peralatan dan permesinan. Seperti mesin potong, mesin lipat dan sebagainya. Di STIPark baru ada mesin bubut dan mesin tekuk. Alat bantu produksinya nanti kita akan bikin sendiri,’’ pungkasnya. (nas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here