Bersaing dengan 171 Perwakilan dari 15 Negara, Seniman NTB Raih Juara Terbaik III

Saparul Anwar ketika melukis (Suara NTB/ist)

Selong (Suara NTB)-Sebanyak 171 seniman dari 15 negara terlibat dalam event International Visual Art Exhibition Multi Frame #2 yang digelar Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Kegiatan bertajuk “Bringing Diversity into Harmony in Virtual World” itu digelar secara daring melalui Zoom Cloud Meeting, akhir November lalu. Seniman dari 15 negara di antaranya Malaysia, Meksiko, Kanada, Armenia, Jepang, dan juga Indonesia, memamerkan karya seni terbaiknya di hadapan pengunjung dan para kurator.

Lebih membanggakan lagi, salah satu seniman asal NTB yang mengikuti ajang tiga tahunan itu berhasil meraih juara terbaik III. Dia adalah Saparul Anwar. Pria asal Lendang Nangka Lombok Timur ini patut diapresiasi dan ditiru para seniman lainnya di NTB.

“Mungkin para kuratornya itu mempunyai interpretasi masing-masing jadi mereka berhak menilai apa yang dia bayangkan dalam gambar tersebut dan semakin banyak interpretasi semakin kaya juga wacana seni rupa dalam karya tersebut,” ungkap Saparul Anwar, mengomentari hasil karya seninya itu.

Para kurator yang dihadirkan FSRD UNS untuk menilai dan mengkritisi setiap karya seni yang dipamerkan, yaitu Dr. Shamsu Mohamad dari Universiti Sains Malaysia (USM), Prof. Setiawan Sabana dari Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Helena Hoskova dari Republik Ceko.

“Itu event trinale multi frame jadi acara 3 tahun sekali yang bertemakan “bringing diversity into harmony in virtual world”. Jadi karena pandemi acara itu berlangsung secara virtual dan lewat zoom meeting,” paparnya.

Lebih jauh pria yang akrab disapa Phalonk itu menceritakan judul karya seni yang diikutsertakan dalam event bergengsi tersebut. Mengambil judul Romance, lukisan itu menceritakan tentang sepasang kekasih yang lagi berkencan di sebuah tempat sambil menunggu pesanan pizza yang belum diantar.

Tanpa pernah membayangkan, hasil karya seni alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini berhasil menarik hati para kurator. Tentu saja bagi Phalonk, apa yang diraihnya merupakan kado istimewa di penghujung tahun 2020 ini.

Melalui pameran ini juga pada dasarnya sebagai penghargaan individu bagi artis yang berpartisipasi sebagai respon dari kondisi terkini yang menginterpretasikan kemajuan di bidang visual media. (dys)